Jumat, 20 Oktober 2017

Kaum difabel di Irlandia belajar gamelan

id gamelan, alat musik, jawa, seniman tradisional, degung, tari, angklung, Irlandia, anak cacat, difabel
Kaum difabel di Irlandia belajar gamelan
Iustrasi Alat musik Gamelan. (ANTARA)
London (ANTARA Sumsel) - Kaum difabel di Irlandia kembali mendapat kesempatan untuk belajar gamelan dalam kegiatan residensi seniman tradisional gamelan, degung, tari, dan angklung, di Irlandia, yang digelar Kedutaan Besar RI di London.  

Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI London  Aminudin Aziz,  mewakili Duta Besar RI untuk UK dan Irlandia kepada Antara London, Jumat  menyerahkan secara resmi program residensi kepada Direktur Utama National Concert Hall /NCH) Simon Taylor didampingi  manajer pembelajaran, dan beberapa staf NCH Nigel Flegg.

Selain itu, hadir pula pengajar gamelan di NCH   Peter Moran dan beberapa perguruan tinggi di Irlandia.

Aminudin mengatakan, peserta residensi adalah seniman dari Yogya, karena perangkat gamelan yang ada di Dublin merupakan hibah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X bernama "Joglo Roso" pada  tiga tahun lalu kepada NCH dan masyarakat Irlandia.    

"Ini menjadi momentum memperingati tiga tahun keberadaan Jogo Roso di Irlandia",ujar Aminudin. Sekitar sembilan kelompok gamelan secara rutin memanfaatkan keberadaan "Jogo Roso" di NCH," ungkapnya.

Ia menambahkan,"Bukan hanya  yang ada di kota Dublin, tetapi juga di wilayah Limerick, Cork, Galaway, bahkan Belfast. Ini menunjukkan peminat musik gamelan di Irlandia cukup banyak dan berkembang dari waktu ke waktu,".

Direktur Utama  NCH Simon Taylor menyatakan pihaknya menyambut baik program residensi itu sebagai program pertama sejak adanya "Jogo Roso" di NCH.    

Menurut Simon, keragaman musik tradisional yang ada di NCH menjadi salah satu penanda sekaligus pengikat serta pengokoh keberadaan NCH di Irlandia. Dikatakannya pihak NCH memfasilitasi jenis-jenis musik rakyat yang  mendunia dan gamelan merupakan salah satu di antaranya.

"Ini cara kami menjadikan lembaga sebagai rumah bagi seniman dunia", ujarnya.

Sementara itu, Peter Moran, dosen gamelan di NCH dan beberapa universitas di Irlandia menyatakan sudah lama merindukan kehadiran ahli gamelan Yogya di Dublin.

"Kami harus bersabar untuk menunggu, dan  setelah tiga tahun akhirnya keinginan ini menjadi kenyataan, tentu saja atas jasa baik dari Atdikbud KBRI London dan Kemdikbud di Jakarta",  ujar Peter, yang pernah  tinggal dan belajar gamelan di Yogyakarta beberapa tahun lalu.

Peter akan menjadi pendamping Sumaryono dalam melatih bermain gamelan kepada peserta di Irlandia. "Dasar-dasar bermain gamelan sudah saya ajarkan. Yang kami perlukan pelajaran lanjutan, biar lebih maju lagi", lanjut Peter.

Setelah bertemu dengan sejumlah pemain gamelan di Dublin, Sumaryono menemukan  teknik bermain gamelan peminat gamelan di Dublin umumnya sudah baik. "Namun, teknik mereka masih perlu dipoles sehingga lebih pas di telinga", tutur Sumaryono  dosen ISI Yogyakarta.

Bagi Sumaryono, program residensi selama tiga bulan yang akan diikutinya sampai akhir November 2017 itu bukanlah hal baru bagi pencinta gamelan di Dublin. Tiga tahun lalu, Sumaryono mengikuti program muhibah seni dipimpin Sri Sultan HB X ke Dublin dan sempat menampilkan beberapa karyanya.    

Program Residensi Seniman Gamelan  di Dublin berbeda dengan di Glasgow dan London sepanjang tahun 2017. Di Dublin, ada satu kelompok peminat gamelan berasal dari kaum difabel yang minta diajarkan gamlean. Ini merupakan hal baru dan menjadi tantangan bagi peserta.

"Kami kaget, ternyata musik gamelan juga diminati kaum difabel. Ini akan menjadi tantangan bagi pengajar, sebab baru pertama kali dihadapkan mengajar kaum difabel", ujarnya.

Program belajar gamelan untuk kaum difabel merupakan yang kedua kali dilakukan  KBRI London. Yang pertama dan saat ini sedang dirintis adalah pelajaran gamelan untuk kaum difabel yang didukung KBRI London, Kemdikbud, dan BBC London.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga