Selasa, 27 Juni 2017

Jilbab selfie awali festival film di London

id Jihad Selfie, festival film, sutradara, Noorhuda Ismail, Deptford Cinema,
Jilbab selfie awali festival film di London
Jihad Selfie (Jihad Selfie.com)
London (Antarasumsel.com) - Film dokumenter Jihad Selfie karya sutradara Noorhuda Ismail, mengawali Festival Film Indonesia yang dinamai Films of The Archipelago yang diadakan di Deptford Cinema, sebuah bioskop berbasis komunitas di Tenggara London, 4-26 Maret 2017.

Penggagas acara festival film Indonesia di London, Lenah Susianty dan Paul Flanders kepada Antara London, Kamis mengatakan dalam Festival Film akan diputar bermacam ragam, mulai dari film-film dokumenter seperti Jihad Selfie sampai film laga dibintangi  Iko Uwais yang namanya cukup dikenal di Inggris berkat filmnya The Raid.

Menurut Lenah Susianty, Festival ini diadakan karena saat ini film Indonesia belum banyak dikenal di Inggris. Hal ini mungkin juga disebabkan karena tidak adanya hubungan dengan perusahaan pendistribusi film di Inggris. Hanya beberapa film saja yang bisa masuk ke bioskop umum di Inggris, seperti The Raid yang disutradarai Gareth Evans, ujarnya.

Untuk itu Lenah Susianty dan Paul Flanders, yang penggagas acara festival film Indonesia ini, berusaha menampilkan film dengan berbagai genre untuk menunjukkan bahwa film Indonesia memiliki potensi besar dan perlu diputar untuk khalayak yang lebih luas.

"Kami berdua penggemar film, termasuk film Indonesia dan merasa sudah saatnya film Indonesia mulai unjuk gigi di dunia internasional," ujar Lenah Susianty.

Film Indonesia lainnya yang akan di putar selama festival Street Punk Banda Aceh, film Jalanan, Maryam, Lovely Man, film laga Headshot, dan Pintu Terlarang dengan harga tiket sebesar lima poundsterling.

Beberapa film lain memang mengenakan biaya untuk lisensi pemutaran, tetapi dengan dukungan dana dari KBRI di London, kami akhirnya bisa mengadakan acara ini,¿kata Lenah Susianty, penerjemah yang lama tinggal di London.

Deptford Cinema dipilih untuk menjadi tempat festival karena kedua penggagas acara memang aktif menjadi sukarelawan di bioskop nirlaba yang sepenuhnya dikelola sukarelawan. ¿Ini benar-benar bioskop masyarakat, harganya jauh lebih rendah dibandingkan bioskop umum dan untuk penduduk sekitar ada harga khusus, ujar Lenah.  
Sementara itu Paul Flanders mengakui setelah terpikir untuk mengadakan acara dan penggagas acara segera mencari film yang cocok dan kemudian menghubungi para sutradara dan produser film untuk meminta izin.

"Untungnya sutradara dan produser dari film yang kami pilih sangat mendukung acara ini, beberapa malah memberi filmnya gratis untuk diputar," kata Paul Flanders yang mengaku penggemar Iko Uwais.

Di sini yang ada 100% hasil kerja  para sukarelawan, semua bekerja bukan hanya memutar film, tetapi mulai dari mengecat tembok sampai membuat meja yang ada di sini, menjual tiket, menjual minuman di kafe bioskop, semuanya dikerjakan oleh sukarelawan, kata Paul Flanders yang sehari-harinya bekerja di bagian IT.

Bioskop kecil dengan kapasitas 40 kursi ini bukan saja memutar film tetapi juga sering menjadi tempat konser, pameran dan acara-acara lain.

Bahkan kadang-kadang disewa juga untuk acara ulang tahun anak-anak yang diramaikan dengan pemutaran film, ujarnya.

Bioskop ini sudah memenangkan penghargaan  Best Film Programming award dan the Engholm Prize untuk Bioskop Komunitas pada tahun 2016, demikian Lenah Susianty.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga