Selasa, 27 Juni 2017

Kisah "Malikah" mualaf Belanda di Indonesia

id masjid, islam, sholat, Negeri Kincir Angin, Belanda, Siti Malikah Melek Feer, seorang atheis, tidak beragama, Muslimah, indonesia
Kisah
Masjid (Antarasumsel.com/Feny Selly/Aw)
Takdir atau nasib seorang manusia tidak ada yang bisa mengetahui termasuk dalam memilih keyakinan untuk hidup, hal ini juga dialami seorang akademisi asal Negeri Kincir Angin, Belanda, Siti Malikah Melek Feer yang awalnya seorang atheis atau tidak beragama saat ini menjadi Muslimah di Indonesia.

Bernama lahir Melek Marlou Feer 32 tahun silam, Malikah panggilan akrabnya merupakan putri dari pasangan suami istri asal Amsterdam yang tidak terlalu memiliki keyakinan pada agama.

Bukan hanya itu, kedua orang tuanya bahkan memandang negatif agama yang menyebabkan Malikah ikut terpengaruh dengan stigma buruk tersebut.

Pengaruh buruk tersebut sedikit memengaruhi pandangan Malikah terhadap rekan atau masyarakat beragama Islam, sebab menurut dia banyak hal negatif yang dilakukan Muslim di Belanda.

Terlebih di negara tersebut sebagian besar warganya tidak beragama atau Atheis dan hanya 6 persen yang menganut Islam dari 17 juta jiwa.

"Di Belanda umat Muslim bukan hanya dibenci karena identitas teroris saja, namun juga karena sikap yang cenderung suka melanggar aturan," ungkap Malikah saat berkunjung ke kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) X di Padang pada Jumat, 20 Januari 2017.

Meskipun demikian, dia mengaku mulai tertarik mengenal Islam dan mempelajarinya saat bergaul dengan penduduk imigran dari Turki dan Maroko saat dirinya SMA bekerja di pabrik daging.

"Ternyata orang Islam sopan dan baik serta pekerja keras," ujar Malikah.

Akan tetapi dalam perjalanannya hal tersebut belum menjadikan Malikah mempercayai dan masuk untuk memeluk agama Islam.

"Saya masih belum percaya ketika itu, meski sudah membaca banyak kitab dari Injil hingga cerita Nabi dan Rasul," kenangannya.

Bahkan dia juga mengaku menulis dalam catatan hariannya dan bertekad tidak akan masuk Islam, meski banyak "gangguan" dari teman yang Muslim untuk masuk Islam.

"Hingga akhirnya hidayah itu datang melalui seorang temannya yang memiliki kepribadian baik saat masuk kuliah," ungkap Malikah yang mengaku masuk Islam dalam bentuk nazar sebelum ujian di jurusan Terapi Kulit Kecantikan.

Masuk Islam ini Malikah sangat berterima kasih pada temannya seorang Muslimah dari Afghanistan yang mengajarkannya dua kalimat Syahadat.

Setelah memastikan masuk Islam, beragam kisah harus dialami Perempuan yang saat ini sedang mengejar gelar Doktor (S3) di Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

"Tiga bulan setelah memeluk agama Islam ada pertentangan dari kedua orang tua, terutama bapak," tuturnya.

Meskipun begitu dirinya tetap konsisten dan terus berupaya keras meyakinkan keluarganya, walaupun untuk menggunakan jilbab harus sembunyi-sembunyi.

"Baru setelah 13 tahun memeluk Islam, kedua orang tua mau menerima, bahkan mengingatkan saat waktu shalat," kata dia yang mengaku pernah kuliah S1 di bidang pendidikan meski tidak selesai.

    
Mengajar
Dalam perjalanannya usai menamatkan S1 Terapi Kulit Kecantikan, Malikah mengambil kuliah di bidang Teologi Islam yang mempelajari tentang ilmu, filosofi, sejarah dan ilmu Al Quran.

Kemudian dilanjutkan dengan mengajar di sebuah sekolah anak-anak penyandang disabilitas yang beragama Islam.

"Saya begitu empati, anak-anak serba kekurangan, namun keingintahuan tentang Islam begitu tinggi," imbuh Malikah.

Dari empati ini dirinya memiliki motivasi dalam kemanusiaan yang kemudian mengantarkannya menyabet gelar Magister bidang Spiritual Care dengan kekhususan praktik psikologi terhadap orang sakit yang mau meninggal.

Malikah mengaku bidang inilah yang menjadi awal perkenalannya dengan warga Indonesia dan akhirnya "terbang" ke Jakarta.

Pada 2010 salah seorang Ustadzah keturunan Ambon yang dikenalnya di Belanda membawa serta dirinya terbang ke Jakarta untuk bertemu anaknya yang kuliah di Universitas Indonesia.

Dia juga yang memberikan nama Malikah saat di Belanda, sedangkan Siti didapatnya dari Ary Ginanjar saat mengikuti "Emotional Spritual Question" (ESQ).

Selama satu minggu Malikah mengenal Indonesia beserta budayanya, masyarakatnya, hingga kulinernya. Satu persepsinya pada saat itu "aku cinta Indonesia".

Menurut dia, Orang Indonesia cenderung kekeluargaan, menjaga kebersamaan, memiliki makanan yang enak dan bahasa yang mudah dilafalkan serta dipahami.

Hal ini kata dia berbeda dengan di Belanda yang cenderung individualistis, jarang bersilaturahim, dan berorientasi pada persaingan.

"Dasar inilah saya bertekad belajar lebih mengenal Indonesia," jelasnya.

Setahun setelah kembali dari Indonesia Malikah mengajukan untuk berkuliah di Indonesia tepatnya di Universitas Indonesia, namun usaha tersebut gagal terwujud dan mengulang kembali melamar tahun berikutnya melalui salah satu program beasiswa antara Indonesia dan Belanda.

Setahun berikutnya jadilah Malikah mahasiswa Doktoral di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah bidang pengajaran Islam.

    
Indonesia dan Belanda Berbeda.

Meski saat ini masih menimba ilmu doktoral, Malikah juga ikut menjadi staf pengajar di bidang Bahasa Belanda di kampus UIN Syarif Hidayatullah tersebut.

Menurutnya banyak yang berbeda antara pendidikan tinggi di Indonesia dan Belanda, baik sistemnya, budayanya hingga kebiasaan mahasiswa dan dosennya.

"Belanda menganut sistem tepat waktu, menggunakan silabus dan teratur, tapi di Indonesia tidak demikian," ucap Malikah.

Satu hal yang baginya sensitif yakni merajalelanya mahasiswa yang menyontek saat ujian, meski berada pada pengawasannya.

Terlebih kata dia saat diberikan sanksi mahasiswa tersebut protes dan melawan dosennya, hal ini tidak bisa berlaku di Belanda.

"Termasuk saat memberikan nilai, mahasiswa yang rendah protes dan tidak mau mengulang, bagi saya ini aneh," ujarnya.

Banyak hal kata dia yang unik di Indonesia dan berbeda dari Belanda sebagai contoh saat memberikan penjelasan kepada mahasiswa.

"Di Belanda saat kita menjelaskan anda mengerti jawabannya 'o..oo', namun di Indonesia 'o..oo' banyak tidak paham," papar Malikah yang berkunjung ke Padang pertama kali pada saat itu.

Meskipun demikian, kebudayaan yang dimiliki Indonesia ini membuatnya mengikuti secara perlahan seperti cara makan pakai tangan yang tabu di Belanda.

"Ayah saya selalu marah saat makan dengan tangan, namun bagi saya terasa nikmat dibanding pakai sendok," kata Malikah yang menyukai hampir semua masakan Indonesia.

Bahkan perlahan dirinya telah terbiasa dengan pemikiran masyarakat Indonesia yang menurutnya menarik.

"Saat di Belanda ada masalah saya stres berat, namun sekarang saya lebih tenang menghadapinya," tegas Malikah.

Cerita Malikah ini menurut Koordinator Kopertis X Prof Dr Herri patut dicontoh oleh akademisi di Indonesia, terutama dalam menyeimbangkan kehidupan agama dan tugas kampusnya.

Siti Malikah Malik Feer menjadi contoh bahwa kesulitan yang dialami selalu ada jalan keluarnya.

Setidaknya kata dia kedatangannya ke Padang dapat membuka hati akademisi dalam mendalami agama dan pekerjaan sebagai pendidik di kampus.

"Malikah seorang Mualaf yang memiliki perjuangan untuk mempertahankan keilmuan

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga