Kamis, 19 Oktober 2017

Tantangan bangsa Indonesia ledakan pertumbuhan penduduk

id Zulkifli Hasan, mpr ri, indonesia, penduduk, rakyat, kebutuhan pangan, energi
Tantangan bangsa Indonesia ledakan pertumbuhan penduduk
Ketua MPR Zulkifli Hasan (ANTARA/ Sella Panduarsa Gareta)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menegaskan salah satu tantangan bangsa Indonesia adalah ledakan pertumbuhan penduduk yang konsekuensinya adalah meningkatnya kebutuhan pangan dan energi untuk bangsa Indonesia.

"Ledakan pertumbuhan penduduk ini tidak dapat dielakkan, tapi hanya dapat diredam sedikit," kata Zulkifli Hasan ketika menyampaikan materi sosialisasi empat pilar pada acara Musyawarah Kerja Kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Gedung Lemhannas, Jakarta, Rabu.

Menurut Zulkifli, Indonesia pada saat merdeka tahun 1945, jumlah  penduduknya sekitar 60 juta jiwa, pada tahun 2016 sekitar 245 juta jiwa, dan pada 40 tahun ke depan diperkirakan mencapai 500 juta jiwa.

Pemerintah Indonesia saat ini, katanya, sudah mengimpor bahan pangan dan energi untuk mencukupi kebutuhan penduduk Indonesia secara nasional.

"Pada 40 tahun mendatang, maka kebutuhan pangan dan energi akan semakin tinggi, sementara lahan pertanian semakin mengecil," katanya.

Di sisi lain, kata dia, persaingan global semakin ketat, sehingga menuntut bangsa Indonesia menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, guna dapat bersaing dengan negara lain.

Zulkifli memotivasi generasi muda Indonesia untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan menguasai teknologi.

"Bangsa Indonesia juga harus saling percaya, baik antar masyarakat maupun antara masyarakat dengan Pemerintah dan sebaliknya," katanya.

Menurut dia, kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah muncul, jika para pemimpinnya berlaku adil.

         "Supremasi hukum juga ditegakkan secara adil," katanya.

Zulkifli menyatakan, sedih kondisi bangsa Indonesia saat ini yang terjadi pergeseran nilai-nilai dari menjunjung tinggi kearifan lokal menjadi menjunjung tinggi uang.

Menurut dia, saat ini orang kaya lebih dihormati tanpa melihat dari mana memperoleh uang daripada orang jujur dan berlaku adil.

"Uang yang menjadi dewa, dapat membahayakan nasionalisme Indonesia," katanya.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga