Kamis, 19 Oktober 2017

Suwardi, petani padi organik berprestasi asal Lahat

id suwardi, medco e&p, petani, sir organik, sawah, csr medco
Suwardi, petani padi organik berprestasi asal Lahat
Suwardi menerima penghargaan dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Jakarta pada Agustus 2016 (dok. Medco E&P Indonesia/I016)
....Cibiran dan kalimat-kalimat yang terkesan menyepelekan sempat menjatuhkan mental Suwardi....
"Saat ini saya merasa lebih berguna dari semua saudara-saudara saya," ucap Suwardi sambil tersenyum.  Itulah jawaban yang diberikan dari seorang petani binaan PT Medco E&P Indonesia (Medco E&P) di Desa Marga Mulya SP2. Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.  

Perubahan yang dia rasakan dalam hidupnya semenjak menjadi seorang petani "System of Rice Intensification" (SRI)  Organik.

Dikenal dengan panggilan Wardi, bapak yang lahir pada 2 juli 1973 ini, mengaku menjadi petani merupakan jati diri yang telah lama dicarinya. Bertahun-tahun bekerja menjadi supir, akhirnya bapak ini banting setir menjadi seorang petani. Profesi ini mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seorang petani ulung di desanya.

Baginya petani dirasakannya lebih nyaman dari pada hidup di  jalan raya walaupun ia  harus mandi keringat di sawah.

Diawal perjuangannya sebagai petani, dia bertani dengan sistem konvensional. Sistem ini mengandalkan pupuk kimia dan pestisida dalam mengontrol  sawahnya.  Dia harus menyiapkan pupuk tiga kwintal, obat hama, bibit tanam yang harus dibeli.

Sementara hasilnya, tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkannya. Hal ini dirasakan cukup merepotkan karena modal yang diperlukan cukup besar untuk membeli pupuk kimia dan lainnya.

Perkenalan Suwardi dengan metode organik akhirnya mengawali cerita suksesnya. Ceritanya diawali saat ia mencuri ilmu ke desa tetangga yang sebelumnya telah diajarkan oleh Medco E&P tentang cara bertanam Padi SRI organik.

Awalnya dia mengakui bahwa ketertarikannya di organik tidaklah terlalu besar. Hal ini karena pikirannya mengatakan bahwa sawahnya tidak akan cocok diperlakukan dengan metode tersebut.

Namun hal ini berubah ketika Medco E&P kala itu mulai masuk ke desanya. Dengan aktif dia mengikuti semua pengajaran dan sekolah lapangan yang diselenggarakan. Sampai akhirnya dia mengiklaskan dirinya untuk benar-benar berkomitmen di pertanian ini bersama dengan kelompok tani di desanya yang berjumlah 32 orang.

Mereka diajarkan oleh Medco E&P  apa itu ekologi tanah, bagaimana menghidupkan ekosistem, bagaimana memanfaatkan sumber daya alam menjadi teknologi pengembangan tanaman berupa kompos dan Mikro Organisme Lokal (MOL) bahkan sampai bagaimana menyebarkan ilmu ini kepada masyarakat lainnya.

                                                     Manfaat Pertanian Organik
Banyak cobaan yang dirasakan dan kelompoknya di awal-awal pembelajaran.  Cibiran dan kalimat-kalimat yang terkesan menyepelekan sempat menjatuhkan mental Suwardi. “Dasar petani gila, nanam 10 bibit saja belum tentu idup semua, ini malah tanam satu”.

Begitu sebuah  sindiran kenang bapak Suwaedi ini bercerita. Hal ini tentu saja dikarenakan metode SRI organik hanya menanam satu bibit untuk satu lobang tanam. Bahkan ada yang menuduh bahwa dia hanya memanfaatkan orang-orang untuk menggarap demplot percontohan yang ada di sawah miliknya.

Namun semangat itu bisa tetap terjaga berkat komunikasi dan kepercayaan diri dari kelompok mereka dan juga dorongan moral dari tim pemberdayaan PT Medco E&P Indonesia.
Manfaat Pertanian Organik Perlahan, Suwardi dan kelompoknya mulai benar-benar merasakan betapa hebatnya metode pertanian SRI yang diajarkan oleh Medco E&P.  

Selain hemat air dan murah, program ini benar-benar menyehatkan lingkungan. Melalui semua tahapan pembelajaran, Saat ini dia sudah menjelma menjadi seorang petani yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus mampu meningkatkan pendapatnya.
 
Terbukti dari hasil panen yang jauh meningkat dibandingkan dengan sistem konvensional dan juga penghematan yang dilakukan karena tidak perlu lagi membeli pupuk dan pestisida kimia. Masyarakat yang tadinya mencibir pun perlahan mulai mengikuti pola yang dilakukan oleh para petani organik yang diketuai bapak Suwardi ini.

Merasakan manfaat Program ini yang begitu besar, dia lalu menjalin komunikasi dengan Dinas Pertanian Lahat. Akhirnya dia bisa menghadirkan Bupati Lahat Saifudin Aswari Riva’i dalam tanam perdana.

Dukungan dari pemerintah pun mulai berjalan, dimulai dari pemberian lima buah bajak dan petani ini diberi kepercayaan untuk mengelola lahan tani milik bupati yang menghasilkan panen raya sampai 9 ton/ Ha. Padahal sebelumnya panen hanya sanggup memproduksi 2,5 ton/Ha.

Kini, kerja kerasnya telah berbuah manis, dia terpilih sebagai salah satu penerima Penghargaan Tingkat Nasional Tahun 2016 sebagai Petani Berprestasi dari Desa Marga Mulya, Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat.

Suwandi pun diundang ke Jakarta oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertanian Republik Indonesia, pada 15 – 19 Agustus 2016 untuk bertemu dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Jakarta.

Selain peningkatan pola pikir, pergaulan dan pengalaman, secara ekonomi pun beliau dan kelompoknya  saat ini sudah mengalami peningkatan pendapatan dan juga perbaikan atas aset-aset yang dia miliki.

Ke depannya beliau bercita-cita meregenerasi ilmu organik ini untuk diturunkan ke generasi - generasi petani muda di desa nya  agar  desanya tetap dikenal sebagai desa pertanian organik. Salah satu caranya adalah Suwardi akan menjajaki terbangunnya tempat pelatihan dan pembelajaran bagi petani-petani yang ingin belajar pertanian organik. (Rel/I016)
 

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga