Selasa, 22 Agustus 2017

Pakar: Kualitas kehidupan seks pengaruhi kinerja seseorang

id pengamat, kehidupan, sekx, kinerja pegawai, pakar seksologi, dokter Boyke Dian Nugraha
Pakar: Kualitas kehidupan seks pengaruhi kinerja seseorang
DR Boyke Dian Nugraha (kiri)(Antarasumsel.com/ist)
Cilacap (Antarasumsel.com) - Kualitas kehidupan seks seseorang akan memengaruhi kinerja orang itu terutama yang menempati jabatan penting, kata pakar seksologi dokter Boyke Dian Nugraha.

"Kita harus tahu seks yang baik, yang sehat, bersama istri yang sah itu bisa meningkatkan kualitas kerja," katanya di sela-sela Seminar Kesehatan yang digelar Pertamina Refinery Unit IV Cilacap dalam rangka Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Patra Graha, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa.

Ia mengatakan berbagai macam penelitian menunjukkan bahwa pasangan suami-istri (pasutri) yang hidupnya harmonis, kehidupan seksnya baik, suaminya tidak impoten atau tidak ejakulasi dini, dan istrinya tidak frigid biasanya mereka akan bahagia.

Ketika kehidupannya bahagia, kata dia, akan menjadi pimpinan yang disayang oleh anak buahnya, tidak mudah marah, tidak akan mudah dendam kepada karyawannya, dan tidak mudah main pecat.

Akan tetapi, lanjut dia, beberapa penelitian juga menyebutkan orang-orang yang mengalami ejakulasi dini dalam kehidupan seksnya, jika menjadi pimpinan sering marah-marah.

"Itu karena rasa kecewa dia di tempat tidur akan diungkapkan dalam bentuk kompensasi kepada karyawan. Jadi, kalau kita menemukan pimpinan kerjanya marah-marah dan menyalahkan anak buah melulu itu berkaitan dengan kemampuan seksnya di ranjang mungkin jelek, mungkin dia harus berkonsultasi," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, seseorang yang sudah puas secara seksual akan merasa puas pula terhadap hal-hal lainnya.

Boyke mengakui makin tinggi jabatan seseorang akan membuat orang itu merasa semakin berkuasa dan ketika tidak kuat iman, maka akan dikelilingi wanita-wanita.

"Banyak sekali kajian dalam klinik pasutri bahwa perselingkuhan itu terjadi ketika istri berusia 40 tahun ke atas dan suaminya berusia 45-46 tahun ketika dia mendapatkan jabatan-jabatan puncak ataupun jabatan-jabatan manajer menengah," katanya.

Ia mengatakan perselingkuhan itu terjadi karena ada uang, disukai, dan punya kekuasaan.

"Apalagi kalau kekuasaan itu memegang jabatan-jabatan basah, misalnya pengadaan barang, pengeluaran keuangan, yang seperti-seperti itu atau yang menentukan siapa yang akan menjadi kontraktor biasanya sogokan yang paling manjur adalah perempuan," katanya.

Lebih lanjut, Boyke mengatakan orang-orang yang sering berselingkuh kemungkinan besar akan mudah tertular penyakit-penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS dan kanker mulut rahim.

Dengan adanya dua penyakit berbahaya itu, kata dia, orang-orang harusnya berpikir apakah akan berselingkuh atau tetap setia dengan pasangannya karena sampai sekarang, HIV/AIDS belum ada obatnya.

Berdasarkan penelitian, lanjut dia, virus HIV/AIDS bisa meniru semua obat-obatan yang ada sehingga obat untuk penyakit berbahaya itu sampai sekarang belum ditemukan.

"Sekarang tinggal nalar kita yang memilih, apakah akan terjerumus dalam hal-hal tersebut karena orang-orang yang terkena HIV itu kelihatan sehat tetapi setelah dicek darahnya ternyata terkena HIV/AIDS. Itu karena masa inkubasinya lima sampai 10 tahun baru kelihatan," katanya.

Ia mengatakan iman dan takwa harus menjadi kunci agar tidak terjadi perselingkuhan dan tetap setia dengan pasangan resminya.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga