Rabu, 20 September 2017

Bekraf dorong akses modal UMKM kreatif

id Eka Pan Lestari, UMKM, Usaha Mikro Kecil, bekraf
Bekraf dorong akses modal UMKM kreatif
Dokumentasi- pekerja sedang membuat sepatu berbahan pelepah pisang. (Ist)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Ekonomi Kreatif mendorong kemudahan mengakses modal di perbankan bagi kalangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kreatif.

Kasubag Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif Eka Pan Lestari di Palembang, Selasa, mengatakan salah satu cara yang dilakukan yakni menggelar asistensi cara membuat laporan keuangan agar pelaku usaha mendapatkan predikat `bankable" atau layak dimodali bank.

Sebanyak 1.300 orang pelaku usaha telah mengikuti kegiatan ini per September 2017 di berbagai kota di Indonesia dari target 2.000 orang.

"Laporan keuangan merupakan alat ukur suatu usaha itu layak atau tidak untuk mendapat pinjaman modal oleh pihak bank. Namun sayang, saat ini baru sekitar 20 persen UMKM kreatif yang melakukannya," kata Eka.

Ia mengatakan sebagian besar pelaku usaha mikro ini belum memandang laporan keuangan sebagai komponen yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis. Terkadang mereka tidak memisahkan antara dana yang diperuntukkan untuk usaha dengan dana kebutuhan keluarga.

Menurut dia, ketidakadaan laporan keuangan ini menjadi salah satu penyebab UMKM kreatif kerap kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank, selain faktor lain seperti tidak adanya agunan dan belum memiliki rekam jejak.

Terkait agunan dan rekam jejak, pemerintah telah mengatasinya dengan menyediakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Asalkan usaha tersebut telah berjalan dan memiliki arus kas yang lancar maka berpeluang untuk mendapatkan pinjaman.

"Akan tetapi tetap saja membutuhkan suatu laporan keuangan untuk mengetahuinya. Bukan hanya itu, melalui laporan ini dapat dibuat perencanaan bisnis dan menilai neraca laba-rugi sesudah usaha," kata dia.

Pemerintah melalui Bank Indonesia telah membuat aplikasi berbasis android untuk laporan keuangan yakni siapik sesuai dengan standar akutansi.

Melalui aplikasi ini, pelaku usaha dapat mencatatkan berbagai transaksi yang terjadi sehingga dapat dijadikan acuan perbankan sebelum menyalurkan kredit.

"Jika bank meminta, tinggal langsung dicetak menjadi laporan keuangan," kata dia.

Sementara itu, kondisi saat ini belum ideal bagi pengembangan industri kreatif karena modal yang ada di negeri ini seluruhnya terkonsentrasi di perbankan sebesar Rp5.000 triliun dan modal ventura Rp10 triliun. Di sisi lain, usaha kreatif umumnya dilakukan anak muda yang belum memiliki aset dan rekam jejak. ***1***

Ridwan Chaidir

(T.D019/B/R010/R010) 12-09-2017 14:08:52

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga