Senin, 23 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun: Mewujudkan KEK Tanjung Api-Api

id tanjung api-api, investasi, kek, kawasan ekonomi khusus
Catatan Akhir Tahun: Mewujudkan KEK Tanjung Api-Api
Aktivitas di Pelabuhan Penyeberangan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api Api Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Foto Antarasumsel.com/Evan Ervani/16)
....Jika dibandingkan Thailand dan Vietnam, justru Indonesia (Sumsel) yang akan lebih menguntungkan karena Pelabuhan Tanjung Api-Api ini sangat strategis....
Palembang (Antarasumsel.com) - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2016 menargetkan penuntasan pembebasan lahan tahap pertama Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api.

Namun, mewujudkan target pembebasan lahan seluas 217 hektare bukanlah pekerjaan mudah karena hingga akhir 2016 hanya terealisasi 62 hektare.

Meski demikian, Sumsel tetap menjaga api semangat mendirikan KEK Tanjung Api-Api yang diharapkan menjadi solusi stagnasi ekonomi selama puluhan tahun, yakni sebatas daerah penghasil bahan metah.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Selatan Ekowati Retnaningsih mengatakan pemprov sangat optimitis bakal menyelesaikan pembebasan lahan tahap pertama karena nilai dari Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP) telah didapatkan sehingga dapat dilanjutkan dengan pembayaran kepada pemilik lahan.

Untuk mekanisme pembayaran, pemprov telah menyiapkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sekitar Rp38,25 miliar.

Namun, diakui tak semua lahan yang tercover oleh anggaran tersebut karena terdapat kekurangan dana sekitar Rp950 juta yang akan diupayakan pada APBD 2017.

Kekurangan dana ini terjadi dikarenakan pengalokasian dana tersebut dilakukan pada awal tahun 2016. Sedangkan, hasil kajian dari KJPP baru dikeluarkan menjelang akhir tahun 2016.

"Kita tidak tahu pasti hitung-hitungannya, tapi memang hal seperti ini sering terjadi. Karena itu, untuk menutupi kekurangan tersebut maka akan dialokasikan pada 2017 mendatang," ucapnya.

Dana sebesar Rp38,25 miliar itu saat ini sudah menetap di rekening yang dikelola Disperindag Sumsel dan akan segera ditransfer ke masing-masing rekening atas nama pemilik lahan itu.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin tidak membantah bahwa persoalan penyediaan lahan menjadi masalah utama dalam pendirian KEK Tanjung Api-Api yang membutuhkan sekitar 2.030 hektare.

Meski dihadapkan kendala, tapi pemprov tetap berjuang mewujudkan KEK TAA sejak mendapatkan persetujuan pemerintah pusat sebagai salah satu proyek strategis nasional pada 2015.

"Tidak benar jika KEK TAA ini hanya sebatas rencana-rencana saja, yang bicara itu mereka yang tidak mengerti bagaimana saya memperjuangkan agar KEK ini terealisasi," ujar Alex.

Alex mengatakan hingga kini TAA tetap diperjuangkan sebagai kawasan khusus dengan cara sebanyak-banyaknya menggandeng investor.

Sumsel sangat percaya diri bahwa KEK TAA ini memiliki nilai tawar karena lokasinya yang sangat strategis di kawasan Asia dan Kota Palembang akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

KEK TAA ini rencananya akan disertai pelabuhan yang secara tidak langsung akan mengancam keberadaan pelabuhan di Singapura yang selama ini menjadi gerbang perdagangan Asia.

Namun, Alex tidak menampik bahwa untuk mewujudkannya bukan perkara mudah karena sistem dalam pemerintahan terkadang membutuhkan waktu untuk mengolkan sebuah proyek.

"Contohnya kilang minyak. Menteri sudah setuju akan dibangun di TAA, tapi ini baru sebatas persetujuan dulu, masih ada proses yang harus dilalui sesuai dengan tata kelola pemerintahan," ujarnya.

Demikian pula dengan proyek-proyek lainnya, seperti pembangunan pembangkit listrik untuk mendukung berdirinya KEK TAA ini.

Saat ini KEK Tanjung Api-Api dalam proses penyediaan lahan sembari mereklamasi Tanjung Carat, Banyuasin, seluas 3.000 hektare yang akan dijadikan dermaga samudera dengan bisa disandari kapal berkapasitas 7.000 DWT.

KEK TAA direncanakan memiliki luas 4.045 hektare yang terdiri atas reklamasi Tanjung Carat 2.015 hektare dan lahan darat 2.030 hektare.

Pada kawasan itu akan dikembangkan industri meliputi "coal gasification", pembangkit listrik, "coal liquefaction", pabrik pupuk, pabrik semen, pabrik ban, pengolahan cpo, kilang minyak, dan industri hilir "petrochemic".

Kepala Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah Sumsel Ruslan Bahri mengatakan selama ini Sumatera Selatan dikenal sebagai provinsi yang kaya sumber daya alam yakni perkebunan sawit dan karet serta mineral batu bara. Namun, keberadaan SDA itu tidak meningkatkan perekonomian Sumsel secara signifikan karena tidak mampu dibuat produk turunannya.

Namun, jika KEK ini terwujud maka akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar luar negeri karena barang yang diproduksi akan lebih murah.

"Jika dibandingkan Thailand dan Vietnam, justru Indonesia (Sumsel) yang akan lebih menguntungkan karena Pelabuhan Tanjung Api-Api ini sangat strategis yakni berada di tengah-tengah, sehingga mudah menuju ke Eropa atau ke negara Asia lainnya. Nantinya, Singapura akan menjadi 'outlet' saja," imbuhnya.
      
                                                              Investor
Beberapa calon investor mulai menyurvei Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api (TAA), Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, untuk memastikan rencana penanaman modal pada tahun 2016.

Sebagian besar calon investor ini ingin melihat secara langsung lokasi yang ditawarkan pemerintah provinsi.

Sebanyak tiga perusahaan telah menyatakan ketertarikan untuk berinvestasi di KEK TAA yakni Dubai Port Authority Corporation, PT DEX dan PT Indorama.

PT DEX yang berencana membuat pabrik pengolahan minyak sawit, Indorama dengan olahan karet sintetiknya, serta Dubai Port sendiri yang berkeinginan menjadikan Pelabuhan TAA sebagai pelabuhan terbesar di kawasan Asia.

Khusus dengan Dubai Port, Pemprov Sumsel sedang mengintensifkan pembicaraan terkait rencana perusahaan operator pelabuhan internasional ini mempercepat pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-Api.

Konsul Jenderal Amerika Serikat di Sumatera Robert Ewing mengatakan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2016, akan mendongkrak perekonomian di Sumsel karena daerah ini akan menghasilkan barang jadi.

"Selama ini Sumsel berkutat di sisi hulu saja, mulai dari perkebunan hingga meneral. Tapi dengan keberadaan KEK TAA ini maka, Sumsel dapat mengukuhkan posisinya juga di sektor industri dan bisnis," kata Robert berbicara pada acara Forum Investasi Sumsel.

Ia mengatakan dengan memiliki KEK maka sangat dimungkinkan daerah ini menjadi pusat perekonomian baru di Sumsel.

Lantaran itu, dirinya sudah menyampaikan ke sejumlah pengusaha AS untuk ambil bagian dalam penanaman modal di KEK.

Pada dasarnya, ia melanjutkan, pengusaha AS sangat tertarik untuk berinvestasi di Sumsel yang dikenal kaya akan sumber daya yakni perkebunan karet, sawit, dan mineral batu bara.

Hanya saja, AS berharap Indonesia dapat membenahi iklim investasinya sehingga para penanam modal relatif tidak memiliki banyak gangguan untuk menjalankan usaha.

Keinginan ini juga sudah disampaikan Presiden AS Barack Obama ke Presiden Joko Widodo ketika berkunjung ke Amerika Serikat belum lama ini.

"Dalam pertemuan itu, Indonesia berjanji akan membenahi iklim investasi terkait perizinan, selain juga sepakat akan bekerja sama dalam menghadapi kesulitan ekonomi untuk mengurangi tingkat kemiskinan," paparnya.

Pemerintah daerah memprediksi dibutuhkan dana hingga Rp104 triliun untuk merealisasikan pembangunan pelabuhan, jalan tol, monorel, hingga kawasan industri di KEK TAA.

KEK TAA ini telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 2014 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Juni 2014.

Perpres ini kemudian menjadi dasar bagi Provinsi Sumatera Selatan untuk mendorong proyek ini apalagi sudah masuk delapan KEK yang ditargetkan selesai oleh pemerintahan Joko Widodo.

Sebenarnya, kawasan Tanjung Api-Api di Kabupaten Banyuasin, sejak lama dibidik untuk dikembangkan sebagai suatu kawasan ekonomi karena sejatinya sebuah pelabuhan laut dapat berdiri di sana.

Konon, rencana bakal memiliki sebuah pelabuhan laut sudah ada sejak gubernur pertama Sumatera Selatan di era tahun 50-an, namun titik terang itu mulai terlihat pada 2015 seiring dengan aksi pembebasan lahan.

Sumatera Selatan pun demikian berharap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan dengan disertai Pelabuhan Tanjung Api-Api benar-benar terwujud seiring dengan konsentrasi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di bidang infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga