Senin, 23 Oktober 2017

Anggota DPR: Subsidi listrik jangan dianggap beban

id Rofi Munawar, kwh, litrik, token, isi paket, subsidi, dpr, ekonomi
Anggota DPR: Subsidi listrik jangan dianggap beban
Seorang ibu rumah tangga mengisi vocher isi ulang di KWH milik PT PLN Persero (ANTARA FOTO/Jojon/Ang/Spt/)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Anggota Komisi VII DPR Rofi Munawar menginginkan subsidi listrik jangan sampai dianggap sebagai beban tetapi adalah merupakan hal yang penting sebagai insentif dan langkah proteksi kepada rakyat yang berhak menerimanya.

"Subsidi listrik merupakan kebijakan penting agar masyarakat mendapatkan akses energi yang memadai," kata Rofi Munawar dalam rilis di Jakarta, Senin.

Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, bila subsidi dikurangi atau dicabut maka dapat terdampak kepada penurunan daya beli masyarakat.

Ia juga mengutarakan rasa kecewanya karena pemerintah dinilai belum memuaskan dalam mengevaluasi kebijakan penarikan subsidi listrik 900 VA. "Tentu saja ini berakibat terhadap daya beli masyarakat yang semakin melemah. Perlu terobosan yang serius untuk memperhatikan pelemahan ini di sektor kelistrikan," tegasnya.

Rofi menjelaskan, dalam mengantisipasi daya beli yang semakin terpuruk dalam Rancangan Anggaran Penerimaan Belanja Negara Perubahan (APBN-P 2017) pihaknya meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan penambahan dana subsidi listrik sebesar Rp6 triliun, sehingga ada revisi tambahan sebanyak 2,44 juta pelanggan dengan jumlah total menjadi 6,45 juta pelanggan.

Adapun untuk pelanggan 450 VA tidak berubah yaitu tetap berjumlah 19,1 juta. Sehingga total jumlah penerima subsidi listrik adalah sebesar 25,55 juta pelanggan.

Selain itu, pihaknya juga meminta Kementerian ESDM membuka data pelanggan listrik subsidi ini agar dapat dicek silang serta dikoordinasikan dengan pihak terkait terutama dengan melibatkan struktur pemerintahan di tingkat RT, RW dan kelurahan dalam rangka meningkatkan kontrol sosial terhadap penyaluran subsidi tersebut.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah informasi bahwa harga tarif dasar listrik Indonesia termahal di dunia.

"Mahal di dunia? Saya rasa tidak. Malah harga listrik kita lebih rendah dari yang tertinggi di dunia. Sama Singapura, Malaysia, kita malah lebih rendah," kata Sekretaris Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Agoes Triboesono kepada Antara di Jakarta, Senin (7/8).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa secara penawaran infrastruktur tenaga listrik, Indonesia lebih menarik dibandingkan dengan negara lainnya, misal di tingkat ASEAN. Selain itu, pada saat ini kondisi internal Indonesia untuk pengembangan tenaga listrik dinilai lebih bagus daripada periode sebelumnya.

Sebagaimana diwartakan, penyesuaian tarif listrik 900 Volt Ampere yang dilakukan pemerintah di semester I 2017 sudah tidak mempengaruhi laju Indeks Harga Konsumen sehingga di sisa tahun pergerakkan inflasi diyakini terus terkendali, menurut Bank Indonesia.

"Meredanya inflasi 'administered prices' (kelompok tarif yang diatur pemerintah) di bulan ini lebih disebabkan telah selesainya penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan daya 900 VA nonsubsidi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman.

Inflasi bulanan "administered prices" pada Juli 2017 sebesar 0,07 (month to month/mtm), atau menurun cukup dalam dibandingkan Juni 2017 yang sebesar 2,10 persen (mtm). Sementara inflasi tahunan "adminsitered prices", di Juli 2017 sebesar 9,27 persen (yoy).

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga