Sabtu, 22 Juli 2017

Gempa Pidie Aceh tidak berpotensi tsunami

id gempa, pakar, tsunami, gempa aceh, pidie aceh
Gempa Pidie Aceh tidak berpotensi tsunami
Warga berjalan di atas bangunan ruko yang runtuh akibat gempa 6.5 SR, di Meuredu, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/2016). Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya diguncang gempa 6.5 SR yang berpusat pada 5.19 LU-96.36 BT, 18 kilometer timur laut Kabupaten Pidie Jaya atau 121 km tenggara Kota Banda Aceh pada
Yogyakarta (Antarasumsel.com) - Pakar gempa dari Unversitas Gadjah Mada, Gayatri Indah Marliyani berpendapat gempa bumi 6,5 skala Richter di wilayah Pidie Jaya, Aceh, Rabu pukul 05.03 WIB merupakan fenomena pergeseran sesar aktif, dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dengan pergerakan sesar yang bersifat mendatar, dan terjadi di kedalaman yang dangkal, maka gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, ujar dia di Departemen Teknik Geologi UGM, Yogyakarta, Rabu.

Meski demikian, gempa yang terjadi kali ini bersifat merusak, terutama karena kedalamannya dangkal dan terjadi di kawasan permukiman padat penduduk.

Kerusakan banyak terjadi disebabkan jarak antara pusat gempa dengan permukaan sangat dekat dengan tingkat energi besar yang dilepaskan.

"Akibatnya, ketika mencapai permukaan gelombang dengan energi yang besar ini bersifat merusak," kata dia.

Meskipun tidak berpotensi tsunami, ia meminta masyarakat untuk tetap waspada dan mengantisipasi gempa susulan kekuatannya lebih kecil dan akan terus menurun.

Menurut dia, hal utama yang harus dilakukan adalah memeriksa kondisi bangunan, sebab jika sudah rusak atau retak parah, getaran gempa yang kecil pun mampu merobohkan bangunan.

Mengingat Indonesia merupakan wilayah rawan gempa bumi, Gayatri menekankan pentingnya upaya mitigasi bencana gempa.

Salah satu langkah yang perlu segera dilakukan adalah memetakan jalur sesar atau patahan aktif di seluruh kawasan Indonesia, terutama di kawasan padat penduduk atau perkotaan.

"Indikasi bahwa sesar ini aktif adalah adanya kegempaan di daerah sesar tersebut. Ketika sesar bergerak dan menimbulkan gempa, sesar ini akan cenderung bergerak lagi di masa yang akan datang," ujar Gayatri.

Oleh karena itu, tambah dia, perlu dilakukan penelitian geologi secara mendalam tentang sejarah kegempaan di sepanjang sesar tersebut, yaitu penelitian untuk menyingkap sejarah gempa masa lalu, jauh melampaui batas rekaman sejarah.

"Selain itu, setelah terjadi gempa sebaiknya langsung melakukan pemetaan. Pemetaan setelah gempa penting dilakukan untuk mengetahui potensi gempa pada masa mendatang," imbuh Gayatri.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga