Jumat, 28 Juli 2017

Putu Darmaya, mantan kuli kapal beromzet miliaran

id Putu Darmaya, kuli kapal, mantan, kerja keras, proses tidak sebentar, kerajinan kerang, Nusa Penida, Klungkung, Bali, pengusaha, pegawai biasa
Putu Darmaya, mantan kuli kapal beromzet miliaran
Dua perajin mendemonstrasikan pembuatan cenderamata berbahan cangkang kerang. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/wdy/Ang)
....Dia mengaku bisa bersekolah juga berkat pertolongan orang yang iba melihat kondisi keluarganya....
Bisa menjalankan usaha beromzet miliaran rupiah setiap bulan tentu bukan hal mudah, namun memerlukan kerja keras dan proses yang tidak sebentar.

Demikian pula dengan I Putu Darmaya, yang akhirnya mampu melakukan usaha tersebut setelah melalui proses panjang.

Berbagai pekerjaan pernah dilakoni Darmaya, mulai dari tukang kebun, manajer hotel dan restoran, tukang cuci kapal, hingga mengantarnya sebagai pelaku usaha yang menerjuni kerajinan kerang.

Lelaki kelahiran Nusa Penida, Klungkung, Bali, itu menuturkan kisah hidupnya yang penuh liku sebelum sebelum menjadi pengusaha kerajinan kerang.

Darmaya merupakan salah satu dari tujuh bersaudara, dan sejak kecil sudah terbiasa dengan hidup prihatin. Dia mengaku bisa bersekolah juga berkat pertolongan orang yang iba melihat kondisi keluarganya.

Selepas SD, salah seorang pamannya menyekolahkan Darmaya ke jenjang SMP. Berlanjut ketika bersekolah di SMA, lelaki ini pindah ke kawasan Pejeng, Gianyar, karena pendidikannya dibiayai oleh seorang "penglingsir".

Tinggal di kawasan Pejeng, ibarat mendapatkan lentera terang bagi Darmaya. Sudah lama ia menancapkan cita-cita ingin menjadi "guide", sehingga ketika tinggal di Pejeng, setiap hari Darmaya bisa menyaksikan hilir mudik wisatawan asing yang datang berkunjung. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, ia pun langsung menjadi pemandu wisata dadakan dengan modal bahasa Inggris yang ala kadarnya.

Namun, kemampuan bahasa asingnya pun akhirnya meningkat dari hasil pembelajaran secara otodidak, sehingga hampir setiap hari Darmaya mendapat uang tip dari turis yang dipandunya ke berbagai objek wisata di kawasan Pejeng.

"Setamat SMA, saya mengibarkan keinginan untuk kerja di luar negeri. Saya mengajukan dua lamaran. Satu sebagai buruh tenaga kerja Indonesia (TKI) dan satu lagi saya nekad melamar kerja di hotel. Keduanya di Malaysia. Tak disangka, saya malah dipanggil untuk bekerja hotel di Malaysia. Di sana saya bekerja sebagai tukang kebun," katanya.

Baru sebulan kerja sebagai tukang kebun, Darmaya mendadak dipindahkan sebagai staf "front office" berkat kemampuannya berbahasa Inggris. Saat waktu luang, dia mengambil pekerjaan sebagai tukang cuci atau tenaga kuli di kapal. Pekerjaan ini lantas ditinggalkan Darmaya, ketika ada tawaran menjadi manajer di hotel lain.

Lama-lama perbuatan Darmaya yang merangkap pekerjaan terbongkar sehingga ia dipulangkan ke Tanah Air. Namun, akhirnya ia kembali lagi ke Malaysia dan lagi-lagi bekerja di hotel. Tak lama kemudian, dia memutuskan balik ke Bali. Kali ini, dia langsung bekerja sebagai manajer Kafe Nyoman. Sekaligus menjadi manajer di usaha ekspor-impor. Pemilik kedua usaha itu adalah orang yang sama.

Ketika melakoni pekerjaan sebagai manajer itulah, Darmaya kemudian teringat pada kenalannya seorang lelaki dari Spanyol, yang pernah ditemuinya di Malaysia. Kenalannya itu pernah berpesan, jika Darmaya sudah di Bali, hendaknya mengabarinya. Begitu memberi kabar, ternyata orang Spanyol itu bertubi-tubi memesan kerajinan pada Darmaya.

    
Kerajinan Kerang
Pesanan demi pesanan kerajinan yang datang, membuat Darmaya memberanikan diri membuka usaha kerajinan dengan membuka kios di wilayah Mas-Ubud, dengan mengusung merek "Caspla Bali".

Modalnya ketika itu hanya Rp3 juta untuk sewa kios per tahun. Barang-barang kerajinan yang dipajang hanya untuk contoh, jumlahnya masing-masing satu kerajinan. Pemasaran dilakukan secara online, dengan membuat delapan website sekaligus.

Darmaya membuat delapan website untuk melihat kerajinan apa yang paling diminati konsumen. Ternyata sekitar 90 persen peminat kerajinan, lebih banyak menyukai kerajinan berbahan kerang.

Melihat respons konsumen tersebut, Darmaya memilih fokus membesarkan usaha kerang dan mendirikan "workshop" di Pemogan-Denpasar.

Saat ini, lanjut Darmaya, ada 1.500 desain kerang yang ditawarkannya. Mulai harga puluhan ribu hingga puluhan juta rupiah. Peminat dari berbagai negara, khususnya dari Tiongkok, Dubai, dan Italia, paling banyak melakukan order kerajinan. Selain itu, negara-negara dari Afrika pun kini banyak yang memesan kerajinan kerang.

Pemesanan itu dikirim melalui kargo dengan nilai antara Rp300 juta hingga Rp600 juta per kontainer. Tak salah jika dalam satu bulan, omzet yang berhasil diraih Darmaya bisa mencapai Rp2 miliar.

Sedikit demi sedikit, keuntungan dari bisnis kerajinan kerang ini dikumpulkan dan akhirnya berhasil diwujudkan untuk membangun usaha transportasi kelautan. Darmaya kini memiliki tujuh kapal untuk melayani penyeberangan Pelabuhan Pesinggahan menuju Pelabuhan Buyuk (Nusa Penida).

Menurut Darmaya, bahkan belum lama ini, dirinya juga membangun hotel di Nusa Penida. Hotel ini menjadi pendukung bidang pariwisata yang mulai berkembang di Nusa Penida. Beberapa destinasi Nusa Penida belakangan memang lagi mendapat perhatian khusus dari wisatawan yang suka berwisata bawah laut.

"Inilah uniknya perjalanan hidup saya. Pernah menjadi manajer usaha ekspor impor, sekarang punya usaha yang mengekspor kerajinan kerang. Pernah bekerja di hotel, sekarang punya hotel. Dan yang paling mengesankan, pernah menjadi tukang cuci kapal, malah sekarang memiliki kapal untuk berwisata bagi turis dan menjadi armada penyeberangan," ucap dia dengan ekspresi geli.

Selanjutnya, Darmaya berharap dirinya memiliki kesempatan mewujudkan impian untuk mendirikan museum kerang. Museum ini nanti akan memajang karya-karya kerang dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus menjadi etalase kerajinan kerang dari berbagai negara-negara.
Penulis buku dan artikel lepas, tinggal di Bali

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga