Sabtu, 23 September 2017

Minamas plantation gandeng Unsri cegah karhutla

id Minamas Plantation, perkebunan sawit, pencegahan kebakaran hutan, Haryanto Tedjawidjaja
Minamas plantation gandeng Unsri cegah karhutla
Guru besar Universitas Sriwijaya Prof. Imron Zahri (kanan) bersama sejumlah narasumber yaitu Direktur Perlindungan Perkebunan Dudi Gunadi (kiri), Kepala Sekretariat Komisi ISPO Aziz Hidayat (dua kanan), dan GM PT Guthrie Pecconina Calim Sukmantoro (dua kiri) (ANTARA Sumsel/Feny Selly/17)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Perusahaan perkebunan sawit Minamas Plantation menggandeng para ahli dan peneliti dari Universitas Sriwijaya untuk menjalankan program pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Presiden Direktur PT Minamas Gemilang Haryanto Tedjawidjaja di Palembang, Rabu, mengatakan, para peneliti dan ilmuwan dari Universitas Sriwijaya akan berbagi pengetahuan dan keahlian dalam menemukan solusi tuntas bencana asap.

"Perwakilan dari Unsri akan melakukan kegiatan pendampingan dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Mereka langsung mengidentifikasi daerah rawan kebakaran dan faktor-faktor terjadinya pembakaran Iahan di desa mandiri peduli api sekitar konsesi," kata Haryanto seusai penandatanganan dokumen kerja sama.

Ia mengatakan pada akhir program akan ditemukan pendekatan tepat sasaran yang dapat dijadikan solusi jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya di Sumatera Selatan.

"Kami sebagai pemilik usaha perkebunan yang beroperasi di Musi Banyuasin, Musi Banyuasin tentunya harus berperan aktif dalam berbagai upaya pencegahan karhutla karena masalah ini demikian serius," kata dia.

PT Guthrie Pecconina Indonesia, yang merupakan anak perusahaan Minamas Plantation di Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan, akan memberdayakan lima desa, yaitu Desa Rantau Panjang, Desa Karang Ringin II, Desa Ulak Seberau dan Desa Karang Anyar di Kecamatan Lawang Wetan, serta Desa Gajah Mati di Kecamatan Sungai Keruh.

Hal serupa juga telah dilakukan bersama Universitas Riau dan Universitas Lambung Mangkurat dengan berhasil mencapai status zero-burning untuk sejumlah desa yang didampingi para peneliti.

Sistem yang diterapkan yakni membuat klaster penanganan kebakaran di tiap-tiap areal konsesi. Klaster-klaster tersebut terdiri dari beberapa desa rawan kebakaran yang dipimpin oieh leader (perusahaan yang memiliki konsesi terbesar di wilayah yang bersangkutan).

Pada program bersama Universitas Riau dan Universitas Lambung Mangkurat yang mencakup area seluas 45.543 ha dengan populasi penduduk sebanyak 36.034 jiwa didapatkan hasil positif.

Berdasarkan hasil survei diketahui terjadi pengurangan titik api yakni dari 40 titik pada 2013-2014 menjadi 1 titik api di tahun 2015-2016.

Sementara itu, langkah perusahaan yang melibatkan akademisi ini disambut positif Rektor Unsri Anis Saggaf.

"Kami dari akademisi sangat menyambut dengan tangan terbuka keinginan dari perusahaan untuk mengimplementasikan hasil penelitian para dosen dan mahasiswa. Selama ini bisa dikatakan pemanfaatan masih sangat minim," kata Anis.

Pemerintah mengembangkan sistem pencegahan kebakaran hutan dan lahan berbasis klaster yang menuntut keterlibatan semua pihak yakni pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Prabianto Mukti Wibowo dalam kesempatan yang sama mengatakan, dengan sistem yang baru ini, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak lagi dilakukan sendiri-sendiri seperti selama ini.

"Karhutla ini merupakan masalah yang sangat serius sehingga membutuhkan peran semua pihak. Dengan pencegahan berbasis klaster, perusahaan tidak lagi hanya berkewajiban mengawasi areal konsesinya tapi juga diwajibkan mengawasi desa-desa di sekitarnya," kata Prabianto dalam seminar bertema "Desa Mandiri Cegah Api" di Aula Pascasarjana Unsri.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga