PALI kembangkan industri kerajinan batik

id batik, songket, kain, kerajinan
PALI kembangkan industri kerajinan batik
Batik (FOTO ANTARA)
Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, (ANTARASumsel) - Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan mengembangkan industri rumahan kerajinan batik dengan mengirimkan 12 kader PKK untuk mengenyam pelatihan singkat di Jambi.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Sri Kustina Heri Amalindo di PALI, Selasa, mengatakan, sebanyak 12 orang kader PKK ini merupakan penjahit asal Desa Raja Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI yang bergerak pada usaha menjahit pakaian.

"Keahlian menjahit dan bordir yang menjadi kepandaian para ibu-ibu di desa ini harus terus dikembangkan. Untuk itu perlu diberi pelatihan agar cara membatiknya lebih baik lagi," kata dia.

Kota Jambi dipilih karena kerajinan batik khas cukup berkembang baik di sana karena terdapat sejumlah sentra kerajinan batik.

"Harapannya para Ibu rumah tangga bisa memberikan manfaat ekonomi lebih banyak bagi keluarganya, dan bagi lingkungannya. Sepulang dari Jambi, diharapkan menularkan kepandaiannya dengan ibu-ibu PKK lainnya," kata dia.

Sementara itu, Bupati PALI Heri Amalindo mengatakan pemkab berencana mengembangkan sentra kerajinan kain untuk meningkatkan derajat ekonomi masyarakat.

Menurutnya sentra ekonomi ini juga harus ditunjang dengan keberadaan koperasi agar usaha ini memiliki keberlangsungan.

"Koperasi dinilai sangat cocok dengan karakter masyarakat Indonesia karena berasaskan kekeluargaan, model ekonomi ini juga sudah teruji dan tahan terhadap krisis," kata Heri.

Belum lama ini, Pemerintah Kota Palembang menggandeng Bank Indonesia untuk membina 179 pengrajin songket yang selama ini kerap terkendala berbagai persoalan dalam mengembangkan usaha.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Palembang Sahrul Hefni mengatakan upaya ini merupakan cara lain pemerintah untuk melestarikan pekerjaan membuat songket mengingat para pengrajin yang terdata sudah berusia lanjut.

Editor: Dolly Rosana

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga