Minggu, 23 Juli 2017

Menuangkan ketakwaan melalui kue berhias kaligrafi

id kue, akidah, berhias kaligrafi, seorang muslim, seni rupa, sastra, musik, Agus Solihin,
Menuangkan ketakwaan melalui kue berhias kaligrafi
Kue kaligrafi Islam (Ist)
....Meski dasar kue juga menggunakan kayu jati belanda, lapisan luarnya tetap menggunakan bahan pangan yang dapat dikonsumsi....
Dalam Islam, iman merupakan akidah penganutnya dan tidak hanya memiliki arti "percaya", tetapi keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat.

Beriman tidak hanya percaya terhadap sesuatu, tetapi mampu mendorong seseorang untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya.

Oleh karena itu, iman tidak hanya sebatas dipercayai atau diucapkan, tetapi juga dapat menyatu secara utuh yang tercermin dalam segala perbuatannya.

Lebih lanjut, keimanan dan ketakwaan dalam kasus tertentu juga mewujud melalui seni, seperti seni rupa, sastra, musik, dan sebagainya.

Bagi Agus Solihin, seorang staf dapur Kota Bukit Indah Plaza Hotel (KBIPH) Purwakarta, beriman kepada Sang Pencipta dia wujudkan melalui seni tulis kaligrafi.

Tidak hanya kaligrafi biasa yang kerap tampil di atas kertas, tetapi dia torehkan di atas media makanan berupa kue tart.

Kue kaligrafi yang kini dipajang di lobi KBIPH sejak awal Ramadan itu menjadi proyeknya yang paling membanggakan pada tahun ini.

Menampilkan suatu benda pajang bertema Ramadan memang sudah menjadi kebiasaan tahunan hotel tersebut. Namun, pada tahun ini menjadi momen bagi Agus untuk menuangkan bentuk keimanannya.

    
            Pembuatan Kue
Kue berbentuk persegi panjang dengan dominasi warna putih itu terbagi dalam dua bagian utama, yaitu kue dan bagian penopang.

Untuk urusan penopang yang terbuat dari kayu jati bukan hal sulit karena pihak hotel memesan langsung kepada pihak pengrajin.

Adapun bagian kue replika Alquran dibuat oleh tim "pastry" dan Agus yang berperan sebagai penulis kaligrafi.

Meski dasar kue juga menggunakan kayu jati belanda, lapisan luarnya tetap menggunakan bahan pangan yang dapat dikonsumsi.

Prosesnya diawali dengan mengolah bahan dasar kue berupa 2,5 kilogram cokelat putih yang juga dipesan langsung dari suplier khusus hotel.

Cokelat tersebut dilelehkan, kemudian disiramkan ke dalam cetakan, lantas menjadi lapisan dasar kue, lalu menjadi alas kaligrafi nantinya.

Masih menggunakan bahan cokelat putih sekitar 500 gram, Agus melelehkannya, membaginya ke dalam beberapa bagian yang kemudian dicampur dengan warna hijau, cokelat muda, cokelat tua, dan kuning.

Selesai mencampur dengan pewarna, Agus pun menulis kaligrafi menggunakan bantuan kertas pola di atas kue berbahan cokelat putih yang telah disiapkan sebelumnya.

Untuk bingkainya, Agus menggunakan krim berbahan mentega dan telur yang biasa digunakan sebagai hiasan kue tart pada umumnya.

    
           Albaqarah 183
Dalam menyambut Ramadan, pihak KBIPH telah menyiapkan tema khusus pada kue kaligrafi tersebut.

Jika pada tahun sebelumnya KBIPH memajang replika Unta berbahan sterofoam, tahun ini pihak hotel ingin membuat sesuatu yang berbeda namun lebih bermakna bagi siapa saja yang melihatnya.

Akhirnya ayat 183 dari surat Al-Baqarah yang berisi perintah Allah kepada umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa dipilih menjadi "headline" kue tersebut, karena ayat tersebut dinilai sangat mewakili tema Ramadan.

Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa untuk membuat kaligrafi dengan media kue terbilang cukup mudah dilakukan, secara teori dengan satu hari pengerjaan maka prakarya itu pun siap dipajang.

Namun mengingat kesibukan di dapur, terpaksa kaligrafi di atas kue itu baru bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari, tutur pria yang telah bekerja di KBIPH sejak tahun 2002 itu.

Sementara itu, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid KBIPH Zaenal Mutaqien menjelaskan, pembuatan kue kaligrafi tersebut merupakan kegiatan simbolis untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam, selain baik bagi kesehatan, berpuasa juga adalah perintah dari Allah SWT agar umat Islam menjadi insan yang lebih bertakwa, katanya.

Intisari itu lah yang ingin disampaikan pada karyawan, sehingga mereka mendapat dampak positif dalam bekerja sehari-hari yaitu menjadi individu yang jujur, bertakwa, dan bertanggung jawab, pungkas Zaenal menambahkan.

    
          Autodidak
Kue kaligrafi pertamanya terbilang sukses. Apresiasi dari pihak manajemen pun diperolehanya, termasuk para tamu hotel yang kerap berfoto dengan kue tersebut.

Meski baru pertama kali, Agus justru mengaku lebih leluasa jika menggarap kaligrafi dengan media kue daripada berbahan kayu yang sudah biasa dia garap sejak masih bujangan.

Agus memang senang memahat atau membuat kaligrafi di luar jam kerjanya, terutama untuk menghabiskan waktu senggangnya di rumah.

Lebih sulit kayu, kata Agus melanjutkan, karena ada pemotongan, pengamplasan, atau proses pertukangan lainnya.

Keahlian yang sudah dia miliki itu juga didapat dari sekadar iseng dan mempelajari tekniknya secara mandiri alias autodidak.

Berkat pengalaman yang sudah dia peroleh, beragam model bisa dia buat mulai dari kalimat "assalamualaikum", Ayat Kursi, kalimat tahlil (la ila ha illallah), atau apa pun pesanan dari pelanggan bisa dibuatkan dengan beragam ukuran.

Untuk pemasaran, Agus bekerja sama dengan keponakannya yang mempromosikan hasil karyanya melalui jejaring media sosial.

Harga kaligrafi bervariasi, misalnya ukuran 100 x 80 cm sebesar Rp350 ribu, atau bisa menyesuaikan dengan ukuran dari kaligrafi yang dia buat.

Dari "keisengannya" itu, Agus tidak pernah menghitung secara pasti penghasilan yang dia peroleh dari seni kaligrafi berbahan kayu jati Belanda tersebut.

Pada bulan lalu, Agus sudah menjual tiga buah kaligrafi Ayat Kursi dan lebih dari 10 kalimat assalamualaikum.

Walau Agus tidak yakin hingga kapan dia akan terus membuat kaligrafi, kegemarannya itu dipandang sebagai kegiatan yang dapat menjadi pengingat, yaitu pengingat bahwa apa yang dilakukannya di dunia semata hanya untuk mencari rida Allah semata.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga