Senin, 23 Oktober 2017

Kluster produk lokal perlu dibuat di perkotaan

id produk lokal, songket, pengamat ekonomi unsri, didik susetyo, kluster produk lokal, umkm, ikm, ukm, pempek
Kluster produk lokal perlu dibuat di perkotaan
Pelaku UKM menunjukkan salah satu produk sulaman angkinan khas Palembang pada gelaran Sumsel Expo di Pelataran Benteng Kuto Besak Palembang, Rabu (20/5). (ANTARA FOTO/ Feny Selly/15/Den)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Kluster beragam produk lokal kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah perlu dibuat di perkotaan untuk menjaga kegiatan ekonomi masyarakat tetap eksis dalam jangka panjang, kata pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya, Prof Didik Susetyo.

"Apa yang dikembangkan di kota-kota lain yakni membangun kluster seharusnya juga dikembangkan di Palembang. Saat ini, memang sudah ada kluster pengrajin songket dan ukiran, dan kuliner seperti pempek dan kemplang, tapi belum benar-benar mencapai tujuan," kata Didik di Palembang, Senin.

Menurutnya, kluster ini hanya sebatas berada dalam satu lokasi atau belum mencapai tujuan seperti menjaga kepastian tenaga kerja, stok, dan kestabilan harga.

"Saat ini masih seperti sendiri-sendiri padahal dibuatkan di satu tempat itu gunanya untuk menjaga keberlangsungan. Jika tidak, seperti cerita kampung sepatu Cibaduyut di Bandung yang saat ini sudah tidak eksis lagi," kata dia.

Dalam kluster produk ekonomi lokal ini diharapkan barang dapat diproduksi dengan jumlah banyak sehingga bisa menekan biaya, dan harga jual lebih murah.

Dengan begitu, maka produk ekonomi lokal Sumsel dapat memiliki daya saing, selain dapat juga dimanfaatkan untuk lokasi pariwisata.

Apalagi pada 2018, Sumsel akan menjadi tuan rumah Asian Games ke-18.

"Saat banyak wisatawan datang ke Palembang, apakah sektor ekonomi lokal ini sudah siap untuk memenuhi permintaan. Ini yang menjadi pertanyaan, karena jika tidak, sama saja membuang peluang yang ada," kata dia.

Ketua Komunitas Wirausahawan Muda Kain Tenun, Athoillah mengatakan dengan terbentuknya komunitas maka harga di pasaran dapat terjaga dan stok juga tersedia untuk permintaan dalam jumlah besar.

"Pengrajin sudah sepakat dengan harga jual, sehingga tidak ada yang menjual lebih rendah atau lebih tinggi dari kesepakatan bersama. Dengan begitu, harga jual dapat terjaga di pasaran," kata Athoillah.

Namun, ia tidak menyangkal bahwa masih banyak pedagang kain tenun yang tidak bergabung dalam komunitas karena membuka usaha di lokasi berbeda.

Sementara ini, Pemkot Palembang sudah membuat kluster songket di kawasan Tanga Buntung, kluster ukiran khas Palembang di kawasan Masjid Agung, dan kluster kain tenun tajung dan blongsong di kawasan Tuan Kentang.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga