Senin, 24 April 2017

Penderita autis hindari makanan berpengawet

id autisme, autus, penderita, pengawet, makanan, hindari
Penderita autis hindari makanan berpengawet
Ilustrasi - Sejumlah pengunjung menilik salah satu makanan vegetarian pada Vegan Fiesta di Gedung Sekolah Maitreyawira Palembang, Sabtu (17/8). (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
...Pengaturan pola makan bagi anak autis sangat penting untuk diperhatikan, karena berbagai makanan yang banyak dikonsumsi anak-anak saat ini banyak memicu terjadinya autisme...
Banjarmasin (ANTARA Sumsel) - Salah seorang terapis di Pusat Layanan Autis Kalimantan Selatan Indah Meliana mengingatkan agar orang tua yang memiliki anak yang mengalami kelainan sistem syaraf itu selalu memerhatikan pola makannya dengan menghindari yang berpengawet.
         
Menurut Indah di Banjarmasin, Kamis, pengaturan pola makan bagi anak autis sangat penting untuk diperhatikan, karena berbagai makanan yang banyak dikonsumsi anak-anak saat ini banyak memicu terjadinya autisme.
         
"Jadi orang tua yang menitipkan anaknya di pusat layanan autis (PLA) ini, supaya ikut menjaga di rumah, terutama pola makan atau menjaga diet bagi anak," katanya.
         
Penderita autis, kata dia, tidak baik mengonsumsi makanan sejenis cokelat, es krim, makanan cepat saji, makanan ringan, yang mengandung bahan pengawet atau pemanis buatan.
         
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, di mana gejalanya sudah timbul sebelum anak tersebut mencapai usia tiga tahun.
         
Penyakit itu, tambah dia, disebabkan oleh gangguan neurobiologis yang memengaruhi fungsi otak sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
         
Autisme dapat terjadi pada siapa saja tanpa pengecualian, namun tidak semua individu yang mengalami hal itu memiliki kecerdasan (IQ) rendah. Bahkan tidak sedikit yang mencapai pendidikan tinggi dan memiliki keahlian yang luar biasa di bidang tertentu seperti melukis, matematika, bidang musik dan sebagainya.
         
Di Kalimantan Selatan, penderita autis tergolong cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat Gubernur Kalsel Rudy Ariffin membangun sebuah pusat penanganan bagi penderita autis.
         
Berikut ini ciri-ciri gejala anak autis, yang sebaiknya para orangtua menghubungi tim ahli jika menemukan lebih separuh dari gejala berikut yakni sulit bersosialisasi dengan anak lainnya, tertawa atau tergelak tidak pada tempatnya, tidak pernah atau jarang sekali kontak mata.
         
Selain itu, tidak peka terhadap rasa sakit, dan lebih suka menyendiri atau sifatnya agak menjauhkan diri.
         
Ciri lain adalah suka benda-benda yang berputar atau memutarkan benda, ketertarikan pada satu benda secara berlebihan, hiperaktif atau melakukan kegiatan fisik secara berlebihan.
         
Namun ada juga penderita malah tidak melakukan apapun atau terlalu pendiam, dan kesulitan dalam mengutarakan kebutuhannya, suka menggunakan isyarat atau menunjuk dengan tangan daripada kata-kata.
         
Kemudian, menuntut hal yang sama, menentang perubahan atas hal-hal yang bersifat rutin, tidak peduli bahaya, menekuni permainan dengan cara aneh dalam waktu lama, dan echolalia (mengulangi kata atau kalimat, tidak berbahasa biasa).
         
Ciri lainnya, yakni tidak suka dipeluk atau disayang atau menyayangi, tidak tanggap terhadap isyarat kata-kata, bersikap seperti orang tuli, tidak berminat terhadap metode pengajaran yang biasa.
         
Selain itu tentrums atau suka mengamuk, memperlihatkan kesedihan tanpa alasan yang jelas, serta kecakapan motorik kasar atau motorik halus yang tidak seimbang, seperti tidak mau menendang bola namun dapat menumpuk balok-balok.

Editor: Yudi Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2013

Baca Juga