Sabtu, 24 Juni 2017

Ngabuburit di habitat gajah Bengkulu

id gajah, gajah bengkulu
Ngabuburit di habitat gajah Bengkulu
Gajah (Foto Antarasumsel.com/Awi)
....Wisata habitat gajah Sumatera di TWA Seblat dapat dijangkau dengan berkendara empat jam dari Kota Bengkulu menuju Desa Koto Bani....
Kegiatan menjelang buka puasa atau ngabuburit umumnya diisi dengan jalan-jalan sore ke objek wisata, lokasi perbelanjaan dan pusat keramaian lainnya.

Namun, ngabuburit di area habitat gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) di Pusat Latihan Gajah Seblat, Desa Sukabaru, Bengkulu Utara, bisa menjadi pengalaman unik.

Selain menambah wawasan, pengunjung juga dapat berinteraksi langsung dengan satwa langka yang dibina oleh para mahout atau pawang gajah di sana.

"Sangat seru. Ini pengalaman pertama saya bisa langsung menyentuh gajah dan berswafoto," kata Riko, pengunjung PLG Seblat, pada sore akhir pekan lalu.

Riko, pemuda asal Bandung, berkunjung ke PLG Seblat yang masuk dalam Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, untuk melihat gajah-gajah jinak yang ada di sana.

Bersama anggota keluarganya yang tinggal di Desa Kota Bani, Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara, Riko bersama empat orang sepupunya menghabiskan sore atau ngabuburit di PLG Seblat.

Sore itu seekor gajah jantan bernama Roby kebetulan sedang dibawa pawang menyeberang Sungai Seblat, untuk mengambil pakan berupa pelepah sawit.

Lokasi penumpukan pakan merupakan area umum yang bisa dimasuki pengunjung tanpa harus membeli tiket atau karcis masuk kawasan.

Riko dan sepupunya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berinteraksi dengan gajah tersebut seperti memberi makan pelepah dan berfoto bersama.

"Sebenarnya mau menyeberang dan main ke kamp tapi harus naik perahu kecil, gak berani," kata Riko.

    
Kendala Penyeberangan
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung Abu Bakar mengatakan ada 12 ekor gajah jinak yang dibina di PLG Seblat.

Dari 12 gajah tersebut, delapan ekor gajah betina dan sisanya gajah jantan.

"Untuk gajah betina sudah diangon di hutan, sedangkan yang jantan pada malam hari dibawa ke sekitar kamp," katanya.

Ia mengatakan empat gajah jantan bernama Roby, Ucok, Nelson dan Dino masih bisa berinteraksi dengan para wisatawan yang memasuki PLG Seblat.

Sedangkan bagi wisatawan yang ingin melihat langsung satwa tersebut di habitatnya dapat mengambil fasilitas trekking ke dalam hutan.

Pihak BKSDA, menyediakan paket trekking ke dalam hutan untuk melihat gajah-gajah betina. Setiap hari posisi delapan gajah itu dipantau oleh dua hingga empat orang pawang.

Abu menambahkan, pengembangan wisata alam di TWA Seblat belum dapat optimal karena keterbatasan sarana dan prasarana, antara lain ketiadaan jembatan penyeberangan dari Desa Sukabaru menuju PLG yang dipisahkan aliran Sungai Seblat.

"Kalau menyeberang dengan perahu kecil resikonya cukup tinggi, tidak aman," ujarnya.

Saat ini para pawang dan petugas pakan masih mengandalkan satu perahu kecil untuk menyeberangi Sungai Seblat menuju kamp PLG.

Rencana pembangunan jembatan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setempat sempat memberi secercah harapan.

Namun, pembangunan pondasi jembatan dari bagian PLG Seblat sudah retak akibat pergerakan tanah yang disebabkan abrasi tinggi.

"Perlu kajian matang untuk menentukan posisi pondasi yang aman dari gerusan air sungai," kata Abu.

Selain jembatan, kondisi jalan menuju Desa Sukabaru juga dikeluhkan oleh para wisatawan.

"Jalan rusak berlubang besar menuju area wisata Seblat, ini membuat kurang nyaman, " kata Rahmadeni, seorang wisatawan lokal.

Kondisi jalan yang aspalnya sudah terkelupas membuat rute dari tugu gajah di Desa Kota Bani menuju Desa Sukabaru menghabiskan waktu tempuh satu jam.

Padahal, bila kondisi jalan memadai, waktu tempuh dapat lebih singkat menjadi 15 menit.

"Seharusnya rute ini jadi perhatian pemerintah, apalagi area wisata Seblat adalah salah satu objek wisata yang diminati," katanya.

Wisata habitat gajah Sumatera di TWA Seblat dapat dijangkau dengan berkendara empat jam dari Kota Bengkulu menuju Desa Koto Bani.

Dari Desa Koto Bani dibutuhkan satu jam berkendara ke Desa Sukabaru dan menyeberang ke PLG Seblat.

Untuk memasuki kawasan ini setiap pengunjung dikenakan tiket masuk kawasan sebesar Rp3.500 dan tiket menelusuri hutan sebesar Rp7.500 per orang.

Di area ini, wisatawan dapat berinteraksi dengan gajah Sumatera, antara lain trekking ke dalam hutan dan memandikan gajah.(Ant)

Editor: M. Suparni

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga