Sabtu, 22 Juli 2017

BI: Ekonomi Sumatera Selatan lebih baik 2017

id ekonomi, bank indonesia, perekonomian sumsel, Triwulan IV, komoditas ekspor unggulan, yakni karet, minyak sawit
BI: Ekonomi Sumatera Selatan lebih baik 2017
Seorang buruh penyadap karet melakukan penyadapan di kebun karet (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
Yogyakarta (Antarasumsel.com) - Perekonomian Sumatera Selatan diperkirakan akan lebih baik pada 2017 sejalan dengan mulai membaiknya harga komoditas ekspor unggulan, yakni karet, minyak sawit, dan mineral batu bara.

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Irfan Farulian di Yogyakarta, Jumat, mengatakan bahwa tren kenaikan harga komoditas telah terasa sejak November 2016. Hal ini bakal berlanjut pada tahun 2017.

Harga karet yang semula per Oktober 2016 masih mencatat pertumbuhan negatif -5,2 persen, kini sudah sedikit lebih baik sekitar -4,2 persen di akhir tahun ini.

Diperkirakan pada tahun 2017, harga komoditas karet akan tumbuh positif.

"Hal ini tentunya kabar baik untuk perekonomian Sumsel yang selama ini bertumpu pada hasil perkebunan," kata Irfan.

Meski demikian, Sumsel masih tetap dibayangi oleh krisis ekonomi global yang hingga kini pemulihannya masih tergolong lambat dan tidak merata.

Indonesia yang menganut sistem perekonomian terbuka tidak dapat menapik pengaruh pelemahan ekonomi di negara Eropa yang selama ini menjadi motor penggerak ekonomi dunia.

Pihak BI menyatakan bahwa langkah terbaik adalah bagaimana meresponsnya dalam jangka pendek dan jangka menengah kondisi ekonomi dunia yang penuh tantangan ini.

Sejauh ini Sumsel bisa dikatakan dapat melewati kondisi tersebut lantaran terstimulus oleh sejumlah pembangunan infrastruktur, seperti tol, jalur kereta api dalam kota (light rail transit), jembatan, dan fasilitas lainnya pendukung Asian Games.

Indikator nyata yang dapat diamati, antara lain, dari pertumbuhan ekonominya yang mampu membukukan 4,92 persen pada Triwulan III 2016 atau melebih angka rata-rata nasional sebesar 4,78 persen.

Padahal, jika merujuk pada daerah-daerah lain di Indonesia yang juga bertumpu pada perkebunan dan migas, Sumsel jauh lebih baik karena Provinsi Riau hanya mampu tumbuh 1,11 persen dan Kalsel 3,49 persen.

Faktor lain yang patut menjadi perhatian, Sumsel mampu tumbuh sesuai dengan proyeksi meski pada Semester II 2016 mendapatkan pengurangan anggaran APBN sebesar Rp800 miliar karena kebijakan pengurangan dana bagi hasil migas sehingga terjadi pengurangan DBH sebanyak -15,33 persen, DAU -2,10 persen, dan DAK -7,96 persen.

"Beruntung, khusus pembangunan infastruktur Asian Games, negara sudah tidak melakukan pemangkasan," katanya.

Lantaran itu pula BI optimistis pertumbuhan ekonomi Sumsel pada Triwulan IV 2016 akan berkisar 4,8 s.d. 5,2 persen atau setidaknya sejalan dengan proyeksi nasional 5,02 persen.

Menurut Irfan, ekonomi Sumsel pada tahun mendatang akan meningkat karena terdapat faktor pendongkrak lain selain konstruksi, yakni industri pengolahan, investasi swasta, dan perdagangan.

"Namun, ancaman selalu tetap ada. Tinggal bagaimana mengelolanya agar perekonomian tetap stabil dan memberikan kepastian kepada investor," katanya.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga