Jumat, 28 Juli 2017

Pesut mahakam terancam punah

id lumba-lumba air tawar, Orcaella brevirostris, Peneliti, Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia, pengamatan kerapatan dan penyebaran
Pesut mahakam terancam punah
lumba-lumba air tawar (Istimewa)
Samarinda (Antarasumsel.com) - Peneliti Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (Rasi) Danielle Kreb mengungkapkan, keberlangsungan populasi Orcaella brevirostris (pesut mahakam) atau lumba-lumba air tawar saat ini semakin terancam.

"Hingga saat ini, populasi pesut mahakam diperkirakan tersisa 75 hingga 80 ekor dengan wilayah jelajah hanya kawasan sungai di Kabupaten Kutai Kartanegara," ujar Danielle Kreb, yang dihubungi Antara dari Samarinda, Senin.

Namun Danielle Kreb mengakui, tidak bisa menyebutkan secara spesifik jumlah pesut mahakam yang tersisa, baik sejak 1997 maupun pada periode 2005 hingga 2016.

Pada 1997, lanjut dia, untuk mengetahui jumlah pesut mahakam, digunakan medote pengamatan kerapatan dan penyebaran.

Kemudian tambah dia, pada periode 2005 hingga 2016, metode yang digunakan yakni melalui penghitungan sirip.

"Jumlahnya tidak bisa dipastikan sehingga masih perlu dilakukan penelitian mendalam sebab metode yang kami gunakan sejak 2005 sampai 2016, juga masih mungkin 'error" atau terjadi kesalahan. Kami pernah menghitung jumlah tertinggi hingga 90 ekor," ucap Danielle.

Angka kematian pesut mahakam kurun waktu 10 tahun terakhir yakni 2005-2015, menurut Danielle Kreb, tidak terlalu signifikan yakni rata-rata kematian 5 ekor per tahun.

Begitu pun tingkat kelahiran pesut mahakam juga tetap normal yakni 5-6 ekor per tahun, kata dia.

Menurutnya, kualitas air Sungai Mahakam yang merupakan satu-satunya habitat lumba-lumba air tawar tersebut tidak terlalu berdampak signifikan pada kematian pesut mahakam.

"Selama ini, kami tidak pernah menemukan kematian anak pesut mahakam, seperti yang terjadi di Sungai Mekong. Rata-rata, kematian pesut dewasa akibat terjaring dan ditabrak ponton. Sehingga, kualitas air Sungai Mahakam tidak terlalu berdampak pada populasi pesut mahakam," kata Danielle Kreb.

Peneliti asal Belanda yang mengamati pesut mahakam sejak 1997,  mengatakan bahwa jaring nelayan merupakan ancaman paling tinggi bagi kepunahan pesut mahakam.

"Pada 2016, terjadi lima kasus kematian pesut mahakam dan yang terbanyak karena terjaring dan yang kedua akibat ditabrak ponton," kata Danielle Kreb.

Ia menyebut, aktivitas ponton, baik milik perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun tambang batu bara di anak Sungai Mahakam menjadi ancaman baru bagi keberlangsungan populasi pesut mahakam.

"Pesut mahakam banyak mencari makan di anak-anak sungai karena lebih mudah menangkap ikan dibanding di sungai yang luas. Namun, saat ini sudah banyak aktivitas ponton di kawasan tersebut sehingga menjadi ancaman baru bagi mamalia air tawar itu," tutur Danielle.

Ia berharap, ada perhatian serius baik dari pemerintah maupun masyarakat bagi kelangsungan hidup pesut mahakam.    
"Perlindungan pesut mahakam tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak, tetapi perlu komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat dan semua pemangku kepentingan, termausk perusahaan yang banyak beroperasi di kawasan jelajah pesut mahakam, khususnya di anak Sungai Mahakam," kata Danielle.

Wilayah jelajah pesut mahakam, kata dia, yakni kawasan Kecamatan Muara Kaman hingga Kota Bangun, Sungai Kedang Rantau, Sunai Kedang Kelapa dan Belayan.

"Dulu di Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, hampir setiap hari orang melihat pesut mahakam. Tetapi, saat ini keberadaannya hanya terlihatdi kawasan Kutai Kartanegara, itu pun di beberapa lokasi saja, dan kemunculannya sudah sangat jarang akibat populasinya sudah jauh menurun," ujar Danielle Kreb.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga