Rabu, 29 Maret 2017

Penyesalan remaja bertato di wajah

id apri, tato, remaja, bertato, kriminaliitas
Penyesalan remaja bertato di wajah
Muhammad Apriansyah (Foto Antarasumsel.com/17/Dolly Rosana)
....Saya tahu, pasti semua orang bertanya bahkan menyayangkan kenapa muka ditato....
Palembang (Antarasumsel.com) - Muhammad Apriansyah (19) berjalan bergegas mengikuti seorang jaksa perempuan menuju ruang sidang di Pengadilan Negeri Palembang, Kamis (5/1).

Ia seakan-akan tidak sabar tiba di ruang sidang anak yang tertutup bagi pengunjung karena tahu benar bahwa dirinya menjadi perhatian bagi siapa saja yang melihat.

Bukan karena dirinya seorang tahanan anak yang mengenakan seragam berwarna biru, tapi lantaran tato yang memenuhi seluruh wajah hingga ke leher.

Jelas dari sorot matanya, ia merasa tidak nyaman menjadi perhatian sejumlah orang yang beraktivitas di lingkungan pengadilan siang itu, mulai dari pengunjung, jaksa, pengacara dan polisi.

Beberapa orang bahkan memandangnya dari atas hingga ke bawah, sembari menggeleng-gelengkan kepala dan mengurut dada.

Maklum saja, rupa Apri tidak bisa juga dikatakan jelek seandainya tidak ada tato di wajahnya. Ia memiliki badan cukup proporsional untuk ukuran seusianya, berkulit putih, bibir tipis dan mata sedikit sipit.

Meski demikian, remaja ini tetap saja enggan mengangkat wajahnya. Ia memilih berjalan bergegas beriringan dengan temannya yang juga menjalani sidang untuk kasus yang sama.

Apriansyah pada hari ini dijadwalkan mendengarkan pembacaan vonis dari hakim atas perbuatan mencuri enam unit motor di gudang motor ternama Palembang pada dua tahun lalu bersama sejumlah teman, tepatnya saat usianya masih 16 tahun.

"Saya tahu, pasti semua orang bertanya bahkan menyayangkan kenapa muka ditato," kata Apriansyah ketika disambangi di sel tahanan pengadilan seusai sidang.

Apri, sapaan akrabnya, sudah mengenal kehidupan jalanan sejak usia belia.

Remaja kelahiran Palembang, 19 April 1997 ini tidak tahu kapan persisnya sudah terbiasa dengan kebiasaan tidur di jalanan, seperti di emperan ruko, toko, pasar dan lainnya. Namun yang jelas, hal itu terjadi setelah meninggalkan bangku sekolah di kelas V SD.

Lantaran hidup di lingkungan luar keluarga membuat pergaulan Apri meluas, bahkan ia enggan bergaul di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Kancil Putih Palembang.

Ia juga lebih senang kumpul dengan teman-temannya yang juga anak jalanan di KM 14 Palembang dengan usia yang jauh di atasnya.

Apri juga sempat mengenal kehidupan 'punk' dan menyematkan sebongkah baut motor di kedua cuping telinganya.

"Dari mereka (teman) semua saya belajar, termasuk berani pasang tato ini. Kami hidup bergerombol, ada laki-laki, ada juga perempuannya. Ada yang muda usia sembilan tahun, ada juga yang sudah tua usia 22 tahun," kata dia.

Mengenai tato, sebenarnya baru setahun terakhir ini Apriansyah menato wajahnya. Sebelumnya, tato hanya memenuhi seluruh tubuhnya dari pangkal tangan hingga kaki. Saat diwawancarai itu, terlihat tato berbentuk laba-laba 'spiderman' di punggung jari tangannya.

Beruntung pada hari sidang itu, ia mengenakan baju koko sehingga tato yang terlihat hanya ada di wajah, leher, dan punggung tangan sehingga tidak terlalu mencolok.

Tato itu semua dilukis oleh temannya sesama anak jalanan. Menurutnya, temannya itu membeli alat khusus untuk membuat tato dan dicobakan ke semua anggota kelompok.

Sayangnya, pekerjaan pembuatan tato itu tidak dikonsep terlebih dahulu di secarik kertas, atau bisa dikatakan langsung saja dicobakan ke kulit.

Alhasil, tato yang ada di tubuh dan wajah Apriansyah jauh dari kesan rapi seperti layaknya tato yang dipakai kalangan selebritis.

Bahkan ada yang terlihat seperti coretan anak kecil, seperti yang ada di dahinya yang bertulis "otak".

Ketika ditanya apakah ia menyesal telah menato mukanya, Apriansyah hanya tersenyum dan mengucap lirih. "Mau bagaimana lagi, sudah begini," kata remaja yang sering dipanggil "Si Kancil" oleh teman-temannya ini.
                                                                  Ingin Pulang
Kehidupan Apriansyah berjalan tidak mudah sejak kecil. Pada usia tiga tahun ia sudah ditinggalkan ayah, sehingga ibu menjadi pengganti dalam pencari nafkah bagi dirinya dan enam saudaranya.    

"Ibu sibuk cari uang, jadi saya jarang di rumah," kata dia.

Sejak sering kumpul dengan teman-temannya itu, Apri mulai jarang pulang. Puncaknya ia meninggalkan rumah pada usia 14 tahun dan tidak kembali hingga kini.

Alasannya, cukup sederhana, ia hanya ingin hidup bebas karena sudah merasa nyaman hidup menggelandang sebelumnya. Untuk tempat tinggal, gerombolannya memakai rumah toko yang ditinggalkan pemiliknya di KM 14.

Lantaran tidak memiliki penghasilan tetap, maka gerombolan ini dekat dengan kegiatan kriminal, mulai dari pencurian, penodongan, "pak ogah", dan lainnya.

"Nah, saat kumpul-kumpul inilah kerap muncul ide. Salah satunyo bobol gudang motor," kata dia.

Kejahatan yang dilakukan kelompok Apriansyah ini sudah sangat meresahkan masyarakat.

Kepolisian Resor Kota Palembang tidak mengendapkan kasus ini meski pencurian dilakukan dua tahun lalu.

"Saya juga terkejut kenapa akhirnya tertangkap padahal kejadiannya dua tahun lalu. Bukan saya saja yang ditangkap, teman-teman saya juga," kata dia.

Mengenai perbuatannya itu, Apriansyah mengaku sangat menyesal dan menerima keputusan hakim yang memberikan vonis hukuman 2 tahun dan tiga bulan penjara. Apalagi, apa yang dilakukan ini juga menyedihkan sang ibu, yang sudah hampir dua tahun tidak ditemuinya.

Menurut pengacara di Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri Palembang, Romaita, sang ibu datang ke pengadilan sembari menangis ketika mendapati Apri sudah bertato sampai ke wajah.

Rupanya, perempuan renta itu sudah lelah ke sana kemari mencari keberadaan Apri dalam dua tahun ini sejak kabur dari rumah.

Apri pun membenarkan keterangan pengacara itu bahwa ibunya juga datang ke polsek-polsek mencari dirinya.

"Ibu bilang, nanti kalau sudah keluar penjara, tinggal sama ibu saja," kata Apri dengan mata berkaca-kaca, sembari menambahkan bahwa dirinya sekeluar dari penjara ingin mencari pekerjaan sebagai sopir.

Berdasarkan data Kementerian Sosial diketahui bahwa jumlah anak jalanan pada 2015 mencapai 33.400 anak yang tersebar di 16 provinsi.

Sedangkan anak jalanan yang mendapatkan layanan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) baru mencapai 6.000 pada 2016.

Situasi dan kondisi jalanan sangat keras dan membahayakan bagi kehidupan anak-anak. Ancaman kecelakaan, eksploitasi, penyakit, kekerasan, perdagangan anak, dan pelecehan seksual sering mereka alami. Kondisi ini juga sangat rentan terhadap pelanggaran bagi hak anak yang menjadi komitmen nasional maupun internasional.

Berkaca dari kasus Apriansyah, penanganan anak jalanan sejatinya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah baik pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota.

"Yang paling utama adalah keluarga, karena masalah anak turun ke jalan paling banyak karena masalah keluarga," kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa saat mendeklarasikan menuju Indonesia Bebas Anak Jalanan 2017 di depan Patung Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, 27 November 2016.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga