Selasa, 28 Maret 2017

Jubah kebesaran Raja Salman

id Raja Salman, bisht, petrodolar, Khadimul Haraman Al-Syarifain Salman, baju, jubah, Abdulaziz al-Saud, pemimpin negara, arab saudi,
Jubah kebesaran Raja Salman
Salman bin Abdulazis Al Saud (Antarasumsel.com/Reuters)
...."Bisht" atau jubah itu merupakan busana resmi pilihan bagi kalangan politisi, ulama, dan kalangan atas bagi negara-negara di dunia Arab....
Jakarta (Antarasumsel.com) - Raja Arab Saudi Sri Baginda Khadimul Haraman Al-Syarifain Salman bin Abdulaziz al-Saud beserta rombongan mendarat mulus dan disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu.

Kedua kepala negara itu saling bersalaman dan cium pipi pertanda kehangatan dan keakraban pemimpin kedua negara.

Hal lain yang juga menarik dari kedatangan Raja Salman, selain menuruni tangga pesawat dengan menggunakan eskalator yang khusus dibawa dari negerinya, juga jubah kebesaran yang dikenakannya.

Ia mengenakan "bisht", istilah Arab untuk jubah luar pada tradisi busana negara-negara Arab pada umumnya, yang berbeda dengan anggota rombongannya, para pangeran dan para menteri serta pejabat tinggi pemerintah kerajaan negeri yang terkenal dengan sebutan "petrodolar" itu.

Raja Salman mengenakan jubah atau "bisht" cokelat madu dan ornamen sulaman tepi jubah berwarna keemasan pada kerah dan lengan serta "ghutrah" atau penutup kepala atau sorban motif bergaris merah, lengkap dengan pengencang berwarna hitam untuk penutup kepala. Jubah bagian dalam Raja Salman berwarna beige.

Sementara Raja Faisal saat berkunjung ke Indonesia pada 10 Juni 1970 mengenakan "bisht" berwarna hitam, juga dengan sulaman keemasan pada tepi jubah.

Rima Almukhtar dari Arab News pernah membuat tulisan berjudul "Traditional & Modern: The Saudi Mans Bisht" pada 7 November 2012 bahwa jubah itu biasanya terbuat dari kain wol dengan beragam warna dari putih, beige, krem, hingga cokelat, abu-abu dan hitam.

"Bisht" atau jubah itu merupakan busana resmi pilihan bagi kalangan politisi, ulama, dan kalangan atas bagi negara-negara di dunia Arab.

Rima Almukhtar mengutip pendapat seorang penjahit ternama Arab Saudi dari Al Ahsa bernama Abu Salem bahwa "bisht" awalnya dibuat di Persia. Arab Saudi mengenal busana tradisional itu ketika pedagang asal Persia mengenakan "bisht" saat menjalankan ibadah haji dan umrah di Mekkah, Arab Saudi.

Al Ahsa merupakan provinsi di Arab Saudi bagian timur dan dikenal sebagai daerah asal para penjahit "bisht" terbaik di Arab Saudi selama lebih dari 200 tahun, dan menjadi provinsi dengan produsen terkemuka di negara-negara untuk kawasan Teluk sejak 1940.

Berbagai perusahaan pembuat busana tradisional "bisht" terkenal itu antara lain Al-Qattan, Al-Kharas, Al-Mahdi, atau Al-Bagli. Beragam "bisht" dikenali dari sulamannya dari benang emas, perak, dan sutera.

Di pasaran di negara-negara Arab, harga satu busana "bisht" bervariasi antara 100 Riyal Saudi atau Rp356.500 (nilai tukar satu Riyal sama dengan Rp3.565) hingga 20 ribu Riyal Saudi atau Rp71,3 juta tergantung dari pabrik, jahitan, warna, dan model.

Paling mahal adalah "bisht" untuk keluarga Kerajaan Arab Saudi yang khusus dijahit untuk raja, pangeran, politisi, dan kalangan kaya raya. Umumnya keluarga kerajaan mengenakan jubah berwarna hitam, cokelat madu, beige, dan krem.

"Bisht" untuk kalangan kerajaan sangat mahal karena merupakan buatan tangan (bukan pabrik), menggunakan benang emas, benang perak, atau kombinasi benang emas dan perak.

Terdapat tiga desan "bisht" utama untuk kalangan kerajaan Arab Saudi, yakni Darbeyah, Mekasar, dan Tarkeeb.

Darbeyah terkenal dengan buatan tangan dengan sulaman pola tradisonal. Mekasar atau yang dikenal denga Gasbi memiliki sulaman sutera, sedangkan Tarkeeb dengan sulaman emas.

Jubah dengan sulaman emas membutuhkan waktu lebih lama dalam pembuatannya karena membutuhkan keterampilan tertentu dengan tingkat akurasi yang tinggi. Lamanya waktu tergantung pada model dan rancangannya.

Untuk membuat "bisht" buatan tangan, model Hasawi, bisa memakan waktu antara 80 hingga 120 jam dengan empat penjahit sekaligus dengan tugas masing-masing.

Jubah Hasawi yang khusus dari Al Ahsa, menjadi yang paling mahal karena menggunakan rambut unta (camelus) atau rambut llama (camelidae) atau wol dari domba (caprinae) dengan sulaman emas pada bagian kerah dan lengan.

Meskipun "bisht" memiliki dua lengan tetapi secara tradisional mereka yang mengenakannya umumnya hanya memasukkan tangannya pada salah satu sisi lengan jubah sedangkan sisi lainnya dibiarkan tergantung.


          Antusias

Selain jubah kebesaran Raja Salman, hal menarik dari kedatangan Kepala Negara Kerajaan Arab Saudi itu adalah antusiasme masyarakat dalam menyambut tamu negara tersebut.

Deretan masyarakat tampak berjajar dari Bandara Halim, seputar kawasan Halim, pengendara dan penumpang yang menghentikan kendaraannya di jalan tol Jagorawi, hingga masyarakat di sekitar Istana Kepresidenan di Kota Bogor.

Kedatangan Raja Salman menjadi magnet bagi warga Kota Bogor yang sangat antusias menyambut kedatangannya, sejak pagi hari hingga saat Raja tiba dan diwarnai hujan deras.

Banyak warga sejak pagi telah berdatangan dan memadati pusat kota, berdiri berjejer di trotoar sepanjang jalan protokol menuju Istana Bogor.

Suasana tampak berbeda dari penyambutan tamu negara sebelumnya, warga membaur memadati setiap penggir pusat kota mulai dari gerbang tol Bogor menuju Jalan Otista, Juanda, Balai Kota, hingga ke Jalan Jalak Harupat.

Dua jam menjelang kedatangan, suasana lebih meriah, dan pusat kota dipadati oleh warga yang ingin melihat kedatangan tamu negara.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang berbaur bersama masyarakat menyebutkan kemeriahan menyambut kedatangan Raja Salman sudah tampak sejak pagi hari. Pelajar dari berbagai sekolah bersama warga Kota Bogor dan sekitarnya berbaris di sepanjang jalan yang dilalui tamu negarar.

Menurut Bima, warga merasa memiliki kedekatan emosional dengan Raja Salman karena mayoritas warga Muslim dan di Kota Bogor terdapat kampung khusus yang dihuni warga keturunan Arab.

Ia juga menilai pemberitaan media yang cukup banyak membuat warga mendapatkan informasi tentang Raja Salman dan ingin mengetahui secara langsung.

"Liputan media cukup maksimal menjelang kedatangan, kekuatan emosional terhadap Raja Salman juga," tuturnya.

Menurut Bima, figur Raja Salman dikenal sebagai sosok yang humanis, gemar berderma, dan ramah. Apalagi Raja Salman itu sejak usia 10 tahun sudah hafal Al Quran. Figurnya sangat kuat di mata masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Warga masyarakat selain mengibarkan bendera Merah Putih juga mengibarkan bendera Kerajaan Arab Saudi.

Meskipun telah dibuat garis pembatas, pelajar dan warga sangat antusias untuk melambaikan tangan dan bendera.

Tidak ada sterilisasi, dan tidak ada pembatasan, warga dan pelajar yang ingin menyambut kedatangan Raja Salman dapat leluasa melambaikan tangan di sepanjang pinggir jalan yang dilalui.

Kota Bogor mengerahkan sekitar 50 ribu pelajar dan didampingi 10 ribu gurunya. Ditambah dengan warga yang secara sukarela datang hanya untuk melihat kedatangan Raja Salman.

Eki Salim Bawazir, seorang pelukis jalanan yang biasa mangkal di Jalan Juanda, di sekitar Istana Bogor, secara khusus bahkan memajang lukisan wajah Raja Salman dari hasil karyanya.

Lukisan naturalis menggunakan pensil tersebut diberi bingkai kayu berwarna emas. Ia khusus membuat lukisan itu untuk menghormati kedatangan Raja Salman.

Surat kabar nasional, Republika, bahkan membuat berita utama pada halaman mukanya dengan lukisan Raja Salman dan berita berbahasa Arab berjudul "Ahlan wa Sahlan".

Antusiasme menyambut kedatangan Raja Salman ini menunjukkan keramahtamahan masyakarat Indonesia selaku tuan rumah yang baik dalam menyambut tamu negara.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga