Kamis, 29 Juni 2017

Pemandu wisata liar di Dieng dirazia

id dieng, razia pemandu wisata, Himpunan Pramuwisata Indonesia, Cabang Wonosobo, unsur kepolisian, Satpol Pamong Praja, Kantor Pariwisata, Ekonomi Kreati
Pemandu wisata liar di Dieng dirazia
Festival Budaya Dieng Sejumlah wisatawan menyaksikan ritual potong rambut Gimbal saat dilangsungkan Dieng Culture Festival (DCF)-. ( (ANTARA FOTO/Anis Efizudin/Ang/16)
Wonosobo (Antarasumsel.com) - Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Wonosobo bersama unsur kepolisian, Satpol Pamong Praja, Kantor Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan HPI DPD Jawa Tengah menggelar razia pemandu wisata liar di kawasan objek wisata Dieng.

Sekretaris DPC HPI Wonosobo Agus Dwiyono di Wonosobo, Minggu, mengatakan razia bersama tim gabungan tersebut merupakan upaya pihaknya memberikan perlindungan pada para pemandu resmi atau bersertifikat.

"Kami juga melibatkan unsur Satpol PP pada kegiatan ini, karena menjadi bagian dari upaya penegakan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pramuwisata," katanya.

Ia menyebutkan dalam razia di sekitar Dieng Plateu Theater  selama enam jam, pihaknya memantau praktik pemandu liar atau yang tidak bersertifikat. Pihaknya telah menjaring sekitar 10 orang.

Ia menuturkan kepada para pemandu, baik lokal maupun dari biro perjalanan, tim gabungan melakukan pendataan identitas sekaligus memberikan edukasi agar mereka bersedia menjadi pramuwisata resmi.

"Kami memberikan arahan kepada 'guide' yang selama ini praktik tanpa sertifikasi resmi, agar mau mengikuti pelatihan dan uji kompetensi sehingga ke depan mereka lebih nyaman dalam bekerja karena telah bersertifikat," katanya.

HPI DPC Wonosobo, kata dia, secara periodik menggelar pelatihan bagi para pemandu wisata, mengingat kebutuhan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, cukup tinggi.

Ia mengakui kekurangan pemandu lokal tersebut, sering memunculkan komplain dari para wisatawan, karena mereka merasa kurang optimal memperoleh keterangan terkait dengan berbagai sisi objek wisata tujuan.

Selain itu, katanya, kekurangan pemandu legal yang bersertifikat akhirnya memunculkan pemandu-pemandu wisata liar, terutama di kawasan wisata ramai, seperti Dataran Tinggi Dieng.

Ia menuturkan para pemandu liar tersebut, selain merugikan para pramuwisata resmi juga tidak jarang menimbulkan protes dari para wisatawan, mengingat kapasitas mereka memang belum teruji.

"Kebanyakan para pemandu liar hanya mengandalkan 'aji mumpung' dan mereka sebenarnya memiliki profesi lain yang tidak berkaitan dengan wisata," katanya.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga