Kamis, 19 Oktober 2017

Pola integrasi sapi-sawit terus menelurkan inovasi

id sapi, kelapa sawit, integrasi sawit-sapi, aal, populasi ternak, perkebunan sawit
Pola integrasi sapi-sawit terus menelurkan inovasi
GM Livestock PT AAL Widayanto mengamati aktifitas ternak di area pengembalaan kebun sawit di Arut Selatan, Kotawaringin Barat. (Antarasumsel.com/17/Budi Santoso)
....Model usaha dengan penggembalaan sapi di kebun sawit ini mampu mengurangi biaya pemeliharaan kebun berupa penyiangan lahan dan penggunaan herbisida....
Pangkalan Bun, Kalteng  (Antarasumsel.com)  - Saat wacana integrasi perkebunan kelapa sawit dan usaha sapi potong digaungkan banyak pemerhati perkebunan yang kuatir hal itu berakibat buruk bagi tanaman sawit.

Dampak buruk yang dihembuskan antara lain kotoran sapi akan membuat berkembangbiaknya ganoderma, sejenis jamur yang bisa merugikan tanaman sawit, dan tempat berkembangnya kumbang tanduk yang memakan daun sawit.

Selain itu muncul tudingan, kawanan sapi akan menimbulkan pemadatan kebun sawit yang menganggu aerasi tanah.

Dan terakhir, khawatir daun kelapa sawit akan habis dimakan sapi. Namun, berbagai fakta uji coba yang dilakukan dalam skala besar di PT Sulung Ranch yang merupakan Citra Borneo Indah (CBI) dan PT Agro Menara Rahmat yang merupakan Astra Agro Lestari Group, justru menepis dampak negatif itu.

Menurut Dwi Hartanto, manager Sulung Ranch, ganoderma sebelumnya juga ada dan saat dilakukan penggembalaan ternak ternyata ganoderma hanya tumbudi sisa pohon sawit yang mati sementara di kotoran sapi tidak ditemukan. Penyebaran ganoderma bukan oleh kotoran sapi tetapi oleh spora tanah dan angin.

Demikian juga kumbang tanduk ternyata tidak ditemukan di kotoran sapi yang mengering tetapi menyebar justru di sisa bahan organik lain.

Kotoran sapi yang kering justru menjadi buruan akar sawit karena tau banyak unsur haranya. Akar sawit bisa tiba-tiba menutupi tumpukan kotoran sapi.

Demikian juga tudingan memakan daun sawit, disiasati dengan menggembalakan sapi pada kebun sawit yang sudah panen lima tahun ke atas. Jadi sapi tak mungkin menjangkaunya.

Sementara dampak pemadatan lahan, disiasati dengan waktu rotasi penggembalaan yang panjang. Satu blok kebun sawit akan kembali dijadikan lahan penggembalaan dua sampai tiga bulan kemudian. Selain itu, penggembalaan dalam satu blok kebun hanya berlangsung satu hari setelah itu digiring ke blok berikutnya, kecuali pihak pengelola perkebunan meminta waktu satu hari lagi karena dinilai gulma banyak.

"Saat ini terkadang, justru kami di bagian ternak diminta pengelola kebun untuk segera menggiring sapi ke kebun yang sudah penuh gulma," kata Dwi.

Makin cepatnya pertumbuhan gulma juga menandakan makin suburnya lahan penggembalaan yang bukan tidak mungkin ke depan rotasi bisa lebih cepat. Artinya kapasitas ternak dalam satuan luas lahan penggembalaan semakin naik.

Ketakutan munculnya kasus keracunan pada sapi akibat memakan tumbuhan beracun di penggembalaan juga tidak terbukti karena hampir tidak terjadi kasus itu.

Terbukti pula sapi bisa memilih dengan baik hijauan yang dibutuhkan bagi tubuh mereka, justru di lahan penggembalaan mereka bisa memilih tanaman liar yang bisa meningkat daya tahan sapi. Secara fisik, sapi lebih sehat karena terus bergerak dari satu ke blok yang lain. Angka kematian anak sapi juga berkisar antara 1 sampai 2 persen, atau dibawah normal sebesar 3 persen.

"Itupun sebagian besar bukan karena penyakit tapi karena terperosok," kata Widayanto, GM Livestock PT AAL.

                                         Populasi
Secara statistik, berdasarkan Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kotawaringin Barat, pengembangan sapi potong  setelah masuknya dua korporasi dalam pola usaha integrasi sawit-sapi antara lain:

Pertama, laju Pertumbuhan populasi sapi potong 11 tahun terakhir rata rata lebih dari 35% pertahun (dari 3.500 ekor pada tahun 2006 menjadi 17.200 ekor pada tahun 2016). Data juga menunjukkan selama lima tahun terakhir rata rata meningkat lebih dari 13 persen pertahun atau melebihi laju pertumbuhan  nasional 4.36 persen (15.419.720 ekor tahun 2015 menjadi 16.092.560 ekor pada tahun 2016. Juga melebihi laju pertumbuhan populasi di Provinsi Kalimantan Tengah 5,06 persen (dari 68.531 ekor  pada tahun 2015 menjadi 72.049 ekor pada tahun 2016).

Kedua, populasi ternak integrasi  di dua perusahaan (CBI dan AAL), Sejak tahun 2014, atau hanya dalam 2 tahun telah berkontribusi lebih dari 50 persen total populasi ternak sapi potong di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Ketiga, munculnya pengembangan usaha feed lotter (penggemukan)  dengan sumber bakalan dari program pembiakan ternak dan pemasukan bakalan dari luar negeri.

Keempat, walau secara statistik belum dihitung tetapi pasokan sapi potong dari Jawa dan Madura ke Kalimantan mulai berkurang karena pedagang daging mulai melirik hasil penggemukan pelaku usaha sawit-sapi. Arah swasembada sapi di Kalimantan yang membutuhkan pasokan 100 sapi potong per hari semakin jelas.

Saat ini CBI telah memasok sekitar 80 sampai 90 sapi potong  per bulan atau sekitar tiga ekor per hari dan AAL sekitar 100 ekor per minggu atau 14 ekor per hari.

Kemampuan produksi sapi potong AAL masih bisa ditingkatkan karena mereka agak mengerem laju pertumbuhan bobot badan (pbb) pada proses penggemukan sapi potong karena masih membuka pasar di kota lain di Kalimantan.

Widayanto mengatakan, saat ini pbb hanya dirancang 1 kg per hari, padahal bisa dimaksimalkan sampai 1,8 kg per hari.

"Kami menunggu serapan pasar di Kalimantan," katanya.

                                               Pengembangan Inovasi
Pola integrasi sawit-sapi di dua korporasi itu juga memunculkan banyak inovasi baru. Di bidang pakan konsentrat, CBI menggunakan 75 persen limbah sawit seperti solit (limbah pabrik minyak sawit)  sekitar 45 persen dan 30 persen bungkil biji sawit.

Bahan tambahan yang didatangkan dari Pulau Jawa antara lain dedak, onggok dan molases atau tetes.
Sementara AAL karena saat ini sebagian besar pabrik minyak sawitnya menggunakan sistem kering yang tidak menghasilkan limbah solit maka konsentrat sapi hanya memanfaatkan bungkil kelapa sawit selain dedak, onggok dan molases.

ALL juga mengembangkan pengawetan pakan hijauan dari pelepah sawit  dengan bantuan molases. Pakan hijauan untuk feed lotter bisa dicadangkan lebih banyak, terutama saat banyak pekerja cuti liburan.
Kedua korporat itu berlomba mencari hijuan alternatif yang lebih unggul.

CBI sudah mengembangkan tanaman indigofera yang mempunyai kandungan protein 27 sampai 30 persen. Tanaman yang dikenalkan oleh Prof Dr Luki Abdullah, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB itu dianggap sebagai konsentrat hijuan dan menjadi hijauan masa depan bagi.

Dwi mengungkap sudah melakukan pembenihan indigovera dan sudah menyiapkan lahan 2,5 hektare untuk kebun bibitnya. Tanaman itu merupakan jenis legume yang mempunyai polong menyerupakai kacang hijau tetapi lebih kecil ukurannya.

Sementara AAL mengembangkan rumput stenotaphrum secundatum  yang tumbuh baik pada intensitas cahaya rendah atau toleran naungan, sangat cepat berkembang dan tumbuh cepat.  Tumbuhan ini memiliki rhizoma dan stolon yang padat, memiliki perarakan sangat kuat, mampu berkompetisi dengan gulma, tahan pengembalaan berat. Kebun sawit usia panen 5 tahun ke atas mempunyai derajat naungan 70 sampai 8 persen dan cocok dikembangkan tanaman ini.

Masih terbuka luas riset untuk memperbaiki pola usaha sawit-sapi dan ini menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk menerjunkan periset andalan mereka agar muncul terobosan baru yang makin membuat usaha sawit-sapi lebih efisien lagi.

Model usaha dengan penggembalaan sapi di kebun sawit ini mampu mengurangi biaya pemeliharaan kebun berupa penyiangan lahan dan penggunaan herbisida.

Selain itu populasi ternak sapi lebih mudah diperbanyak dengan pemeliharaan pola penggembalaan, karena perilaku ternak sapi yang dapat mencari hijauan sendiri dan mengayomi anaknya dapat mengurangi biaya pekerja. Sejak dulu sapi di penggembalaan merupakan stok hidup, itu sebabnya peternakan sapi sering disebut livestock.


Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga