Senin, 23 Oktober 2017

Kades Ogan Ilir akan dikumpulkan terkait Karhutla

id karhutla, kades, kebakaran lahan, hutan, Yulizar Dinoto, Staf Khusus, Gubernur Sumsel
Kades Ogan Ilir akan dikumpulkan terkait Karhutla
dokumentasi- Pemadaman Kebkaran Lahan Dari Udara Helikopter MI-17 milik BNPB melakukan pemadaman kebakaran lahan dari udara (water bombing). (ANTARA Sumsel/Nova Wahyudi/dol/17) ()
Palembang (ANTARA Sumsel) - Sebanyak 270 kepala desa (kades) di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, akan dikumpulkan oleh pemerintah setempat untuk diberikan sosialisasi mengenai ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Staf Khusus Gubernur Sumsel bidang bencana karhutla Yulizar Dinoto di Palembang, Minggu, mengatakan, para kepala desa ini direncanakan akan dikumpulkan di posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah di Palembang.

"Penting sekali mereka dikumpulkan karena sebenarnya ujung tombak penanganan itu ada di kepala desa. Mereka ini yang benar-benar mengetahui kondisi desanya," kata Yulizar.

Ia mengatakan kejadian karhutla pada 5-7 Agustus yang menghanguskan sekitar 200 hektare di Ogan Ilir sepatutnya menjadi pelajaran berharga agar tidak terjadi lagi.

Langkah mitigasi jauh lebih dikedepankan karena sebagian besar lahan di OI ini merupakan lahan gambut yang sangat mudah terbakar di saat musim kemarau. BMKG telah memperkirakan bahwa puncak musik kemarau terjadi pada Agustus hingga September.

"Kepala desa diminta aktif melaporkan mengenai siapa saja pemilik lahan yang biasa melakukan pembakaran untuk tujuan membuka lahan. Jika peran kepala desa ini bisa dioptimalkan maka karhutla bisa dicegah," kata Yulizar.

Kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Pemulutan, Ogan Ilir, pada 5-7 Agustus 2017 itu telah menghanguskan sekitar 200 hektare.

Sumatera Selatan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya karhutla berkaca pada kejadian hebat pada 2015 yang telah menghanguskan lahan dan hutan sekitar 700 ribu hektare di lima kabupaten.

Pada 2016, Sumsel berhasil menekan kejadian karhutla 97 persen berkat upaya deteksi dini dan kondisi cuaca yang mengalami kemarau basah.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga