Selasa, 17 Oktober 2017

"Dwelling Time" jangan lebih tiga hari

id pelabuhan, dwelling time, pelindo, Elvyn G Masassya, jokowi, menhub,
Ilustrasi---Aktivitas terminal konvensional non peti kemas di pelabuhan sungai Bom Baru Palembang (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Direktur Utama Perseroan Terbatas Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Elvyn G Masassya mengatakan "dwelling time" atau waktu tunggu bongkar muat peti kemas di pelabuhan pada saat ini sudah berada di bawah tiga hari.

"Pelabuhan Tanjung Priok sudah beroperasi 'inaportnet' sejak akhir tahun lalu sehingga pengurusan barang semuanya 'online'," kata Elvyn dalam acara diskusi yang digelar di Kampus IPMI, Jakarta Selatan, Rabu.

Menurut Elvyn, pada saat ini kapal-kapal yang tiba di pelabuhan sudah tidak lagi menggunakan dokumen fisik dalam proses pengeluaran barang yang dilakukan di pelabuhan.

Selain itu, ujar dia, sistem pembayaran pada saat ini juga tidak menggunakan uang tunai dan para pengguna jasa pelabuhan bisa memanfaatkan layanan e-billing yang dapat dicetak di kantor masing-masing.

"Sudah ada sistem pembayaran yang terintegrasi dengan 18 kementerian/lembaga serta Indonesia Nasional Single Window (INSW)," paparnya.

Ia juga mengatakan perseroan membutuhkan lebih banyak SDM yang profesional dalam mengelola pelabuhan sehingga "dwelling time" bisa dipangkas lebih signifikan.          

Apalagi, lanjut Elvyn, pemerintah menargetkan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menjadi pelabuhan "transhipment" (alih muatan) terbesar di kawasan Asia.

Sebelumnya, Ketua Komisi VI DPR RI Teguh Juwarno mengingatkan konektivitas antar daerah di Indonesia yang terpisah lautan bisa meminimalkan disparitas harga kebutuhan pokok masyarakat di daerah yang jauh dari pusat.

"Ini kalau tidak dilakukan pengembangan maka nanti yang terjadi akan 'stuck' (macet) pelayanannya. Kemudian 'dwelling time' (waktu bongkar muat), akan bisa menjadi masalah lagi," katanya.

Politisi PAN itu mengingatkan bila beragam permasalahan tersebut tidak segera dibenahi maka ujungnya juga bisa menurunkan tingkat kompetitif atau daya saing usaha nasional.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam sejumlah kesempatan telah meminta percepatan pembangunan infrastruktur supaya konektivitas ke seluruh penjuru tanah air bisa terealisasikan dengan cepat.

Editor: Dolly Rosana

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga