Sabtu, 21 Oktober 2017

Desain Jembatan Musi IV cerminan Budaya Sriwijaya

id jembatan, musi iv
Desain Jembatan Musi IV cerminan Budaya Sriwijaya
Desain jembatan Musi IV cerminan budaya Sriwijaya (Antarasumsel.com/Feny Selly/17)
Palembang (Antarasumsel.com) - Pembangunan jembatan Musi IV sebagai salah satu infrastruktur yang dibangun untuk meringankan beban jembatan Ampera sekaligus penunjang penyelenggaraan Asian Games 2018, memiliki desain mencerminkan budaya Kerajaan Sriwijaya.

"Desain ini dibuat konsultan dengan mempertimbangkan berbagai referensi dan masukan budaya untuk mewujudkan jembatan yang bisa jadi kebanggaan warga Sumsel," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Musi IV dari Satker Pembangunan Jalan dan Jembatan, Suwarno di Palembang, Rabu.

Ia menjelaskan, desain pembangunan jembatan dengan panjang 1.124 meter dan lebar 12 meter ini didominasi warna merah dan keemasan yang diyakini melambangkan Kejayaan era Sriwijaya.

"Ada perdebatan soal warna tapi kedua warna yang merupakan warna songket ini dianggap paling mewakili budaya Sumatera Selatan," ujar Suwarno.

Keberadaan jembatan nanti setelah dibangun akan ada dua tiang penyangga ornamen dari rangka batang. Salah satu Ornamen dari kuningan yang ada di rangka batang adalah singkar sukun Paksangko merupakan perhiasan kepala khas Kerajaan Sriwijaya. Mahkota ini merupakan representasi dari Kasta Ksatria atau Bangsawan dalam sistem masyarakat Hindu. Pada bagian kiri dan kanan mahkota khas Sriwijaya tersebut terdapat dua tangan penari tanggai.

Ornamen lainnya adalah bunga tumpal atau kepala kain songket dengan kombinasi motif pucuk rebung bunga melati dan bunga tajung.

Hiasan lainnya di tiap sisi tiang jembatan adalah bunga tajung yang melambangkan keramah tamahan dalam menyambut tamu atau simbol selamat datang. Bunga melati pada songket sendiri melambangkan kesudian diri sementara pucuk rebung melambangkan harapan baik, katanya.

Namun sayangnya pengerjaan sebagian besar detil yang terbuat dari kuningan tersebut diserahkan kepada pengrajin kuningan di Yogyakarta.

"Kita sudah coba tawarkan kepada pengrajin setempat tetapi tidak ada yang menyanggupi selesai sesuai target pada Juni 2018," kata Suwarno.

Ia berharap, desain ini bisa menjadikan jembatan Musi IV sebagai salah satu landmark kebanggan warga setempat. Jembatan ini juga memiliki jalur pedestrian bagi para pejalan kaki sembari menikmati keindahan Sungai Musi.

Selain desain yang membanggakan, Jemabatan Musi IV juga dilengkapi dengan teknologi modern disebut head monitoring system merupakan sensor peringatan akan berbunyi bila terjadi over loading jembatan atau masalah lainnya.

Dengan demikian, kata dia, jembatan dapat dipantau dan akan dipegang oleh pihak yang ditunjuk oleh Kementerian PU.

Menurut dia, pembangunan Jembatan Musi IV saat ini tengah memasuki 45 persen dengan tiang pancang pondasi atau Bor Pile yang sudah rampung.

"Sebelum libur lebaran kami targetkan 48 persen, kemudian kegiatan pembangunan diliburkan sementara selama cuti bersama Idul Fitri," ujarnya.

Ia menambahkan, jembatan ini ditargetkan dapat rampung diuji coba, dan memperoleh sertifikat pada bulan Juli 2018.

Editor: M. Suparni

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga