Sabtu, 22 Juli 2017

Bisnis limbah ikan yang menggiurkan

id Eliza Hayana, limbah ikan, bisnis ikan, pedagang ikan, ikan gabus, peyek ikan, kripik kulit ikan, kripik
Bisnis limbah ikan yang menggiurkan
Eliza Hayana (jilbab hitam) ketika menjajakan kripik sisik ikan gabus yang diproduksinya. (Antarasumsel.com/Susi/16)
....Awalnya membuat peyek ikan gabus itu hanya coba-coba saja, tetapi ternyata rasanya enak saat dimakan dan orang menyukainnya....
Limbah ikan seperti kulit dan sisik ikan gabus selama ini oleh pedagang ikan di pasar-pasar tradisional di Palembang dibuang begitu saja karena  tidak dimanfaatkan.

Padahal limbah ikan tersebut bisa menjadi makanan ringan atau cemilan yang enak untuk disantap bila bisa mengelolanya dengan baik.

Seperti yang dilakukan pelaku usaha Eliza Hayana, belum lama ini di Palembang. Ia mengolah limbah ikan itu menjadi kripik kulit ikan gabus dan peyek ikan gabus.

Eliza menuturkan, sisik dan kulit ikan gabus itu diperolehnya dari pedagang ikan di pasar-pasar tradisional di Kota Palembang.

Biasanya pedagang hanya mengambil daging ikan gabus saja sebagai bahan untuk membuat pempek, sedangkan kulitnya dibuang.

Jadi, untuk bahan baku membuat kripik dan peyek ikan gabus itu tidak sulit, karena memang dibuang olèh pedagang ikàn, ujarnya.

Ia menyatakan, kulit ikan gabus itu tinggal minta saja kepada pedagang,  sedangkan sisik ikan itu menempel di kulit ikan tersebut. Dengan begitu dapat kulit dan sisiknya.

Jadi, sebenarnya kulit dan sisik ikan gabus ini merupakan limbah yang dibuat makanan ringan, tuturnya.

Hanya saja, lanjutnya, untuk mèmbersihkan kulit dan sisik itu butuh tenaga, karena itu dirinya harus mengajak orang untuk melakukannya, sebab agak sulit untuk membersihkannya.

Jadi, kalau 10 kilogram kulit ikan itu bersihnya hanya dua kilogram, karena banyak yang dibuang, ujar Eliza sambil melayani pembeli di salah satu bazar.

Setelah dibersihkan kulit ikan itu baru diberi tepung beras kemudian dikasih bumbu-bumbu tapi tanpa penyedap rasa dan selanjutnya digoreng. Begitu juga untuk peyek ikan gabus.

Ia mengaku, awalnya membuat peyek ikan gabus itu hanya coba-coba saja, tetapi ternyata rasanya enak saat dimakan dan orang menyukainnya.

Sementara untuk pemasaran kripik kulit ikan dan peyek ikan gabus itu sendiri hingga saat ini masih terbatas di dalam Kota Palembang dan sekitarnya.

"Untuk penjualan hingga saat ini masih terbatas di Kota Palembang, karena itu ke depannya diharapkan bisa lebih luas lagi," tuturnya.

Ia mengaku, kalau produksi kripik dan peyek ikan gabus itu belum begitu banyak, karena usahanya masih kecil-kecilan.

"Kalau produksinya, belum begitu banyak dan belum setiap hari, karena pemasarannya juga masih terbatas," ujarnya.

Sementara ini peyek dan kripik ikan gabus itu dititipkan di rumah makan dan kantin-kantin kampus perguruan tinggi di Kota Palembang.

Selain itu, juga dijual pada saat dilaksanakan bazar di Kota Palembang dan menjual sendiri di rumah. Selanjutnya pada saat Lebaran pihaknya juga menerima pesanan bagi masyarakat yang mau memesan, ujarnya.

Untuk peyek sisik ikan gabus itu sebungkus atau satu ons dijual dengan harga Rp10 ribu, begitu juga dengan kripik kulit ikan gabus dijual Rp10 ribu.

Sementara untuk kemasan ia mengaku, ada tempat yang menyediakan dan dirinya tinggal meesan saja. Dengan kemasan yang cantik dan bagus tentunya menarik orang untuk membeli makanan tersebut, selain rasanya yang enak dan gurih.

Lebih lanjut ia menuturkan, karena selama ini kulit ikan itu hanya minta kepada pedagang, maka hasil olahan ia bawa untuk diberikan kepada mereka supaya mencicpinya juga.

"Dan karena rasanya enak, akhirnya mereka menyukai juga. Jadi sekarang ini limbah ikan itu ditukar dengan peyek dan kripik ikan gabus," ujarnya sambil tersenyum.
   
                                                       Banyak Kegiatan
Untuk menjual hasil produksinya itu ia juga berharap banyak pada kegiatan yang dilaksanakan di Kota Palembang sehingga banyak tamu dari luar yang datang ke daerah tersebut.

Seperti kegiatan olahraga SEA Games yang dilaksanakan di Palembang beberapa tahun lalu dirinya bisa menjual hasil produknya lebih banyak.

"Pada waktu SEA Games lalu kami berjualan di Plaza Benteng Kuto Besak dan yang membeli juga banyak," katanya.

Ia berharap ke depan kalau bisa lebih banyak lagi kegiatan skala besar dilaksanakan di kota ini.

Ia juga menyambut baik akan dilaksanakannya Asian Games di Kota Palembang pada tahun 2018 nanti, karena tentunya akan banyak tamu yang datang ke kota tersebut.

Ia mengaku, bisnis makanan ringan yang ditekuninya sekarang ini awalnya hanya coba-coba, karena dulunya ia hanya seorang tukang jahit pakaian.

"Saya dulunya adalah tukang jahit pakaian, tetapi sejak zaman bisa komunikasi menggunakan telpon genggam (handpone) saya selalu ditelponi oleh para pelanggan saya menanyakan jahitan," tuturnya.

Dengan kondisi begitu, lanjutnya, lama-lama capek juga ditelponi terus oleh para pelanggan untuk menanyakan hasil jahitan.

Sejak itu dirinya mencoba membuat kripik dan peyek ikan gabus tersebut.

Ternyata hasilnya enak dan banyak yang suka. Karena itu ia mulai mengeluti bisnis makanan ringan dengan rasa gurih tersebut.

"Jadi, tukang jahit capek dan dikejar-kejar waktu untuk menyelesaikanya. Oleh karena itu enakan membuat dan menjual kripik dan peyek ikan gabus ini, karena kita yang menjadi bosnya. Selain itu pendapatan yang diperoleh juga lumayan, " ujarnya.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga