Selasa, 22 Agustus 2017

Kemenkes: Kekerdilan bukan melulu kemiskinan tapi ketidaktahuan

id kemiskinan, gizi, Anung Sugihantono, dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, kekerdilan, kemiskinan, ketidaktahuan, makanan, makanan sehat
Kemenkes: Kekerdilan bukan melulu kemiskinan tapi ketidaktahuan
Ilustrasi Sejumlah siswa tengah mengantri membeli jajanan (Antarasumsel.com/Awi)
Jakarta (Antarasumsel.com) - Permasalahan kekerdilan (stunting) pada balita bukan melulu disebabkan karena masalah kemiskinan melainkan ketidaktahuan masyarakat terhadap pemenuhan gizi, kata Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono.

"Persoalan 'input' makanan ini bukan sekadar persoalan kemiskinan, tapi justru ketidaktahuan lebih menonjol. Bukan karena tidak punya makanan, tapi dia tidak mampu memilih makanan yang seharusnya dimakan," kata Anung dalam diskusi mengenai pemenuhan gizi di Jakarta, Selasa.

Anung mencontohkan kasus di Kepulauan Seribu Jakarta, di mana anak-anak SD lebih memilih membeli makanan ketimbang membawa bekal dari rumah atau memilih makanan yang sehat.

"Ketika dipaksa membawa bekal, pada anak kelas dua ada yang makanannya sama. Ternyata belinya di warung yang sama, jadi memang nggak masak di rumah. Saat ditanya uang sakunya, per hari Rp10 ribu," kisah dia.

Anung menekankan pada pola asuh orang tua yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Ketika suatu keluarga sudah mampu membeli dan memilih bahan makanan, kata dia, sering kali cara mengolah makanan tersebut tidak tepat sehingga mengurangi kandungan gizi pada makanan.

Anung menyebutkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan angka prevalensi kekerdilan sebesar 37,2 persen di Indonesia. Sedangkan, data dari hasil pemantauan status gizi 2016 sebesar 27,5 persen termasuk kategori kekerdilan.

Kategori kekerdilan yang tergolong pendek dan sangat pendek. Sementara untuk kategori sangat pendek sebesar 9 persen.

Permasalahan utama penyebab kekerdilan pada balita didasarkan pada tiga faktor yang mempengaruhi, yakni asupan makanan, penyakit yang ada pada anak, dan juga faktor-faktor lain yang ada di luar manusia.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga