Rabu, 18 Oktober 2017

Kenapa anak tak restui pernikahan orang tua ?

id pernikahan, orang tua tunggal, menikah, anak, jodoh, orang cina
Kenapa anak tak restui pernikahan orang tua ?
Ilustrasi- Pernikahan.(Ist)
....pengamat menyarankan masyarakat untuk menunjukkan sikap yang bisa menoleransi orang tua tunggal yang ingin mendapatkan kebahagian di sisa hidupnya....
Para orang tua di China terkenal sangat gigih mendorong anak-anak mereka yang sudah dewasa untuk segera menikah.

Sayangnya, saat para orang tua yang telah menjanda atau menduda tersebut ingin mendapatkan pasangan, maka anak-anak mereka justru sangat tidak suka.

Chen, duda berusia 71 tahun asal Nanning, Daerah Otonomi Khusus Guangxi Zhuang, ditinggal mati istrinya sejak empat tahun lalu.

Saat merasa sendiri, dia berusaha mencari pasangan untuk menghabiskan masa liburan pertengahan musim gugur seperti sekarang ini.

Namun dia tidak mengira pasangan barunya itu justru ditentang keras oleh ketiga anaknya yang sudah dewasa, satu perempuan dan dua pria.

Dia tidak berani melamar perempuan sebayanya yang baru ditemui karena takut ditolak anak-anaknya.

Oleh karena itu, dia dan perempuan bernama Lu bersepakat hidup bersama dalam untuk pertemanan saja agar bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing.

Tidak hanya Chen, melainkan banyak pria dan perempuan tua di China yang mengalami nasib serupa.

Menurut data statistik salah satu agen perjodohan di Provinsi Jiangxi, lebih dari 80 persen orang lanjut usia yang hidup melajang menginginkan pernikahan sekali lagi. Ironisnya, 60 persen dari mereka gagal mendapatkan restu dari anak-anak mereka, demikian laporan Global Times yang dipantau Antara di Beijing, Jumat.

Agar tidak menyinggung perasaan anak, keputusan Chen dan Lu untuk hidup bersama merupakan langkah kompromi yang banyak ditempuh oleh para usia lanjut saat menghadapi dilema seperti itu.

    
          Kesulitan
Sebelum berpindah ke pelukan Lu, Chen menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan untuk berargumentasi dan berunding dengan anak-anaknya agar merestui pernikahannya kembali.

Namun saat anak bungsunya yang paling perhatian terhadapnya punya pendapat lain, Chen kembali menahan keinginannya agar tidak menimbulkan kesulitan di belakang hari.

"Ini bukan berarti kami tidak memahami atau kami tidak berbakti kepada orang tua. Bukankah dia tidak ingin anaknya kesusahan?" ujar anak bungsu Chen kepada harian yang berafiliasi dengan partai berkuasa di China itu.

"Setelah menikah, mereka harus hidup bersama dan di situ timbul persoalan pembagian harta. Saya tidak punya waktu untuk urusan begini," katanya menambahkan.

         Tidak demikian dengan Chen.

"Mereka tidak tahu kalau saya sendiri. Mereka semua punya keluarga masing-masing dan saya tinggal sendirian di apartemen lawas. Saya tidak bisa mengandalkan mereka saat sakit. Almarhumah istri saya tentu merestui (pernikahannya kembali), tapi saya tidak tahu mengapa si bungsu tidak," ujarnya.  

Chen belum lama ini mengalami stroke. Suatu saat dia kelelahan sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Lalu dia telepon anak-anaknya, tapi mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Akhirnya Lu datang membantu untuk menunjukkan perhatian.

"Jika saya harus menunggu anak-anak pulang kerja agar bisa mengambilkan segelas air minum, saya bisa mati kehausan!" ujarnya.

Apa yang dia alami itu mendorongnya untuk menikah. Tapi lelaki bungsunya mengatakan bahwa dia dan saudara-saudaranya siap membantu ayah mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kami berbakti kepada orang tua dan tidak akan meninggalkannya sendirian," ujar si bungsu menanggapi insiden yang pernah dihadapi ayahnya itu.

"Kami akan mencarikan seorang pembantu atau meminta tolong tetangga agar semua kebutuhannya bisa teratasi," katanya.

            
              Warisan
"Dia merasa sendiri karena yang dia pikirkan terlalu banyak," kata si bungsu geram.

"Jika dia tidak selalu kepikiran nikah lagi, dia tidak akan segalau ini. Dan jika dia menikah lagi, dia tidak akan mendapatkan kedamaian di sisa hidupnya. Berbagai persoalan, seperti konflik keluarga, sengketa harta, dan lain-lain akan timbul. Di situ dia akan berpikir bahwa langkah yang diambilnya salah," ujar Chen junior.

Chen senior mempelajari undang-undang tentang hak-hak lansia dan berusaha menunjukkannya kepada anak-anaknya bahwa dia punya hak untuk menikah lagi.

"Tapi saat saya menunjukkan pasal undang-undang tersebut, dia hanya melihatnya sekilas. Dia hanya menunjukkan sikap tidak sependapat dan mengatakan kalau saya bersikeras menikahi Lu, saya harus menerima segala konsekuensinya," tuturnya.

"Dia mengancam saya. Akhirnya saya memutus kontak dengannya selama beberapa hari," tambah Chen.

Putranya itu sangat khawatir akan pembagian harta dengan Lu yang bisa saja mengantarkan ayahnya dalam kesedihan.

"Berarti ini hanya masalah harta dan mereka tidak memedulikan saya," kata Chen.

Banyak terjadi perselisihan soal harta warisan antara anak dan orang tua di China yang menikah lagi secara diam-diam tanpa sepengetahuan dan restu anak-anak mereka.

Jin, pria berusia 80 tahun yang tinggal di Beijing, kasusnya diangkat oleh Legal Daily. Dia ingin mendapatkan pasangan baru namun tidak ingin berisiko dengan ketiga anaknya yang sangat berbakti kepadanya.

"Ini soal uang. Mereka semua khawatir kalau perempuan yang saya temukan nanti hanya sayang dengan uang saya. Kekhawatiran ini sangat wajar, tapi juga harus ditunjukkan kepada mereka bahwa semua menginginkan pembagian harta," kata Jin.

"Setelah saya meninggal, apartemen ini harus dijual jutaan yuan," ujarnya menambahkan.

Huang Donghui, dosen Henan University yang memiliki spesialisasi Marxisme, suatu ketika berbicara kepada harian sore Bianliang, bahwa intinya ada dua alasan kenapa anak yang sudah dewasa tidak ingin orang tuanya yang sudah usia lanjut menikah lagi.

Pertama, mereka khawatir pernikahan tersebut mengacaukan pembagian harta. Dan kedua, mereka tidak ingin terbebani.

Mengatasi keterbatasan kemampuan fisik kedua orang tua akan menambah beban pengeluaran dan membuat emosi anak-anak yang sudah dewasa, khususnya terhadap orang tua yang bukan darah dagingnya sendiri.

"Sekarang saat dia menikah, apakah dia mengizinkan jasad istri barunya dimakamkan bersama almarhumah ibu saya? Lalu bagaimana kami saat menziarahinya? Kenapa tidak berpikiran seperti itu?" tanya Chen junior.

    
          Kompromi
Karena tidak ingin mengecewakan anak-anaknya, banyak pasangan lansia hanya hidup bersama untuk mengompromikan berbagai persoalan.

Li Fugui dan Zhang Yue'e dari Yinchuan, Daerah Otonomi Khusus Ningxia Hui, mungkin bisa menjadi contoh pasangan baru lansia yang hidup bersama.

Zhang tinggal di apartemen Li untuk menghindari konflik kepemilikan harta benda. Zhang membayar 1.200 RMB (Rp2,5 juta) setiap bulan kepada Li untuk keperluan sehari-hari. Jika salah satu dari mereka sakit, maka yang lain harus memberikan perawatan.

Chen dan Lu juga berusaha hidup bersama  tanpa komitmen apa pun. Walau begitu, Lu diam-diam menerima keadaan seperti itu untuk pertemanan.

Data statistik Komisi Nasional Lansia China (NWCA) menunjukkan bahwa jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun telah mencapai angka 222 juta. Pada 2020 angka itu diperkirakan meningkat hingga 248 juta dan jumlah lansia di daratan Tiongkok mencapai 17,17 persen dari total populasi. Jumlah penduduk berusia di atas 80 tahun juga mencapai 30,67 juta pada 2020.

Banyak lansia yang memilih hidup seatap tanpa surat nikah karena berbagai alasan. Namun Luo Qiangqiang, profesor hukum Ningxia University, mengingatkan bahwa tanpa payung hukum, hidup bersama tidak menjamin hak-hak yang kelak mereka butuhkan.

Sengketa harta sangat mungkin terjadi. Para lansia juga punya persoalan tentang norma, kondisi kesehatan, dan lain-lain.

Oleh karena itu para pengamat menyarankan masyarakat untuk menunjukkan sikap yang bisa menoleransi orang tua tunggal yang ingin mendapatkan kebahagian di sisa hidupnya.

Undang-undang di China sudah jelas melindungi kebebasan mereka untuk menikah. Namun persoalan pembagian harta warisan, pengacara Chen Wubin menyebutkan dua hal yang perlu didaftarkan ke notaris, yakni harta yang diperoleh sebelum menikah dan persetujuan dengan anak-anak kedua mempelai untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.

"Memang pencatatan harta di notaris tidak mengenakkan, tapi nyatanya dapat mengatasi persoalan utama kehidupan mereka setelah menikah," ujarnya.

Editor: Ujang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga