Senin, 21 Agustus 2017

Cagar Budaya di Palembang banyak berbentuk bangunan

id cagar budaya, cagar budaya di palembang
Cagar Budaya di Palembang banyak berbentuk bangunan
Cagar budaya banyak terdapat di Kota Palembang (Antarasumsel.com/Susilawati/17)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Cagar budaya yang ada di Kota Palembang itu yang paling banyak berbentuk bangunan seperti bangunan Bank Indonesia, kemudian Rumah Sakit RK Charitas dari Belanda.

Penggiat Budaya dari Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wanda Lesmana menyampaikan hal itu pada sosialisasi cagar budaya yang dilaksanakan di Palembang, Kamis.

Menurut dia, cagar budaya di Palembang ada sekitar 60-80 an berupa bangunan, struktur dan benda. Yang paling banyak bangunan seperti bangunan BI kemudian Rumsah Sakit RK Charitas dan itu bangunan dari Belanda.

"Jadi, rata-rata bangunan Belanda kurang lebih peninggalan dari zaman perekonomian Belanda pada saat pemerintahan kala itu sudah terdata semua," katanya.

Akan tetapi, lanjutnya bangunan yang belum terdata seperti rumah singgah Ir Soekarno di 1 Ulu, belum ada atau kita tahunya di Plaju ada lorong petahanan, di situ ada tempat tahanan-tahanan Belanda.

Ia mengatakan, setiap nama yang ada Palembang ini sebetulnya bermukim dan bermuara dari kebudayaan dan sejarah.

Di Kota Palembang ini banyak sekali budaya dan peradaban-peradaban, jadi banyak bangunan peninggalan-peningalan, ujarnya.

Ia menuturkan, penggiat budaya itu ditugasi untuk mendata kembali, kemudian kedua mendata yang baru seperti rumah singgah Soekarno, selanjutnya tempat tahanan seperti ada teng baja baru ditemukan di Plaju, barang baru mau didata kembali.

"Kami melakukan sosialisasi secara sistem menyeluruh, kami baru saja mengumpulkan para penjaga makam se-Kota Palembang untuk mengumpulkan makam-makam yang terdeteksi maupun tidak terdeteksi. Yang diketahui makam Sabokingking dan Kawah Tengkurep, sedangkan lainnya belum dan itu akan kita data lagi," tuturnya.

"Pada hari ini kita menginformasikan kepada masyarakat bahwa pendataan bukan dimaksudkan untuk mengambil barang milik pribadi, tapi untuk mendata. Tujuan mendata itu supaya pemerintah tahu bahwa barang itu ada di sana dan kami bisa melestarikan dan menjaga bersama-sama," katanya.

Editor: M. Suparni

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga