Rabu, 23 Agustus 2017

LRT Palembang kejar "Prestasi" di Asian Games

id lrt, jembatan ampera, asian games, Waskita Karya, kereta api ringan, light rapid transit
LRT Palembang kejar
Sejumlah pekerja dan alat berat melakukan pembangunan tiang kereta api ringan / Light Rail Transit (LRT) di atas sungai musi (zona Ampera), Palembang, Sumatera Selatam, Sabtu (1/4).(Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/Dol/17)
....Para pekerja ikut menggesa proyek siang dan malam untuk menyelesaikan jembatan itu agar LRT bisa beroperasi sekaligus menyukseskan Asian Games XVIII....
Jakarta (Antarasumsel.com) - Sejumlah operator alat berat sedang memindahkan sejumlah material di sekitar Jembatan Ampera yang membelah Kota Palembang, pekan lalu, sedangkan sejumlah pekerja lainnya sedang merapikan tiang penyangga jembatan.

Para pekerja ini bukan sedang memperbaiki Jembatan Ampera yang telah menjadi ikon Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan sejak 1965 itu atau membuat jembatan baru sehingga kapasitas Jembatan Ampera yang dibangun menggunakan dana pampasan perang dari Jepang bertambah dari empat jalur menjadi enam jalur.

Para pekerja dan karyawan PT Waskita Karya (Persero) ini sedang membuat jembatan baru yang akan dilewati jalur kereta ringan atau LRT (light rapid transit).

Jembatan LRT sepanjang 445 meter ini akan dibuat sejajar dengan Jembatan Ampera sepanjang 1.117 meter. Jembatan LRT lebih pendek karena langsung menyatu dengan jalurnya yang dibuat melayang sedangkan Jembatan Ampera lebih panjang karena ada sisi darat jembatan yang bertemu dengan jalan raya biasa.

Para pekerja ikut menggesa proyek siang dan malam untuk menyelesaikan jembatan itu agar LRT bisa beroperasi sekaligus menyukseskan Asian Games XVIII di Palembang pada 18 Agustus hingga 2 September 2017.

Saat ini, baru satu dari empat tiang jembatan LRT yang berdiri di tengah sungai sedangkan empat tiang jembatan di pinggir sungai telah selesai.

Bukan pekerjaan mudah untuk membangun jembatan ini karena selain arus sungai, kepadatan lalu lintas kendaraan dan orang di sekitar Jembatan Musi juga menjadi tantangan sendiri.

Jembatan senilai Rp384 miliar itu menjadi bagian dari nilai proyek LRT sebesar Rp10,94 triliun. Pihak pelaksana menyatakan pembangunan jembatan masih sesuai dengan target waktu yang ditetapkan.

Selain jembatan, PT Waskita Karya (Persero) yang ditunjuk membangun LRT berdasarkan penugasan melalui Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 yang diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2016 itu juga sedang membangun 13 stasiun, satu depo, 19 gardu listrik dan jalur 23,4 km mulai dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang sampai kawasan OPI Mall.

Ke-13 stasiun itu adalah Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Asrama Haji, Talang Buruk, RSUP, Simpang Polda, Demang Lebar Daun, Palembang Ikon, Dishub, Pasar Cinde, Ampera, Poltabes, Jakabaring, OPI Mall dan depo LRT.

Halte Jakabaring akan menjadi pusat Asian Games 2018 karena di sampinnya berdiri Stadion Gelora Sriwijaya atau dikenal dengan Stadion Jakabaring. Stadion multifungsi ini merupakan terbesar ketiga setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta dan Stadion Utama Palaran di Samarinda.

    
              Masalah Menghambat
Kendati telah dikerjakan siang-malam sejak 21 Oktober 2015, namun proyek ini masih menghadapi sejumlah masalah yang menghambat kemajuan menuju titik penyelesaian akhir.

Dokumen laporan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menyebutkan kabel-kabel PT PLN banyak bersinggungan dengan proyek LRT terutama saat pembangunan jembatan penyeberangan orang dan stasiun. Jembatan ini penting untuk memudahkan penumpang masuk stasiun berada di dibuat melayang.

Untuk itu, Gubernur Sulawesi Selatan Alex Noerdin yang selama ini getol memperjuangkan LRT, terutama menyediakan lahan, telah menyurati Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar PLN merelokasi kabel di sekitar proyek LRT dengan biaya dari PLN, namun hingga kini masih belum ada informasi dari perusahaan listrik itu.

Kendala lain adalah pembangunan depo LRT yang hingga saat ini masih dalam tahap pemadatan tanah dan belum ada pembangunan yang bisa terlihat secara fisik.

        
                
              Optimistis
Kendati demikian, Kementerian Perhubungan sangat optimistis proyek yang akan menjadi LRT pertama di Indonesia sejak Indonesia nerdeka itu akan selesai tepat waktu.

"Mau tidak mau. Suka atau tidak suka. LRT harus jadi sebelum Asian Games," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Prasetyo Boeditjahjono dengan nada singkat saat mengunjungi proyek LRT pekan lalu.

Sementara itu, pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan LRT Sumatera Selatan Suranto menjelaskan hingga 19 Mei 2017, perkembangan proyek telah mencapai 42 persen.

Realisasi itu lebih cepat dibandingkan dengan target sebesar 36,9 persen, kata Suranto saat bertemu dengan sejumlah wartawan di Palembang, pekan lalu.

"Kami kerja siang dan malam. Dikebut agar LRT bisa dipakai untuk dukung pelaksaan Asian Games 2018," katanya.

Realisasi proyek itu diharapkan akan mencapai 80,8 persen pada bulan Desember 2017 dan 100 persen pada bulan Juni 2018.

Konstruksi fisik LRT ditargetkan selesai pada bulan Februari 2018, pengadaan sarana selesai Maret 2018, pengujian dan sertifikasi selesai pada Mei 2018 sehingga bisa beroperasi pada Juni 2018.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi justru meminta LRT di Kota Palembang bisa beroperasi lebih cepat dibandingkan dengan target agar masih ada waktu pembenahan jika ada permasalahan saat resmi beroperasi.

"Dari peninjauan saya tadi, ada catatan bahwa ada kepastian pembangunan akan terlaksana Juni 2018, namun saya minta dipercepat. Misalnya, dimajukan satu bulan," kata Budi usai meninjau proyek pembangunan LRT di Palembang, Sabtu (20/5).
    
Ia mengatakan jika beroperasi lebih cepat maka pihak operator masih bisa mengantisipasi jika ada sesuatu yang menghambat operasional LRT pertama di Indonesia itu.

Menurut dia, saat ini beberapa bagian rel LRT sudah datang sehingga pekerjaan konstruksi bisa dipercepat lagi dengan menambah tenaga kerja.

"Kalau tenaga kerja lebih banyak, kan lebih cepat" katanya menegaskan.

Ia mengatakan gerbong LRT saat ini sedang dikerjakan oleh PT Inka (Persero) di Madiun dan sejauh ini dia melihat gerbong akan datang tepat waktu.

Menurut dia, gerbong LRT akan mulai dikirim pada April 2018 dan pada tahap awal akan beroperasi delapan set yang masing-masing berisi tiga kereta. Selanjutnya akan ditambah hingga mencapai 14 set saat beroperasi secara penuh.

Menteri Perhubungan juga optimistis PT LEN (Persero) yang menangani pengadaan persinyalan LRT juga akan mampu bekerja dengan baik.

Sedangkan listrik yang menjadi sumber energi penggerak gerbong akan dipasok oleh PT PLN.

LRT memang bukan menjadi venue untuk Asian Games di kota dengan makanan pempek itu, namun LRT ini akan membuat penyelenggaran ajang multiolahraga ini semakin mudah untuk menjangkau venue olahraga tanpa terjebak kemacaten jalan raya.

Tidak ada Asian Games saja, kemacetan jalan Palembang sudah menjadi pemandangan sehari-hari sehingga LRT ini menjadi bukti bahwa Indonesia siap menyediakan transportasi massal nyaman dan aman.

Jika ribuan dari seluruh negara di Asia saat ini terus berlatih untuk menjadi pemenang di Asian Games 2018 maka LRT Palembang pun saat ini juga sedang bekerja keras agar ikut menjadi "pemenang", yakni beroperasi sebelum di Asian Games.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga