Festival ke Uma suguhkan atraksi unik pertanian

id Festival ke Uma, seni budaya bali, bibit pohon, Musikalisasi
Tabanan (Antarasumsel.com) - Sebanyak 81 peserta dari lima kabupaten/kota di Bali ikut ambil bagian "Festival ke Uma",  berbagai atraksi permainan berkaitan dengan sektor pertanian di Subak Mole Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan Bali,  24-25 Juni 2017.

"Peserta yang telah mendaftar dan kemungkinan akan bertambah berasal dari Kabupaten Karangasem 12 orang, Gianyar 15 orang, Buleleng enam orang, Denpasar delapan orang dan tuan rumah tabanan 40 orang," kata ketua panitia festival,  Putu Edi Novalia Artha di Tabanan, Jumat.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar untuk mengajak anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP)     bersenang-senang lewat permainan tradisional.

"Kami mengenalkan permainan tradisional kepada  anak-anak, sekaligus kondisi sawah untuk menghasilkan beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari yang bekalangan ini tidak banyak diketahui oleh anak-anak," ujar  Putu Edi Novalia Artha.

Ia menambahkan, kegiatan yang diharapkan dapat dilakukan berkesinambungan untuk mengisi liburan panjang anak-anak sekolah itu merupakan kerja sama Pasraman dan Sanggar Buratwangi, Sanggar Wintang Rare, dan Selakunda Foundation.

Seluruh kegiatan selama dua hari digelar di tengah sawah yang sudah dipersiapkan dan ditata sedemikian rupa secara swadaya dan gotong royong.

"Festival ke Uma" mengangkat suasana tempo dulu, yakni anak-anak diajak bermain dengan memanfaatkan alam dan lingkungan sawah sekitarnya. Alam ini sesunguhnya sangat  bersahabat yang menyediakan berbagai alat dan sarana untuk bermain. Tinggal  merangsang kreativitas mereka saja,¿ ujar Putu Edi.

Subak Mole di Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri lingkungannya masih dalam kondisi asri dan lestari yang lokasinya bersebelahan dengan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa  Margarana, tempat gugurnya Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai, 25 km arah barat daya Kota Denpasar.

Putu Edi menjelaskan, sawah dan aktivitas anak-anak dalam beberapa tahun belakangan ini seakan lenyap ditelan zaman. Sawah mulai berkurang akibat beralih fungsi dam kehilangan sumber air.

"Aktivitas anak-anak di sawah juga tidak tampak lagi. Anak-anak generasi sekarang tidak pernah melakukan  permainan itu. Karena itu melalui Festival ke Ume kami memasyarakatkan kembali aktivitas anak-anak yang  polos, jujur, tanggung jawab dan menjunjung nilai-nilai kebersamaan itu lewat  festival ini,¿ ujarnya.

Edi didamping Erik selaku sekretaris mengatakan, "Festival ke Ume" selain untuk menciptakan kreativitas anak dengan menyediakan ruang untuk melakukan dunianya  yang seluas-luasnya, juga bertujuan untuk melestariakan seni budaya dengan  mengangkat kembali berbagai jenis permainan, khususnya terkait dengan sawah serta memberikan hiburan kepada masyarakat.

Orang ribut-ribut dengan  karakter anak yang rusak, lewat permainan tradisional ini diharapkan dapat menciptakan karakter anak yang lebih baik.          Kegiatan festival yang diawali dengan melayangan menyusul, menyusul   bermain bersama-sama. Anak yang sudah bisa akan mengajari anak  yang belum mengerti, sehingga sosialisasi antara mereka dapat menciptakan  kebersamaan.

Jenis permaianan tradisional itu antara lain "medayung", "megandu", "mebuit-buitan", "megala-gala", "memacan-macanan", dan "mekabak".

Permainan ini bisa dilakukan oleh siapa  saja, termasuk penonton. Jangan takut tidak bisa, karena diawali dengan  pelatihan,¿ imbuh Putu Edi.

Semua permainan tersebut diiringan dengan alunan musik tingklik yangdimainkan oleh anak-anak Sanggar Buratwangi dan Wintang Rare Banjar Ole. Permainan itu, seperti "medempul", "mapoh-pohan", "lait kancing", "obek-obek uang", "colek-colek tain belek", dan "tangklak-tingklik".

Jenis permainan yang dilombakan, adalah "metimbang" (menaruh timbangan di atas hidung lalu berlari), "nyuun sigih" (menjinjing bakul berisi padi tangkai sambil ngulat tipat), "matulupan" (meniup bambu kecil yang sudah berisi tanah, seperti pelor lalu  menembak sasaran pada lelakut) dan "paid upih" (menarik pelepah pinang yang berisi  tumpangan di lumpur).

Para pemenang akan mendapatkan hadiah sebuah bibit pohon,  sehingga mereka bisa mengenang festival ini selamanya,¿ ujar Putu Edi.

Kegiatan itu juga dimeriahkan dengan pentas  seni berupa monolog dari Putu Satria, Musikalisasi dari Mahima, Dongeng Tantri dari Bumi Bajra Sandhi, Tari Tunggal Cupak Gerantang, seni pakeliaran Kambing  Takutin Macan dan musik dari Komunitas Jalan Air.

Pada hari kedua diisi dengan  workshop yoga yang menampilkan instruktur yoga internasional Panji Tisna, mengulas tanaman  obat herbal oleh Bagus Arya (padma Herbal) dan workshop menulis.

Selain itu Juga ada kegiatan mengajak anak-anak dan masyarakat untuk membudayakan hidup bersih dan sehat dengan  mengurangi pemakaian bahan-bahan dari plastik.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga