Minggu, 24 September 2017

Penyakit jamur pembunuh ditemukan pertama kali di Eropa

id jamur, Penyakit jamur, penyakit kulit, kematian ular, ZSL, US Geological Survey, luka kulit, kudis
London (Antara/Xinhua-OANA) - Penyakit jamur yang telah membunuh ular liar di Amerika Utara telah ditemukan untuk pertama kali di Eropa, kata para ahli di Zoological Society of London (ZSL) pada Senin (19/6).

Para ahli di perhimpunan tersebut, yang berpusat di London Zoo, memperingatkan ular liar di Eropa dapat menghadapi ancaman yang meningkat dari penyakit kulit akibat jamur yang telah menyebabkan kematian ular di Amerika Utara.

Mereka melandasi temuan mereka pada satu studi kerjasama internasional, yang dipimpin oleh ZSL bersama mitra termasuk US Geological Survey, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. Studi baru mereka telah disiarkan di jurnal Scientific Reports.

Studi tersebut mengatakan jamur Ophidiomyces ophiodiicola, penyakit jamur pada ular (SFD) dapat mengakibatkan beberapa gejala termasuk luka kulit, kudis dan kerak --yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian hewan yang terinfeksi.

Itu pertama kali diketahui pada ular liar di bagian timur Amerika Utara sekitar satu dasawarsa lalu, tapi sebelum studi baru tersebut, satu-satunya populasi hewan liar yang didapati tertular ialah yang berada di bagian tengah dan timur Amerika Serikat.

"Sekarang, satu analisis mengenai sampel yang dikumpulkan dari ular liar di Inggris dan Republik Ceko antara 2010 dan 2016 telah mengkonfirmasi keberadaan patogen dan SFD di Eropa untuk pertama kali," kata studi itu.

Meskipun penyakit tersebut tidak menumbulkan resiko pada manusia atau ternak, para ilmuwan menyerukan penelitian lebih lanjut untuk sepenuhnya memahami pentingnya SFD pada populasi ular di Eropa.  (Uu.C003)

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga