Rabu, 18 Oktober 2017

Kebiasaan buang air besar di sungai

id jamban, buang air besar, sungai, pemukiman kumuh, wc, mck
Kebiasaan buang air besar di sungai
Ilustrasi (FOTO ANTARA Sumsel)
....Kesadaran atas kesehatan ini masih kurang, kita sudah 72 tahun merdeka masih banyak yang belum punya jamban....
Sabtu (6/10) siang itu, Lapangan Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak,Jawa Tengah dipenuhi warga sekitar serta perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang mengikuti acara puncak peringatan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga).

Di sebelah kanan dan kiri podium utama yang berisi kampanye pemberian obat pencegahan massal penyakit kaki gajah terdapat spanduk berwarna hijau bertuliskan "Ojo Ngising Sembarangan! Ngising Ning Kakus!" (jangan buang air besar sembarangan, buang air besar di WC).

Kebiasaan buang air besar sembarangan dikeluhkan Bupati Demak M Natsir masih menjadi masalah sanitasi di Demak.

Sebagian besar warga tidak memiliki jamban di rumahnya sehingga memilih buang air besar di sungai.

Natsir menuturkan masih terdapat 26.691 rumah tangga di Demak yang belum memiliki fasilitas tempat buang air besar.

Dari 249 desa dan kelurahan di Kabupaten Demak, ia memaparkan hanya 50 desa saja yang tercatat bebas buang air besar sembarangan.

Ia selanjutnya memperkenalkan program yang digadang-gadangnya untuk mengatasi masalah itu, yakni sedekah jamban untuk keluarga miskin yang belum mempunyai jamban di rumahnya.

"Siapa pun boleh menyumbang jamban, pejabat, polisi, TNI dan Polri, silakan saja, wartawan juga boleh menyumbang. Sumbangan itu nantinya kita sampaikan kepada keluarga yang kurang mampu atau tidak memiliki jamban," kata dia.

Jumlah rumah warga yang sudah memiliki toilet untuk buang air besar tercatat sejumlah 86.196 rumah, sedangkan yang memiliki tempat buang air besar bersama sebanyak 30.712 keluarga. Ia menambahkan jumlah yang memanfaatkan tempat buang air besar umum 6.759 rumah tangga.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir dalam acara tersebut saat berada di podium untuk memberikan sambutan tanpa basa basi langsung menanyakan warga yang belum mempunyai jamban.

Tidak ada yang mengangkat tangan. Warga Jatisono malu untuk mengangkat tangan sehingga Ganjar agak mendesak dengan menanyakan lagi warga yang rumahnya tidak terdapat WC serta mengiming-imingi akan dibuatkan jamban untuk yang mengaku.

Tidak lama beberapa warga mengangkat tangan dan Ganjar menunjuk satu perempuan muda untuk maju ke panggung.

Setelah ditanya sedikit tentang biodatanya, diketahui perempuan tersebut bernama Hani, sudah menikah namun tidak memiliki jamban di rumahnya.

"Terus buang airnya di mana?" tanya Ganjar.

"Buat jumbleng, Pak," jawab Hani.

"Jumblengnya di depan atau di belakang?"
"Di belakang rumah," ucap Hani.

"Jumblengnya ada kolamnya nggak?"
"Tidak"
"Oh tidak, cuma jumbleng begitu saja, cuma dibolongi gitu lho, terus buang di situ. Kenapa belum buat jamban?"
"Masih nabung, belum punya uang"
Usai menanyai warga, ia mengatakan kebiasaan buang air besar di sungai tidak pantas untuk dilihat, tidak sehat dan penyebab lingkungan kotor.

Ganjar lanjut menanyai ibu-ibu paruh baya yang juga diminta maju ke podium. Ibu paruh baya itu bernama Asminah dan mengaku menumpang di WC rumah anaknya jika ingin buang air besar.

Setali tiga uang, Asminah yang berprofesi sebagai petani itu juga tidak memiliki WC di rumahnya karena tidak mempunyai uang untuk membangun jamban.

"Besok bikin WC ya, Bu," kata Ganjar.

"Mana uangnya, Pak," sahut Asminah sambil menengadahkan tangan ke arah gubernur yang menjabat mulai 2013 itu.

Warga Jatisono selanjutnya yang ditanyai Ganjar di panggung bernama Rofiatun. Dia mengaku setiap hari buang air besar di sungai.

Tidak melanjutkan menanyai tiga perempuan yang berdiri berjajar di belakang Rofiatun, Ganjar justru meminta Kepala Desa Jatisono untuk maju ke depan.

"Pak kades sini Pak Kades. Mana ini tanggung jawab dunia akhirat seperti ini. Pak kades ini warga sini semua ya? Memang kira-kira tidak mampu ya?" tanya dia yang diiyakan kepala desa.

Untuk mengatasi masalah yang sudah dibuka ke hadapan khalayak itu, Ganjar berjanji akan membantu warga tersebut membuat toilet di rumahnya agar tidak lagi buang air besar sembarangan.

Pria yang rambutnya sudah memutih itu berpesan agar WC dibangun dengan bergotong-royong melibatkan warga.

"Itu dicatati namanya. Awas ya kalau masih buang air besar di kali. Malu-maluin waris," ucap dia.
    
           Kesadaran kesehatan
Menanggapi usulan Gubernur Jawa Tengah untuk membangun jamban secara gotong-royong, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek sang empunya acara menilai sedekah jamban disertai pembangunan bersama dapat membuat warga mengerti bahwa kesehatan dan sanitasi merupakan hal yang penting.

"Kesadaran atas kesehatan ini masih kurang, kita sudah 72 tahun merdeka masih banyak yang belum punya jamban. Gotong royong di bidang kesehatan ini penting, seperti sedekah jamban," tutur dia.

Menurut dia, selama ini kesehatan selalu dilihat di hulu, sementara kesadaran kesehatan masyarakat masih kurang. Diperkirakan warga yang memiliki kesadaran kesehatan hanya 20 persen.

Tidak hanya buang air besar sembarangan terkait kesadaran kesehatan, Menkes mengingatkan pada calon ibu untuk merencanakan kehamilan dan memperhatikan gizi selama hamil agar mendapatkan anak yang berkualitas.

Mengabaikan gizi saat hamil dapat berakibat pada anak menjadi kerdil dan kemampuan otaknya rendah. Bahkan di Indonesia empat dari 10 anak kepandaiannya diragukan.

Menkes menuturkan secara keseluruhan pemerintah menargetkan 80 persen masyarakat sehat untuk membangun mayarakat yang kuat.

"Indeks pembangunan manusia pertama kesehatan kalau tidak sehat mana bisa berpendidikan. Makanan sudah sehat? Jajanan bagaimana? Jadi mulai dari kita sendiri," tutur Menteri Nila.

Editor: Indra Gultom

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga