Selasa, 27 Juni 2017

Donald Trump, presiden narsistis yang terasing di Gedung Putih

id Donald Trump, narsistis, pengusaha, amerika serikat, presiden,menganalisa karakter tulisan, mengindikasikan sifat kepribadian, National Pen Company
Donald Trump, presiden narsistis yang terasing di Gedung Putih
Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
....Trump adalah kepala eksekutif yang impulsif dan kadang memperhatikan hal remeh temeh yang lebih hirau kepada sanjungan dari bangsanya ketimbang memperhatikan detail kebijakan politiknya sendir....
Presiden Donald Trump kebingungan oleh dolar AS. Apakah dolar yang kuat yang bagus buat perekonomian Amerika? Atau justru dolar AS yang lemah?

Dia lalu menelepon orang kepercayaannya. Tetapi alih-alih bertanya kepada ekonom atau pemimpin bisnis yang dia angkut ke Gedung Putih atau sahabatnya sesama rekan bisnis real estate, dia malah menelepon penasihat keamanan nasionalnya, Letjen Pur. Mike Flynn. Pengakuan ini disampaikan kepada Huffington Post oleh dua orang yang mengetahui kesaksian Flynn perihal kejadian  itu.

Flynn punya catatan panjang dalam kontraintelijen, tetapi tidak untuk urusan makroekonomi. Kepada Trump, dia blak-blakan tidak tahu apa-apa soal dolar AS karena itu bukan bidang keahliannya. Dia menyarankan Trump bertanya kepada ekonom. Trump tidak puas oleh jawaban Flynn ini.

Trump menelepon Flynn pukul 3.00 dini hari, kata seseorang yang menceritakan kembali pengalaman Flynn itu. Huffington Post tidak mendapatkan jawaban baik dari Gedung Putih maupun pihak Mike Flynn mengenai kebenaran cerita dua sumber tadi yang mengetahui pembicaraan Flynn dengan Trump.

Bagi orang Amerika yang mendapatkan kesan mereka tentang Trump sebagai konglomerat kompeten dan tegas dari acara reality-show televisi berjudul "Apprentice" yang dia asuh, pengungkapan apa yang sebenarnya terjadi dalam pemerintahan Trump mungkin mengejutkan mereka. Ternyata, Trump adalah kepala eksekutif yang impulsif dan kadang memperhatikan hal remeh temeh yang lebih hirau kepada sanjungan dari bangsanya ketimbang memperhatikan detail kebijakan politiknya sendiri. Dia juga ternyata jenis pemimpin yang gampang menyalahkan orang lain ketika hal yang dinginkannya tidak berjalan semestinya.

Tidak mengherankan, prilaku tidak stabil Trump itu telah menciptakan sebuah lingkungan yang hobi bocor membocorkan informasi yang dilakukan badan-badan kepresidenannya dan bahkan oleh Gedung Putih sendiri. Bocor membocorkan informasi biasanya melibatkan para staf yang saling menyabotase demi menguatkan posisinya masing-masing atau berusaha membatalkan gagasan-gagasan kebijakan yang diketahui kemudian sangat bermasalah. Tapi bocor membocorkan informasi dalam pemerintahan Trump yang baru berusia dua pekan itu memiliki ciri ketiga, yakni bocoran dari Gedung Putih dan para pejabat badan pemerintahan mengenai ada kekhawatiran orang dalam atas kelakuan sang presiden.

"Saya sudah 26 tahun berada di kota ini (Washington DC). Tapi saya tidak pernah melihat hal semacam ini," kata Eliot Cohen, pejabat senior pada Departemen Luar Negeri AS era Presiden George W. Bush dan anggota Dewan Keamanan Nasional (NSC).  "Saya benar-benar tidak beranggapan ini presiden yang sehat mental."

            Beda banget dengan presiden-presiden sebelumnya


Untuk urusan briefing rapat saja, Trump punya kebiasaan yang berbeda dari presiden-presiden sebelumnya. Trump tidak suka membaca memo panjang-panjang, kata seorang pejabat Gedung Putih yang meminta namanya dirahasiakan, kepada Huffington Post. Oleh karena itu, para pejabat Gedung Putih mesti menyusun dan memberikan memo yang tidak lebih dari satu halaman. Memo itu pun harus disertai poin-poin (bullet point) yang tidak boleh lebih dari sembilan poin per halaman.

Hal remeh temeh bisa membuatnya senang luar biasa atau sebaliknya membuat dia uring-uringan. Trump pernah berkata kepada New York Times bahwa dia terkesan oleh sistem telepon di dalam Gedung Putih. Saat bersamaan, dia mengeluhkan handuk tangan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One karena kurang lembut, kata seorang pegawai Gedung Putih.

Dia bahkan secara khusus terobsesi oleh penampilan orang-orang dekatnya di televisi. Para presiden sebelumnya tidak memiliki waktu untuk menyaksikan briefing harian sekretaris persnya kepada wartawan, namun Trump malah menjadikan kebiasaan memperhatikan mereka adalah bagian dari aktivitas rutinnya. Program acara mingguan dari stasiun televisi NBC, "Saturday Night Live’s", pun dijadikan Trump sebagai tontonan wajib bagi jajaran terdekatnya. Dan reaksi dia saat menonton acara ini berubah-ubah, dari ekspresi tidak nyaman sampai marah-marah.

Informasi menyangkut interaksi pribadi Trump dan bagaimana lingkaran terdalam pemerintahannya bekerja itu sampai ke Huffington Post dari orang-orang yang bekerja pada badan-badan kepresidenan dan dari dalam Gedung Putih sendiri. Mereka meminta namanya tidak disebutkan karena tidak ingin kehilangan pekerjaan.

Ada beberapa bocoran informasi yang didasari karena ketidaksetujuan staf terhadap kebijakan-kebijakan Donald Trump --misalnya larangan masuk dan keluar bagi seluruh pengungsi dan pendatang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim--, namun lebih banyak lagi dilatarbelakangi oleh keyakinan para staf bahwa kata-kata, kelakuan dan cuitan-cuitan Trump memang memesankan ancaman nyata.

Contohnya, ketika Trump mencuit teknologi peluru kendali Korea Utara tiga pekan sebelum dia resmi memangku jabatan di Gedung Putih, para aparatur keamanan nasional presiden saat itu Barack Obama menjadi blingsatan. Mereka menganggap cuitan Trump itu berisiko memprovokasi Kim Jong-un si diktator muda Korea Utara yang jiwanya labil tetapi mengendalikan senjata nuklir.

Richard Nephew, pakar sanksi Iran dari Departemen Luar Negeri era Obama, mengungkapkan sebagian bocoran dari orang dalam pemerintahan kemungkinan dilakukan demi memberi tahu masyarakat bahwa nasihat-nasihat mereka tidak digubris presiden, padahal kejadian buruk bakal terjadi di depan mata. "Saya kira ini adalah cara orang-orang dalam pemerintahan memberi tahu publik bahwa mereka sudah mencoba melakukan hal yang benar dan itu satu-satunya yang mereka bisa lakukan dalam pemerintahan yang bermusuhan," kata Nephew.

Fakta itu bersesuaian dengan misalnya ketika Associated Press melaporkan rincian pembicaraan telepon pada 27 Januari antara Trump dan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto di mana AP menuliskan bahwa Trump menyebut Meksiko dikuasai bad hombres (penjahat) dan untuk itu dia siap mengirimkan tentara AS ke Meksiko untuk menanganinya. (Gedung Putih kemudian mengklarifikasi bahwa Trump cuma bercanda).

Lalu, laporan Washington Post mengenai detail percakapan 28 Januari antara Trump dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull di mana Trump marah-marah mengecam kesepakatan pengiriman pengungsi yang ditampung sementara di Australia untuk diteruskan ke Amerika Serikat, padahal itu adalah kesepakatan bilateral Australia-AS yang sudah ditandatangani kedua belah pihak.

Sementara itu, New York Times, menurunkan tulisan yang menggambarkan seorang presiden yang merenung sendirian di tengah malam di Gedung Putih sambil mengenakan kimono mandi, yang terlalu sering menonton televisi kabel dan menyalurkan keputusasaannya dengan mengeluarkan cuitan-cuitan penuh kemarahan.

"Saya kira itu lolongan meminta bantuan," kata Elizabeth Rosenberg, pakar kontraterorisme pada Departemen Keuangan era Obama.  Dia mengungkapkan banyak staf pemerintahan yang tetap bekerja pada badan-badan keamanan nasional di bawah Trump menyaksikan apa yang sedang terjadi dan menyebut kelakuan Trump itu didorong oleh motif yang sederhana, yakni "ketidakpercayaan dan kebutuhan untuk berbagi."

             Gedung Putih sengit membantah

Gedung Putih tentu saja membantah semua kabar ini, termasuk laporan Trump punya kimono mandi sendiri. Pejabat Gedung Putih lainnya membantah anggapan bahwa staf pemerintahan Trump meremehkan kompetensi dia.

Ron Kaufman, yang bekerja di Gedung Putih era Presiden George H.W. Bush pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, menjelaskan bahwa bocoran informasi dari dalam pemerintahan Trump adalah umum terjadi pada awal-awal pemerintahan. "Selalu ada bocoran. Setiap presiden dalam sejarah berkata bahwa 'pers membenci saya' dan 'terlalu banyak kebocoran'", kata dia.

Anggota Komite Nasional Republik Randy Evans mengaku tidak merasakan ada gejala bahwa staf pemerintahan Trump mempertanyakan kompetensi Trump dalam memangku jabatan presiden.

"Belum, sebenarnya. Kita masih terlalu dini di proses itu. Saya kira Anda terlalu banyak melihat senda gurau politik dan perasaan-perasaan yang menganggap diri sendiri penting," kata Evans.

Tetapi anggapan Trump punya temperamen yang tidak cocok untuk presiden adalah bukan hal baru. Isu ini sudah menjadi bahasan utama mengenai pribadi dia yang mengemuka baik selama pemilihan bakal calon presiden dari Partai Republik setahun silam maupun saat Pemilu musim panas dan musim gugur lalu. Waktu itu, Trump tidak berkeberatan dikatai seperti itu dan malah menyebutnya predikat kehormatan karena statusnya sebagai "orang luar" yang anti-kemapanan.

Namun temperamen seperti itu menjadi mengkhawatirkan ketika berkaitan dengan keputusan-keputusan menyangkut hidup-mati warga AS yang mesti diambil Gedung Putih, seperti pada gugurnya seorang prajurit komando Angkatan Laut dalam operasi penggerebekan yang gagal di Yaman pada 29 Januari. Saat itu Trump menyetujui operasi tersebut menyusul rapat malam hari yang diikuti penasihat politik utamanya. yakni mantan Kepala Breitbart News Stephen Bannon yang keanggotaan permanennya dalam NSC menjadi sumber bocor membocorkan di Gedung Putih. Tim lama keamanan nasional sudah mengingatkan bahaya di balik operasi penyergapan itu.

"Komunitas intelijen mati-matian mencari cara untuk mendapatkan celah untuk menjauhkan kebijakan-kebijakan berbahaya dari vektor malapetaka," kata Rick Wilson, mantan pejabat Pentagon yang mengetahui pasti masalah intelijen dan terkenal kritis sekali kepada Trump.

Evans mengatakan pada titik tertentu Gedung Putih harus mengangggap serius pembocoran informasi yang membahayakan, seandainya mereka ingin mengendalikan pesan-pesannya. Dia menggambarkan metode sengaja merilis berita-berita positif ke para staf adalah untuk melihat apa yang akan mundul di media.

Namun menurut Cohen yang kini mengajar pada School of Advanced International Studies, Universitas Johns Hopkins, masalahnya bukan soal pembocor informasi, melainkan presidennya sendiri.  Mengapa? Karena Trump tak mempercayai atau menghormati orang-orang di luar keluarganya, sehingga dia seperti tidak bisa berharap banyak dari stafnya.

"Inilah yang terjadi ketika Anda memiliki presiden yang narsistis," kata Cohen. (Sumber: Huffington Post)

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga