Senin, 26 Juni 2017

Ayah punya anak di usia senja, ini yang harus dilakukan

id anak, ayah, orang tua, komedian Doyok, Ahmad Albar, usia senja, vokalis God Bless, berusia paruh baya, komunikasi
Ayah punya anak di usia senja, ini yang harus dilakukan
Ilustrasi (Ist)
Jakarta (Antarasumsel.com) - Kabar bahagia datang dari dunia hiburan, dua selebriti yang tak lagi berusia muda pekan lalu baru saja menikmati kebahagiaan untuk kembali menimang anak. Mereka adalah komedian Doyok (62) dan penyanyi rock Ahmad Albar (70).

Komedian bernama asli Sudarmadji tersebut baru saja dianugerahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Salman Dramun Ibrahim pada 5 April lalu, sementara sang vokalis God Bless Minggu lalu (9/4) dikaruniai seorang putri yang diberi nama Malayeka Shaezan Albar.

Meski telah berusia senja, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dan harus diperhatikan oleh seorang ayah yang tak lagi muda untuk menjalin hubungan dengan anak.

"Kalau si ayah usianya sudah sangat tua intinya menjadi ayah yang baik saja. Bahwa akan bermain secara fisik terlibat 100 persen tidak mungkin, tapi insyaAllah bonding emosi masih bisa," ujar psikolog Tika Bisono kepada ANTARA News saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu.

"Masih bisa dekat dengan anak karena bonding emosi terjadi karena interaksi," lanjut dia.

Lebih lanjut, Tika mengatakan, meski berusia paruh baya dan interaksi fisik minimun, bonding masih dapat dijalin melalui emosi yang dibangun lewat komunikasi.

"Ngobrol harus oke. Konten ngobrol ini yang harus dipastikan, entah cerita jaman dulu, entah waktu sekolah. Anak harus takjub akan pengalaman hidup ayahnya," ujar dia.

Selain itu, sang ayah juga diharap mampu beradaptasi dengan apa yang diharapkan si anak. Dari segi penampilan, misalnya, agar tidak kalah dengan ayah teman-teman si anak pada saat memasuki usia sekolah.

"Tidak boleh terlalu mbah-mbah bajunya. Harus berpenampilan yang mudaan, jangan kelihatan tambah tua. Kalau kelihatan tak berdaya akhirnya si anak merasa ayah enggak bisa diharapkan, enggak bisa dibanggakan," kata Tika.

"Jadi, benar-benar ayah yang tua tapi cool," sambung dia.

Sementara itu, untuk mengejar ketinggalan dalam minimnya interaksi fisik yang terjalin, sang ayah dapat mengakalinya di aspek kognitif.

"Bisa mengejar dengan membacakan dongeng atau membuat prakarya untuk menghadirkan interaksi. Bisa pergi jalan bareng, kalau aktivitas berat yang berisiko bagi kesehatan itu bagian si ibu, si ayah juga harus paham faktor fisiologis dan biologis, bisa konsultasi ke dokter," ujar Tika.

"Mengejar interaksi harus kencang. Kalau sesuatu terjadi pada ayah, dipanggil, yang diingat oleh si anak adalah interaksi yang mendalam," tambah dia.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga