Senin, 25 September 2017

Novel Baswedan dan harapan mata yang memerah

id Novel Baswedan, operasi, mata, penyidk, kesaksian, keterangan, penyerangan, kpk, disiram, orang tidak dikenal
Novel Baswedan dan harapan mata yang memerah
Novel Baswedan (Ist)
....Satu-satunya jalan agar bisa mata kiri saya bisa melihat adalah dengan cara operasi ini. Operasi ini tentu membuat mata kiri saya terlihat berbeda warnanya....
Tidak ada yang tampak berubah dari sosok Novel Baswedan saat ditemui pekan lalu di Singapura. Dia tetap beraktivitas normal, termasuk dengan melaksanakan salat lima waktu berjemaah di masjid, tutur katanya tetap wajar terukur.

Satu-satunya perubahan yang terlihat adalah mata kiri Novel yang yang tidak dapat merespons dengan lawan bicara karena mengalami kerusakan parah akibat serangan air keras, sedangkan mata kanannya masih tampak memerah meski secara perlahan dapat berfungsi kembali.

"Memangnya mau tanya apa sih?" tanya Novel saat ditemui Antara di Singapura, Selasa (15/8) atau 2 hari menjelang operasi besar di mata kirinya.

    
Setelah bernegosiasi sedikit mengenai daftar pertanyaan, Novel pun akhirnya bersedia untuk diwawancara. Pembicaraan pertama adalah mengenai operasi yang dia lakukan pada tanggal 17 Agustus 2017.

Operasi yang menurut Novel disebut operasi artifisial itu adalah operasi besar tahap pertama yang dikerjakan oleh empat orang dokter ahli mata dan gigi di salah satu rumah sakit di Singapura. Dari keempat dokter itu, ada dua orang adalah profesor di bidang retina dan mata yang terdampak zat kimia.

Operasi dimulai dengan pembersihan mata dari katarak dan menyedot cairan glukoma di bola mata kiri. Selanjutnya, dokter mencabut dan meleburkan satu gigi yang paling kuat, yaitu gigi taring, kemudian memotong dan mencabut gusi yang akan digunakan melapisi mata.

Tahap selanjutnya, dokter membuat retina artifisial dari gigi yang tersebut menjadi "ring". Pelapis retina artifisial itu juga berasal dari kulit gigi. Namun, retina artifisial tersebut tidak langsung dipasang di mata. Akan tetapi, ditanam dahulu di dalam pipi selama 2 bulan untuk menjadi retina baru.

Baru pada operasi besar tahap kedua yang diperikirakan dilakukan 2 bulan mendatang, retina artifisial itu dicabut dari pipi, kemudian ditanam ke dalam bola mata kiri Novel.

"Satu-satunya jalan agar bisa mata kiri saya bisa melihat adalah dengan cara operasi ini. Operasi ini tentu membuat mata kiri saya terlihat berbeda warnanya. Warnanya seperti merah dan bagian hitamnya menjadi lebih kecil, harapan dokter fungsi penglihatan saya bisa kembali," kata Novel tenang.

Ketenangan Novel adalah salah satu kunci agar operasi tersebut berjalan lancar, apalagi operasi ini menurut abang Noval, Taufik Baswedan, adalah operasi pertama yang dilakukan di rumah sakit tersebut.

"Memang perlu ketenangan hati karena di operasi ini cabut sana cabut sini, pasang sana pasaing sini. Akan tetapi, Novel orangnya memang tenang, dia dari dahulu sabar dan tidak pernah mengeluh," kata Taufik, Kamis (17/8), saat menunggu operasi Novel.

Sebelum operasi, Novel pun beraktivitas secara normal, apalagi dokter merekomendasikan aktivitas fisik agar tubuhnya dapat fit. Memang obat-obat yang diberikan oleh dokter saat dia berada di rumah sakit Singapura sejak 12 April 2017 hingga Juli lalu tidak terlalu berdampak baik untuk tubuhnya. Bahkan, dia sempat kehilangan nafsu makan di RS.

    
        Harapan terhadap Kasus
Pada H-3 operasi (14/8), Novel juga menjalani pemeriksaan saksi korban di KBRI Singapura. Dia memberikan keterangan kepada penyidik dari Tim Polda Metro Jaya mengenai kejadian penyerangan pada tanggal 11 April 2017 di depan Masjid Al-Ihsan, dekat rumahnya seusai Novel melaksanakan Salat Subuh.

Tim Polda Metro yang datang, antara lain, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Kombes Rudy Heriyanto Adi Nugroho, Kasubdit Jatanras Ditreskrimum AKBP Hendy Febrianto Kurniawan yang juga mantan penyidik KPK, Kasubdit Keamanan Negara (Kamneg) Ditreskrimum AKBP Dedy Murti dan Kasat Harta Benda (Harda) AKBP Nuredy Irwansyah Putra, Kanit 1 Kamneg Polda Metro Jaya Kompol Raindra Ramadhan Syah dan Kanit 2 Kamneg Kompol Fadilah. Atase Polri Singapura Kombes Pol. Hirbak Wahyu Setiawan juga ikut mendampingi.

Novel didampingi oleh Tim Biro Hukum KPK serta penasihat hukumnya dan tidak ketinggalan dua orang pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Saut Situmorang.

Meski Novel akhirnya di-BAP atau keterangannya dicatat di berita acara pemeriksaan, dia sempat mengungkapkan kritiknya terhadap tim penyidik tersebut karena dirinya tidak pernah mendapat surat panggilan para penyidik. Para penyidik pun menurut Novel belum mendapat izin dari petugas KPK maupun dokter yang memeriksanya.

Kritik lain adalah sejumlah saksi penting dalam perkara itu dipublikasikan dan para penyidik pun terburu-buru mengambil kesimpulan.

"Kalau kemudian ternyata kesimpulan itu salah, saya khawatir penyidik akan bertahan pada kesimpulan yang salah tadi, atau jangan-jangan bisa jadi ada orang yang memanfaatkan penyidik untuk menutupi fakta-fakta dengan berkesimpulan yang salah. Saya kira itu tidak baik," ungkap Novel.

Apalagi, menurut Novel, para penyidik yang menangani kasusnya adalah penyidik baru yang ikut di tengah-tengah kasus berjalan.

"Saya tahu (mereka baru) ketika saya melihat surat-surat yang ada. Kedua, saya tahu karena saya bertanya kepada yang bersangkutan. Perubahan tim akan menyulitkan (pengusutan kasus). Saya sampaikan juga agar penyidik ini berhubungan dengan keluarga saya dengan intens walaupun saya menyadari setiap laporan perkembangan penyidikan tidak pernah diberi kepada keluarga saya sampai sekarang. Yang diberi adalah tetangga saya," kata Novel.

Novel juga mengaku tidak ditunjukkan sketsa pelaku yang pada tanggal 31 Juli 2017 ditunjukkan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian kepada publik, yaitu seorang pria dengan ciri-ciri tingginya sekitar 167 s.d. 170 cm, berkulit agak hitam, rambut keriting, dan badan cukup ramping.

Soal nama jenderal polisi aktif yang pernah disebut-sebut terlibat dalam penyerangan itu, juga tidak disampaikan Novel dalam pemeriksaan sampai terbentuk tim pencari fakta independen.

"Soal nama jenderal yang saya sebut terkait dengan peristiwa-peristiwa teror, saya menyampaikan bahwa itu adalah konsumsi untuk tim gabungan pencari fakta karena kalau saya sampaikan kepada penyidik itu hanya membebani pekerjaan-pekerjaan mereka yang toh juga tidak akan membuat mereka menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tim gabungan pencari fakta tentunya tidak melibatkan anggota Polri, tetapi melibatkan profesional, akademisi, dan ahli-ahli lain," jelas Novel.

Ia pun menilai bahwa tidak ada gunanya lagi pembentukan tim gabungan KPK dan Polri karena peristiwa itu sudah berlalu lebih dari 3 bulan dan tempat kejadian perkara pun sudah rusak.

"Setelah peristiwa ini terjadi lebih dari 3 bulan, seandainya KPK ikut dalam tim itu, KPK-nya bisa berbuat apa? Saya kira waktunya sudah tidak tepat lagi," tegas Novel.

Bila ada tim gabungan pencari fakta yang melibatkan orang-orang lain di luar Polri dan keuntungannya, menurut Novel, Kapolri dapat melihat apakah benar anggota-anggota di bawahnya serius dalam penanganan perkara tersebut.

"Saya juga berharap Bapak Presiden bisa lebih memperhatikan hal ini, lebih bisa melakukan evaluasi terhadap aparatur yang melakukan pekerjaannya, apakah benar melaksanakan perintah Presiden atau tidak? Dengan begitu, kita berharap pemberantasan korupsi bisa dilaksanakan dengan lebih masif, kuat, dan tentunya secara langsung dan tidak langsung bisa memperkuat ekonomi dan juga pembangunan," jelas Novel.

    
        Harapan Pemberantasan Korupsi
Setelah panjang lebar menjelaskan harapan mengenai kasusnya, Novel juga sempat mengungkapkan harapannya mengenai upaya pemberantasan korupsi.

Bedanya, bila selama ini pimpinan KPK memiliki target agar ada perbaikian indeks persepsi korupsi di Indonesia setidaknya sejajar dengan negara lain di Asia Tenggara, Novel mengaku tidak terlalu berharap pada pengukuran tersebut.

"Saya tidak pernah risau atas hasil sehingga dengan begitu saya tidak akan kecewa. Contohnya bila saya memberantas korupsi, lalu saya berharap Indonesia dalam berapa tahun bebas korupsi, begitu tidak terjadi, saya kecewa. Akan tetapi, begitu saya mengatakan bahwa saya memberantas korupsi dengan segala daya dan upaya yang saya punya dengan keseriusan dan keberanian yang saya miliki, bagi saya saya cukup melakukan itu dengan maksimal. Seandainya semua elemen yang punya kekuasaan tidak mau berubah tidak ada masalah buat saya, itu masalah mereka," tegas Novel.

Ia hanya berharap agar makin lama korupsi di Indonesia terkikis dan mafia korupsi tidak lagi mendapat ruang.

"Harapan saya pada waktu-waktu ke depan korupsi di Indonesia bisa makin lama makin terkikis dan upaya pemberantasan korupsi mendapatkan ruang dan dukungan dari semua termasuk dari pemimpin negara. Dengan begitu, tidak ada lagi ruang bagi mafia-mafia korupsi untuk seenaknya sendiri merampas dan merampok harta kekayaan negara dan masyarakat secara keseluruhan," tambah Novel.

Semangat itu juga yang tetap tampak dari mata kanan Novel yang memerah.

Agar matanya tidak tampak merah, dia pun mengenakan kacamata bening saat bepergian untuk mencegah debu yang masuk ke mata. Namun, agar dapat lebih "stylish", Novel mengganti lensanya menjadi biru, bahkan ada juga cadangan lensa kuning.

"(Kacamata) Itu diberikan temannya dari KPK yang datang ke sini, padahal saya sudah belikan kacamata yang lebih bagus tetapi malah tidak dipakai," kata Taufik sambil tertawa.

Semoga operasi mata yang dilaksanakan tepat pada hari kemerdekaan Indonesia juga dapat membuat mata Novel merdeka dari rasa perih akibat air keras dan sulitnya menemukan pelaku penyerangan.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga