Rabu, 20 September 2017

Catatan Akhir Tahun - LRT Palembang dan bonus ekonomi Sumatera Selatan

id lrt, pembangunan lrt
Catatan Akhir Tahun - LRT Palembang dan bonus ekonomi Sumatera Selatan
Pembangunan infrastruktur Light Rail Transit (LRT) atau kereta ringan di Palembang, Sumatera Selatan sepanjang 23,5 km sudah mencapai 22,7 persen, dan terus dikebut agar selesai sebelum pelaksanaan Asian Games 2018.(Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/dol/16/Parni)
....Pembangunan LRT merupakan salah satu cara yang dipilih pemerintah untuk mengatasi kemacetan yang diperkirakan akan terjadi di Kota Palembang pada 2019....
Palembang (Antarasumsel.com) - Kota Palembang, Sumatera Selatan akan memiliki moda transportasi massal modern pertama di Indonesia berupa jalur kereta api dalam kota atau dikenal dengan sebutan LRT (Light Rail Transit) yang rencananya beroperasi pada 2018.

Pembangunan LRT sudah dimulai pada akhir tahun 2015 oleh PT Waskita Karya (Persero), untuk mengejar target selesai sebelum pelaksanaan Asian Games XVII yang akan dimulai pada 18 Agustus 2018.

Meski LRT sejauh 22,4 km membentang dari kawasan bandara hingga ke Kompleks Olahraga Jakabaring masih dalam tahap pembangunan tapi provinsi berpenduduk sekitar 8 juta jiwa lebih ini sudah menerima dampak positifnya dari sisi ekonomi.

Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah VII Sumatera Selatan Hamid Ponco Wibowo mengatakan dampak itu terlihat nyata dari pertumbuhan ekonomi yang mampu dibukukan provinsi ini sejak awal tahun 2016.

Daerah ini seharusnya mengalami keterpurukan ekonomi akibat jatuhnya harga komoditas karet, sawit dan mineral batu bara justru mampu menjaga pertumbuhan ekonomi lantaran adanya pembangunan infrastruktur yang cukup masif.

"Seharusnya Sumsel tidak bisa menyentuh pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,0 persen. Namun, faktanya pada triwulan III/2016 mampu membukukan 4,92 persen," kata Hamid.

Karena aktivitas ekonomi yang sedang berlangsung tersebut, BI pada triwulan IV/2016 memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumsel akan menembus 5,0 persen atau sesuai proyeksi rata-rata nasional yakni 5,0-5,2 persen.

Ia mengatakan, Sumatera Selatan sebenarnya bisa saja mencapai angka yang lebih baik, hanya saja pada pertengahan tahun atau semester II terdapat hal yang di luar perkiraan yakni pengurangan dana bagi hasil migas.

Kondisi ini sangat mempengaruhi karena sejauh ini sektor konsumsi di Sumsel masih mendominasi yakni mencapai 65 persen dari PDRB sehingga ketika terjadi pengurangan dana bagi hasil migas sekitar Rp900 miliar.

Namun, jika dibandingkan daerah lain yang juga penghasil migas di Indonesia, maka sejatinya Sumsel lebih beruntung karena derasnya aliran dana APBN untuk pembangunan sejumlah infrastruktur Asian Games telah menggerakkan beragam sektor lain, seperti perbankan, perdagangan ritel, industri pengolahan, jasa, hingga UMKM.

Untuk pembangunan LRT ini, pemerintah pusat mengucurkan dana Rp 12,4 triliun dengan rincian sebanyak Rp 11,2 triliun untuk pembangunan fisiknya, sedangkan dana Rp 1,2 triliun diproyeksikan untuk rangkaian gerbong dan lokomotif serta Depo.

Beruntung bagi Sumsel, di tengah pengetatan APBN, khusus untuk pembangunan LRT ini pemerintah pusat sudah menjamin ketersediaan dananya karena Kota Palembang akan melakukan tugas negara sebagai tuan rumah Asian Games bersama DKI Jakarta.

Begitu juga dengan untuk pembangunan jalan tol Palembang-Inderalaya Rp4 triliun, Jembatan Musi IV dan Jembatan Musi VI, dan sejumlah jembatan layang.

Sejauh ini pekerjaan pembangunan LRT telah mencapai 23,4 persen atau sedikit menyimpang dari target dengan selisih kurang dari 1,0 persen.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Nasrun Umar mengatakan hal itu tidak menjadi persoalan besar karena deviasi tidak mencapai satu persen.

Namun untuk memastikan keandalan pekerjaan, pemerintah sudah menurunkan konsultan asal Jepang untuk mendampingi PT Waskita Karya (Persero).

"Patut disyukuri, pekerjaan krusial sudah dilalui yakni pemancangan tiang. Tinggal lagi, memancang tiang di Sungai Musi, jika ini kelar, baru sedikit lega, kemudian ke fase berikutnya yang tidak juga bisa dikatakan mudah," kata Nasrun.

Perbankan
Sebanyak enam bank dan lembaga keuangan menyalurkan pembiayaan sindikasi kepada PT Waskita Karya (Persero) Tbk senilai Rp 4,59 triliun untuk pembangunan LRT Palembang. Adapun pinjaman tersebut diberikan dengan jangka waktu hingga Desember 2018 dan bunga mendekati single digit.

Keenam bank tersebut yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (BTMU) Indonesia, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB), dan PT BPD Sumatera Selatan Bangka Belitung (Sumsel Babel), sedangkan lembaga keuangan yang terlibat yakni PT Sarana Multi infrastruktur (SMI).

Adapun BNI bertindak sebagai original mandated lead arranger dan book runner memberikan komitmen pinjaman senilai Rp 1,99 triliun, BTMU Indonesia sebagai mandated lead arranger sebesar Rp 750 miliar.

Kemudian BRI, SMI, dan BJB sebagai arranger masing-masing sebesar Rp 500 miliar, serta BPD Sumsel Babel sebagai partisipan sebesar Rp 350 miliar.

Bukan hanya bank bermodal besar saja yang kebagian berkah pembanguan LRT ini, bank yang merambah sektor usaha menengah dan UMKM juga kebagian kue mega proyek ini.

Salah satunya, Bank Panin Syariah Cabang Palembang yang telah menyalurkan kredit ke sejumlah kontraktor di Palembang yang berhubungan dengan penyaluran barang dan jasa proyek LRT.

Kepala Cabang Bank Panin Syariah Palembang Kms Afandi mengatakan kucuran dana pembiayaan berkisar Rp2-Rp10 miliar ke pengusaha kontraktor.

"Meski perusahaan kami baru beroperasi di Juli tahun ini, tapi sudah dapat meraih nasabah `besar` berkat adanya LRT," kata dia.

Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri (BSM) Palembang, Kemas Erwan mengatakan sektor pembiayaan infrastruktur menjadi bidikan industri perbankan di Sumsel karena sangat menjanjikan hingga tiga tahun ke depan.

Sejak awal tahun, perusahaannya telah menerima beberapa pengajuan pembiayaan infrastruktur dengan nilai di atas Rp100 miliar, di antaranya pengajuan pembiayaan dari sejumlah perusahaan transportasi yang menjual jasa pengangkutan pasir dan tanah melalui sungai.

"Umumnya mereka meminta pembiayaan untuk pembelian tongkang karena harganya yang relatif mahal. Untuk tongkang dengan panjang 100 feet harganya berkisar Rp2 miliar," kata dia.

Pembangunan LRT merupakan salah satu cara yang dipilih pemerintah untuk mengatasi kemacetan yang diperkirakan akan terjadi di Kota Palembang pada 2019.

Kapasitas jalan-jalan utama sudah tidak mampu lagi menampung arus tranportasi harian yang pertumbuhannya mencapai 6 kali lipat per tahun.

Solusi pembanguan LRT juga ini diterapkan di enam kota lain di Indonesia, di antaranya, Jakarta, Surabaya, Semarang, Makassar, Medan.

Bagi Sumsel infrastruktur LRT ini bukan sekadar mengatasi kemacetan tapi jadi stimulus menuju target menjadi gerbang ekonomi di Sumatera.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga