Catatan Akhir Tahun: Efisiensi perbankan syariah

id syariah, bank indonesia
Catatan Akhir Tahun:  Efisiensi perbankan syariah
Petugas salah satu bank syariah memberikan penjelasan tentang produk syariah pada Expo Keuangan Perbankan Syariah di salah satu mal Kota Palembang,Kamis (24/3) (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly/16)
...Ada bank yang memilih melakukan efisiensi berkaitan dengan kebijakan bisnis perusahaan, bukan karena perbankan syariah yang tidak tumbuh...
Palembang (Antarasumsel.com) - Kinerja perbankan syariah dari segi pendapatan dan laba bersih tetap mencatatkan pertumbuhan pada 2016 namun adanya tren perlambatan permintaan pembiayaan membuat sektor ini terpaksa melakukan efisiensi.

Efisensi ini juga untuk merespon terus turunnya margin imbal hasil dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah seiring dengan pergantian suku bunga kebijakan Bank Indonesia menjadi "7days Repo Rate" serta penurunan bunga Lembaga Penjamin Simpanan.

Direktur Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan Regional VII Sumatera Bagian Selatan Sabil mengatakan sebanyak 28 kantor cabang pembantu bank syariah di Sumatera Selatan dalam periode 2015-2016 memutuskan menghentikan pelayanan karena alasan efisiensi dan strategi bisnis.

"Inilah yang terjadi pada setahun terakhir, dan sebagian besar beralasan karena kebijakan dari perusahaan yang menginginkan efisiensi sehingga menutup kantor cabang pembantu (kcp)," kata Sabil belum lama ini.

Berdasarkan data dari Karim Consulting Indonesia, Return on Assets (ROA) bank syariah per Juli 2016 tercatat sebesar 0,6 persen, sedangkan ROA bank konvensional sebesar 2,6 persen.

Sementara itu, dari sisi efisiensi, Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) bank syariah selalu melampaui perbankan konvensional sejak 2012.

BOPO bank syariah tercatat sebesar 96 persen, dibandingkan BOPO bank konvensional yang sebesar 82 persen. Non-performing financing perbankan syariah secara industri pun meningkat melampaui lima persen.

Lantaran itu, tak heran jika akhirnya sejumlah perbankan nasional memutuskan menutup kantor cabang syariahnya dengan alasan untuk efisiensi.

Apalagi, kondisi perekonomian di Sumsel belum bisa dikatakan benar-benar pulih karena dipengaruhi kondisi perekonomian global yakni pelemahan harga komoditas karet, sawit, dan mineral batu bara.

Sebenarnya, kalangan perbankan, baik syariah maupun konvensional sejak 2013 sudah selektif dalam penyaluran pembiayaan ke sektor perkebunan karena rentan gagal bayar mengingat harga karet jauh di bawah acuan.

Meski beberapa bank memutuskan efisiensi, tapi patut dicermati juga keputusan sejumlah perbankan yang justru membuka kantor baru di Sumsel.

Kepercayaan diri mereka lantaran mendapati kenyataan bahwa daerah ini sedang gencar membangun terkait peran sebagai tuan rumah Asian Games.

Sejumlah proyek infrastruktur, seperti Light Rail Transit (jalur kereta api dalam kota), jalan tol, jembatan, underpass, jalan layang, pembangkit listrik, dan jaringan pipa gas telah membuat daerah ini tetap terjaga pertumbuhan ekonominya dikisaran 5,0 persen sejak tahun 2015, bahkan pada triwulan III/2016 membukukan 4,92 persen.

Kepala Cabang Panin Syariah Palembang Kms Afandi mengatakan setelah mendapatkan suntikan modal dari investor asal Dubai sebesar Rp200 miliar, Bank Panin langsung membuka cabang di Palembang pada pertengahan tahun 2016.

Hingga akhir tahun 2016, Bank Panin Syariah sudah mencatat pertumbuhan dikisaran 10 persen karena banyaknya sejumlah pembiayaan sektor infrastruktur di Sumsel.

Realisasi pembiayaan diberikan ke sejumlah perusahaan penyedia jasa infrastruktur dengan rata-rata pembiayaan Rp2-Rp10 miliar.

Senada, Bank OCBC NISP juga membuka Unit Usaha Syariah di Kota Palembang pada tahun 2016 untuk meningkatkan pertumbuhan pembiayaan dan tabungan sebesar 15-17 persen.

Kepala Unit Usaha Syariah Bank OCBC NISP Koko T Rachmadi mengatakan, letak kota Palembang yang strategis yakni berada di jalur lintas Sumatera menjadikan kota menjadi sangat berpotensi untuk pengembangan perbankan syariah.

"Kota ini bahkan sudah menjadi kota utama dari sejumlah perbankan syariah setelah kota-kota di Jawa karena selain penduduknya mayoritas Islam, pangsa pasarnya sudah menembus angka 7 persen atau di atas rata-rata nasional," kata dia.

Selain itu, rasa optimistis ini juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin membaik, pertumbuhan masyarakat kelas menengah dengan diiringi peningkatan daya beli, dan adanya fenomena pertumbuhan "Islamic Trend".


Tetap tumbuh

Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah VII Sumsel Hamid Ponco Wibowo mengatakan perbankan syariah mesti didorong pertumbuhannya karena hingga kini masih jauh tertinggal dari perbankan konvensional dengan perbandingan 5 persen dan 95 persen.

Untuk itu perbankan syariah harus lebih aktif lagi karena hingga kini masih banyak masyarakat yang belum terliterasi, dan selain itu yang tak kalah penting yakni peningkatan infrastruktur dan Sumber Daya Manusia

Dengan begitu, maka setidaknya perbankan syariah dapat turut menikmati kue pembangunan infrastruktur di Sumatera Selatan.

"Banyak sektor yang turut tumbuh karena pembangunan infrastruktur seperti sektor UMKM. Jika untuk pembiayaan yang besar, sudah diambil perbankan BUMN tapi untuk sektor yang kecil bisa digarap perbankan syariah," kata Ponco.

Secara umum, BI menilai perbankan syariah pada 2016 ini tetap tumbuh, namun pertumbuhan yang dicapai ternyata juga diraih kalangan perbankan konvensional.

Oleh karena itu, Ponco kurang sepaham jika market share perbankan syariah stagnan pada kisaran 5 persen.

Pada 2016, justru perbankan syariah tumbuh lebih baik jika dibandingkan 2015 dari sisi penyaluran kredit.

Sementara dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga terjadi perlambatan, seperti yang juga terjadi pada perbankan konvensional karena di Sumsel tercatat realisasi kredit Rp101 triliun sedangkan DPK Rp60 triliun.

Namun pada tahun ini, Ponco tidak menampik terdapat catatan khusus terkait sektor perbankan syariah yakni terkait penutupan sejumlah kantor cabang.

"Ada bank yang memilih melakukan efisiensi berkaitan dengan kebijakan bisnis perusahaan, bukan karena perbankan syariah yang tidak tumbuh," kata dia.

Untuk terus meningkatkan pangsa pasar ini, salah satu upaya yang dilakukan yakni Bank Indonesia yakni menggelar Expo Syariah Sumatera Selatan 2016 di Palembang, pada 8-10 Desember.

Sebanyak 10 perbankan syariah ambil bagian dalam pameran expo di Palembang Indah Mal, Jumat, yang telah menjadi kegiatan rutin sejak 2013.

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Sumatera Selatan Dodi Reza Alex juga sepakat bahwa perbankan syariah harus aktif mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan pangsa pasar yang sejauh ini masih dibawah lima persen secara nasional.

"Masih banyak masyarakat yang asing dengan bank syariah. Seperti diketahui, bank konvensional sudah memiliki pelayanan hingga desa, sementara bank syariah sebagian besar masih berpusat di kota," kata Dodi.

Berdasarkan Islamic Financial Service Industry Stability Report 2016, perbankan syariah dan takaful hanya dapat tumbuh satu digit. Padahal, pada 2008 hingga 2013 selalu tumbuh dua digit. Ini artinya, industri keuangan syariah global pada 2016 sedang memasuki fase konsolidasi.

Permasalahan serupa juga dialami Indonesia yang tergambar pada aset perbankan syariah hanya tumbuh 4,8 persen hingga Agustus 2016.

Angka tersebut menurun drastis, setelah pada 2008 hingga 2013 aset perbankan syariah pernah tumbuh hinga 40 persen.

Dari sisi kinerja, dapat dikatakan bahwa bank syariah domestik berada di bawah kinerja bank konvensional.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi industri keuangan syariah saat ini, yakni portofolio pembiayaan yakni masih terkonsentrasi di sektor tertentu yang bersifat konsumtif, berupa kendaraan bermotor dan personal loan.

Tantangan kedua adalah instrumen likuid yakni sebagai lembaga intermediasi, bank syariah tetap terekspos likuiditas. Hal ini karena pengelolaan risiko likuiditas bank syariah melalui pasar uang belum optimal karena keterbatasan instrumen yang likuid.

Tantangan selanjutnya adalah skala ekonomi. Perbankan syariah belum bekerja setara dengan bank konvensional dalam konteks skala ekonomi yang dipengaruhi oleh permodalan dan kapasitas yang belum semapan bank konvensional.

Sedangkan tantangan terakhir yang tak kalah penting adalah preferensi konsumen. Saat ini, konsumen belum tertarik memilih perbankan syariah karena informasi produk syariah kurang jelas, ongkos yang lebih mahal, pemahaman produk syariah yang belum cukup, serta keterbatasan layanan syariah.

Karena itu, edukasi sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah.

Edukasi dapat dilakukan dengan dua cara, oleh bank-bank itu sendiri dan dengan dana rolling back dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hingga kini hanya segelintir orang yang mengerti tentang perbankan syariah, bahkan mayoritas masyarakat pun menganggap bank syariah bukan sebagai pilihan pertama meskipun penduduk negara ini mayoritas muslim.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga