Selasa, 25 April 2017

Gus Yusuf: Medsos tidak lagi jadi anugrah

id media sosial, medsos, isinya saling hujat, mencaci, saling menjelekkan, Pimpinan Pesantren Entepreneur API Tempuran, KH Yusuf Chudlori, Gus Yusuf
Gus Yusuf: Medsos tidak lagi jadi anugrah
Ilustrasi (Antarasumsel.com/Grafis/Aw)
Magelang (Antarasumsel.com) - Keberadaan media sosial (medsos) saat ini tidak lagi sebagai anugerah, tetapi sebagai musibah, karena isinya saling hujat, mencaci, dan saling menjelekkan kata Pimpinan Pesantren Entepreneur API Tempuran, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

"Medsos sebenarnya anugerah kalau dimanfaatkan dengan baik, tetapi medsos juga bisa menjadi musibah ketika tidak dikelola dengan baik," katanya usai acara Haul ke7 Gus Dur di Pesantren "Entepreneur" API Tempuran, Kabupaten Magelang, Jumat dini hari.

Menurut dia medsos sekarang penuh dengan sampah caci maki dan saling hujat maka dalam kegiatan dengan tema Zuhud Sosial Media "Temu Fisik untuk Kesehatan Medsos" ini pihaknya mengingatkan untuk memanfaatkan anugerah Tuhan ini untuk merekatkan, bukan untuk memecah belah.

"Zuhud artinya menahan diri, jadi kita bermain medsos oke, tetapi tetap dengan pikiran waras dan kontrol diri," katanya.

Ia mengatakan melalui kegiatan ini pihaknya mengajak masyarakat untuk kembalikan semangat Gus Dur. Gus Dur sudah meninggal tetapi semangatnya, spiritnya tetap hidup.

Ia menuturkan Gus Dur banyak meninggalkan jejak dan kontribusi yang luar biasa bagi republik ini, terutama soal kemanusiaan dan harmonisasi antaragama.

"Indonesia yang sedang mengalami beberapa persoalan yang mengusik tentang kebhinnekaan, orang pasti akan teringat Gus Dur," katanya.

Ia mengatakan ketika ada minoritas yang terpinggirkan pasti orang teringat Gus Dur, karena Gus Dur tokoh yang berani pasang badan untuk membela kaum minoritas.

Ia mengatakan dalam haul ini diwujudkan dalam pentas seni, karena Gus Dur itu merefleksikan semua orang.

"Para ulama, budayawan senang Gus Dur, petani juga merasa dilindungi Gus Dur maka semua berhak mengekpresikan kecintaan pada Gus Dur dengan bahasa sendiri-sendiri," katanya.

Para santri di Tegalrejo, katanya melakukan kataman Al Quran dan para budayawan di sini mengekspresikan cinta Gus Dur dengan bahasa budaya.

Pada haul tersebut diisi dengan pentas seni, antara lain dengan pertunjukan musik Jodho Kemil, musik Rizal Bay Khaqi dari Yogyakarta, Endah Laras dari Solo, dan penampilan sejumlah sanggar seni di Kabupaten Magelang.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga