Kamis, 21 September 2017

Ogan Komering Ilir siap sambut delegasi Bonn Challenge

id iskandar, ogan komering ilir
Ogan Komering Ilir siap sambut delegasi Bonn Challenge
Bupati Kabupaten Ogan Komering Ilir Iskandar (Foto Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/15/den)
Kayuagung (Antarasumsel.com) - Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, siap menyambut delegasi Bonn Challenge atau Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup se-dunia yang direncanakan memiliki agenda kunjungan lapangan ke kebun plasma nutfah di Sepucuk, Kayuagung pada 9 Mei 2017.

Bupati Ogan Komering Ilir Iskandar di Kayuagung, Sabtu, mengatakan Pemerintah Kabupaten OKI saat ini bersiapa menyambut 40 delegasi negara asing yang akan menghadiri The 1st Asia Bonn Challenge High Level Meeting pada 9-10 Mei mendatang.

"Diperkirakan akan ada 250 orang yang datang ke Sepucuk dalam field trip nanti. Tentunya OKI bersiap untuk menyambut para delegasi Bonn Challenge ini," kata dia.

Ia mengatakan ditetapkannya lokasi plasma nutpah Sepucuk sebagai salah satu agenda Bonn Challange pertama di Asia ini menurut Iskandar karena pelestarian tanaman lokal di hutan buatan ini dianggap salah satu yang berhasil dilakukan di dunia.

Delegasi bonn challange yang akan hadir yakni pejabat setingkat menteri, ataupun perwakilan negara yang peduli akan lingkungan hidup akan melihat langsung bagaimana Sumatera Selatan dapat mengelola hutan buatan.

"Wakil dari seluruh belahan dunia akan datang, semoga ini memberi dampak positif kepada warga OKI," kata dia.

Kepala DLH Kabupaten OKI mengatakan Bonn Challenge ini diselenggarakan sebagai upaya dunia menyelamatkan lingkungan melalui restorasi awasan berwawasan green growth.

"Kegiatan ini juga dalam rangka mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran lahan gambut serta merestorasi bekas lahan gambut yang terbakar," kata dia.

Provinsi Sumsel sempat menarik perhatian dunia internasional pada 2015 karena terjadi kebakaran hutan dan lahan yang hebat dengan menghanguskan 736.563 hektare.

Pada 2016, Sumsel berhasil menekan karhutla hingga 99,87 persen jika dibandingkan 2015 karena menerapkan manajemen pendeteksian dini dan pengaruh iklim kemarau basah.

Editor: Dolly Rosana

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga